Taipei, 3 Feb. (CNA) Pihak pemberi kerja menghadapi dua tuntutan tanggung jawab pidana berdasarkan Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja setelah pekerjanya, seorang remaja di bawah umur, tewas tergilas masuk ke dalam mesin di Taipei Fishery Marketing, kata otoritas ketenagakerjaan kota pada Senin (2/2).
Menurut otoritas Taipei, insiden terjadi pada 31 Januari sekitar pukul 6 sore di Jalan Wanda, Distrik Wanhua. Korban, perempuan bermarga Yeh (葉) (17), sedang mengoperasikan mesin styrofoam ketika tubuhnya tergilas masuk ke dalam mesin.
Petugas medis yang tiba di lokasi segera mengevakuasi korban, tetapi ia sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Kepolisian telah menetapkan penanggung jawab perusahaan, seorang pria bermarga Liu (劉) (55), sebagai tersangka atas dugaan kelalaian yang menyebabkan kematian.
Departemen Ketenagakerjaan Kota Taipei menjelaskan bahwa kecelakaan kerja fatal ini terjadi pada kontraktor luar perusahaan pemasaran ikan tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan pemberi kerja diduga melanggar peraturan keselamatan kerja yang berujung pada konsekuensi pidana, kata mereka.
Menurut peraturan, pemberi kerja wajib memastikan mesin dalam kondisi berhenti total saat pekerja mengambil isi dari mesin penghancur atau pencampur. Namun, dalam kasus ini, mesin tetap beroperasi, yang melanggar Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, kata departemen tersebut.
Mengingat insiden ini menyebabkan kematian pekerja, kata Departemen Ketenagakerjaan, pemberi kerja kini terancam hukuman penjara maksimal tiga tahun, kurungan di rumah tahanan, atau denda hingga NT$300.000 (Rp159,17 juta).
Selain itu, pemberi kerja terbukti melanggar pasal lainnya di Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang melarang anak di bawah umur melakukan pekerjaan berbahaya seperti membersihkan atau memeriksa bagian mesin yang sedang bergerak, kata departemen tersebut.
Pelanggaran ini membawa konsekuensi pidana tambahan dengan ancaman hukuman penjara maksimal satu tahun, kurungan di rumah tahanan, atau denda hingga NT$180.000, menurut departemen tersebut.
(Oleh Yang Shu-min dan Agoeng Sunarto)
Selesai/JC