Dua warga Taiwan yang terjebak di Israel di tengah konflik berhasil capai Yordania

03/03/2026 11:45(Diperbaharui 03/03/2026 11:45)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Dua warga negara Taiwan yang sebelumnya terjebak di Israel tiba di perbatasan Yordania pada Senin dengan bantuan kantor perwakilan Taiwan di Israel. (Sumber Foto : Kementerian Luar Negeri)
Dua warga negara Taiwan yang sebelumnya terjebak di Israel tiba di perbatasan Yordania pada Senin dengan bantuan kantor perwakilan Taiwan di Israel. (Sumber Foto : Kementerian Luar Negeri)

Taipei, 3 Mar. (CNA) Dua warga negara Taiwan yang sebelumnya terjebak di Israel akibat meningkatnya ketegangan regional telah tiba dengan selamat di Yordania melalui kendaraan yang diatur pemerintah, kata Kementerian Luar Negeri (MOFA) pada Senin (2/3).

Kedua warga Taiwan tersebut meminta bantuan kantor perwakilan Taiwan di Israel untuk beranjak karena penerbangan mereka dibatalkan dan mereka khawatir akan keselamatan mereka akibat konflik regional yang dipicu serangan Amerika dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan.

Dengan kedua warga negara tersebut di dalamnya, kendaraan yang diatur kantor perwakilan berangkat dari Israel dan tiba dengan selamat di perbatasan Yordania pada Senin pagi waktu setempat, kata MOFA dalam siaran pers.

Mereka disambut seorang diplomat dari kantor perwakilan Taiwan di Yordania. Kantor tersebut akan membantu keduanya mengambil langkah selanjutnya, apakah akan kembali ke Taiwan atau melanjutkan perjalanan ke negara lain, kata MOFA hari Senin.

Selain dua kasus ini, kantor perwakilan Taiwan di Timur Tengah akan terus membantu warga negara yang ingin meninggalkan kawasan tersebut, kata MOFA.

Kementerian hari Minggu mengatakan bahwa mereka telah menghubungi sekitar 3.000 warga negara Taiwan di kawasan itu, termasuk lebih dari 260 di Israel, dan semuanya dalam keadaan aman.

Sebelumnya, seorang pelaku usaha industri teknologi asal Taiwan yang sedang menginap di dekat Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain saat serangan balasan Iran menghantam pada Sabtu membagikan pengalamnnya kepada CNA di hari yang sama.

Asap membubung dari sebuah jalan di Bahrain setelah serangan rudal dan drone Iran pada Sabtu. (Sumber Foto : Warga Taiwan yang sedang di Bahrain)
Asap membubung dari sebuah jalan di Bahrain setelah serangan rudal dan drone Iran pada Sabtu. (Sumber Foto : Warga Taiwan yang sedang di Bahrain)

Ia mengatakan, saat ledakan pertama terdengar, "Getarannya seperti gempa." Setelahnya, hampir tidak ada yang berani tetap tinggal di dalam gedung, dan di depan lift dipenuhi penghuni, banyak yang menyeret koper dan membawa keluarganya untuk melarikan diri.

Sistem pemesanan kendaraan juga kacau, dengan tarif Uber melonjak lima kali lipat dan kendaraan tercepat  baru bisa tiba dalam 30 menit, sementara pengemudi berkali-kali membatalkan perjalanan, ujarnya.

Ia menggambarkan asap tebal terus membumbung di jalanan, kendaraan membunyikan klakson tanpa henti, orang-orang berlari ke arah berlawanan dari markas AS, banyak polisi turun ke jalan untuk menjaga ketertiban, dan hampir semua toko tutup.

Karena situasi, meski telah susah payah sampai di lantai dasar gedung, ia hari itu tidak bisa meninggalkan kota dan hanya bisa kembali ke penginapannya untuk menunggu perkembangan situasi.

Di sisi lain, seorang seorang eksekutif perusahaan Taiwan yang telah menetap lebih dari lima tahun di Dubai menyampaikan kepada CNA bahwa ia tidak berani melangkah keluar rumah setelah menerima peringatan darurat melalui ponsel pada Sabtu.

Hingga Minggu sore, suara ledakan dari sekitar pelabuhan masih terdengar jelas, tetapi ia sempat mengambil risiko keluar untuk mengamati situasi, ucapnya.

Pemandangan dari jendela gedung di Dubai, Uni Emirat Arab. (Sumber Foto : Warga Taiwan di Dubai)
Pemandangan dari jendela gedung di Dubai, Uni Emirat Arab. (Sumber Foto : Warga Taiwan di Dubai)

Suasana di Carrefour masih relatif tenang pada Minggu pagi, tetapi pada sore hari sudah dipadati lautan manusia. Gelombang aksi borong membuat antrean panjang kendaraan dan orang yang cemas menunggu masuk ke pusat perbelanjaan, khawatir esok hari tidak lagi ada makanan, ujarnya.

Di toko langganannya, ia juga saling bertukar pengalaman langsung tentang "perang" dengan para pegawai. Menurutnya, di mata mereka terpancar emosi kompleks yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Namun, ia mengatakan dirinya tidak punya waktu untuk merasa takut. Sebagai pimpinan senior perusahaan, ia pada Minggu segera melaporkan situasi setempat kepada kantor pusat di Taiwan, mengoordinasikan kerja dari rumah, serta menenangkan pelanggan dan pemasok.

Ia juga segera berkoordinasi dengan komunitas warga Taiwan di Dubai dan kantor perwakilan Taiwan di Uni Emirat Arab, serta memastikan jalur komunikasi antarpengusaha Taiwan tetap terbuka.

Setelah melewati hari pertama di tengah situasi perang, ia memotivasi dirinya untuk mempersiapkan diri menghadapi lingkungan yang tak terduga ke depannya.

(Oleh Joseph Yeh, Chung Yu-chen, Shih Wan-ching, dan Jason Cahyadi)

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.