WAWANCARA /ABK Yilan di-PHK sepihak setelah alami kecelakaan kerja, diketahui leukemia

03/06/2026 15:28(Diperbaharui 03/06/2026 15:28)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

(Sumber foto: CNA)
(Sumber foto: CNA)

Oleh Mira Luxita, staf reporter CNA

Sungguh miris nasib yang dialami oleh Yudi (nama samaran), anak buah kapal (ABK) Yilan yang diturunkan dari kapal dan dipaksa menandatangani pemutusan kontrak usai mengalami kecelakaan kerja. Agensi pun tak mau menampungnya. Yudi pun dilaporkan ke shelter (tempat penampungan) di Zhongli Taoyuan. Beberapa hari setelah ditampung, baru diketahui kalau Yudi mengidap kanker darah atau leukemia dengan stadium yang parah, ujar Yudi saat diwawancarai CNA.

Kecelakaan kerja, malah di-PHK 

Yudi, ABK Yilan yang berusia 30 tahun asal Indramayu, awalnya dilaporkan oleh salah satu pemilik toko Indonesia ke shelter Serve the People Association (SPA) karena ia terkena masalah pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak dari majikannya. Yudi yang saat itu diwawancarai oleh CNA bersama Lina, aktivis SPA menuturkan bahwa ia awalnya mengalami kecelakaan kerja, tangannya terluka karena kail ikan. Agensi tidak mau membawa ke rumah sakit, akhirnya dia sendiri yang pergi ke klinik terdekat. Dia bilang ke majikan untuk tidak bisa bekerja sementara karena kecelakaan tersebut, tetapi majikan marah dan memecatnya.

Menurut penuturan Lina, setelah Yudi dilaporkan ke shelter, Lina memintanya untuk naik taxi ke shelter SPA untuk dibantu. Setibanya di shelter, diketahui kalau Yudi juga sudah kehabisan uang sampai tidak bisa membeli makanan. Lina membantu Yudi untuk melapor ke 1955 laporan darurat pada pukul 11 malam. 

Sering mimisan, demam dan lemas

Setelah beberapa hari di shelter, Lina melihat kondisi kesehatan Yudi yang buruk. Setiap minggu, anggota shelter biasanya mengadakan kerja bakti bersama, dan saat bersih-bersih bersama, Lina melihat keadaan Yudi sangat pucat. Ia mengira jika Yudi kurang makan dan kelelahan. 

Menurut teman sekamarnya, Yudi sering mimisan dan matanya sering lelah dan demam. Lina kemudian meminta rekannya untuk membawa Yudi ke klinik terdekat untuk dicek kesehatannya. Saat diperiksa ke klinik, tekanan darah Yudi sangat rendah dan disarankan untuk berobat ke rumah sakit besar. 

Di sebuah rumah sakit besar di Taoyuan, Yudi disarankan oleh dokter untuk menerima transfusi darah sebanyak lima kantong dan hasil tesnya menunjukkan bahwa ia harus dirujuk lagi ke rumah sakit yang lebih besar untuk dilakukan tes. Dari hasil pengecekan di rumah sakit Linkou baru diketahui kalau Yudi selama ini mengidap kanker darah atau leukemia.

“Kami di sini benar-benar kaget karena dokter mengatakan bahwa kankernya sudah ada di stadium yang parah. Kami juga saat itu bingung karena ia tidak punya uang sama sekali sedangkan dokter mengatakan ia harus segera dioperasi dengan biaya yang besar. Kami pihak shelter berdiskusi untuk mencarikan donasi bantuan untuk biaya pengobatannya,” ujar Lina.

Lina lantas membawa Yudi untuk berobat ke salah satu rumah sakit terbesar di Taipei. Pada saat itu, Lina juga kembali membuat laporan ke Depnaker Yilan, tetapi karena kesalapahaman, Depnaker Yilan menyarankan untuk menghubungi Depnaker Keelung mengingat wilayah kerja Yudi masih di bawah naungan Depnaker Keelung.

“Awalnya saat saya telepon Depnaker Keelung, mereka tidak menyetujui Yudi tinggal di shelter karena mereka mendapat laporan jika Yudi atas kemauan sendiri untuk keluar kerja, bukan di-PHK,” kata Lina. Namun setelah dijelaskan oleh Lina cerita yang sesungguhnya, dan Yudi mengidap kanker yang memerlukan perawatan, akhirnya Depnaker Keelung menyetujui Yudi untuk tinggal di shelter.

Dirawat di ICU selama tiga bulan

Yudi dirawat di rumah sakit dan memerlukan jasa perawat untuk menjaganya. Dikarenakan shelter tidak dapat mempekerjakan tenaga perawat orang Taiwan yang mahal, maka mereka memutuskan untuk mendatangkan ayah Yudi ke Taiwan untuk menjaganya. Namun karena keduanya tidak bisa berbahasa Mandarin, maka sempat ada kendala dalam berkomunikasi di rumah sakit tersebut. 

Yudi sempat dirawat di ICU (ruang perawatan intensif) selama tiga bulan dan melakukan operasi tulang sumsum, dan harus mendapatkan donasi tulang sumsum yang sesuai dengannya. Di keluarganya tidak ada yang cocok, jadi butuh pendonor yang mau memberikan donor tulang sumsum. Akhirnya ada dua orang Taiwan yang rela menyumbangkan tulang sumsumnya. Namun ada kendala setelah operasi karena tulang sumsum bukan dari genetik keluarganya jadi ada beberapa kendala seperti reaksi dari tubuhnya yang sering mual dan ada beberapa reaksi lainnya yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Saat CNA bertanya pada Yudi apa harapannya, ia mengatakan jika ingin pulang ke Indonesia segera. Namun menurut penuturan Lina, ia ingin Yudi tetap bisa tinggal di Taiwan yang dibantu untuk dicarikan pekerjaan karena kondisi Yudi kini telah membaik.

“Saya ingin pulang ke Indonesia. Ingin istirahat dulu sampai kondisi fisik saya benar-benar siap untuk bekerja kembali,” ujar Yudi.

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.