Taipei, 27 Nov. (CNA) Permasalahan yang dialami pekerja migran asing (PMA) di Taiwan terjadi karena desain sistem yang membuat mereka terisolasi, perjuangan untuk bersuara akan semakin terdengar dengan solidaritas antara PMA dan pelajar serta pendekatan budaya, kata Migrante dalam Asia Citizen Future Week: Taiwan and Southeast Asia Civic Space Forum 2025 yang digelar di Taipei, Rabu (26/11).
Julia Mariano, sekretaris jenderal Migrante Taiwan, organisasi yang fokus pada isu PMA di Taiwan, menyebut PMA telah terisolasi secara sistem. Hal ini membuat mereka cenderung pasrah pada kondisi kerja yang buruk karena dilema antara takut kehilangan kerjaan dan kondisi di negara asal yang juga tak memberi banyak peluang kerja.
Menurut Julia, permasalahan PMA sering dilihat sebagai masalah individu alih-alih sistemis. Bahkan oleh PMA itu sendiri. Oleh karena itu, aktivis asal Filipina ini menyebut perlunya PMA berserikat dan pelajar sebagai kalangan intelektual yang punya lebih banyak pilihan dan kebebasan, harus bersolidaritas dengan gerakan PMA.
“Oleh karena itu, pelajar dan PMA perlu ambil bagian dalam perjuangan ini,” kata Julia.
Julia menambahkan, perkembangan serikat yang dipimpin oleh migran di Taiwan saat ini juga menunjukkan progres yang amat baik. Dari kalangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) misalnya ada Serikat Buruh Industri Perawatan Taiwan (SBIPT) dan Serikat Buruh Industri Manufaktur (SEBIMA).
Namun, bukan berarti hal ini juga tanpa tantangan. Terkini, serikat buruh Taidoc Technology Labor Union dari Perusahaan alat kesehatan TaiDoc Technology Corp. disebut mengalami pembungkaman dari perusahaan, meski perusahaan dalam keterangan terpisah telah membantahnya, ujarnya.
Kendati demikian, Julia menyebut, kesuksesan serikat yang didirikan oleh migran akan memicu PMA lain untuk ikut ambil bagian dalam serikat dan sama-sama memberdayakan serta mempelajari akar masalah.
“Sementara untuk pelajar, kami juga akan jadi pekerja. Kami punya keuntungan dari perjuangan ini sehingga di masa depan lebih menikmati hak yang lebih baik dan kondisi kerja yang baik,” kata Julia.
Adapun tentang aktivitas budaya, Julia menyebut hal ini juga tak kalah penting karena kegiatan kultural bisa mengubah narasi orang lain pada migran. Ia mencontohkan, program One Billion Rising March yang kerap digelar Migrante di mana mereka mengokupasi Taipei Main Station, tempat berkumpul para migran di akhir pekan, sebagai ruang menari massal sambil menyuarakan perlawanan pada kekerasan terhadap perempuan.
"Jadi kami juga tidak hanya melakukan kegiatan serius seperti diskusi, tapi kami juga menari, karaoke di acara Natal kami, ya merayakan diri kita saja sebagai sesama migran," kata Julia kepada CNA.
Tidak mudah, tapi bisa
Julia tak memungkiri, mengorganisir gerakan pelajar migran dengan pekerja migran bukan hal yang mudah, mengingat masalah yang dihadapi juga berbeda antara satu dengan yang lain. Kendati begitu, selalu ada jalan, apalagi mengingat bagaimana pun kita sebagai perantau akan selalu terhubung dengan negara asal kita dan kita juga akan menjadi pekerja di masa depan.
"Jadi kamu tidak perlu langsung mengkampanyekan hak mereka, ya ikuti saja acara dan pesta mereka. Itu sudah cukup," kata Julia seraya menambahkan mendukung perjuangan pekerja juga mendukung perjuangan diri kita sendiri karena suatu saat, siapapun kita, akan menghadapi situasi yang juga dihadapi oleh pekerja.
Ia juga menilai keterlibatan ini akan membawa pelajar pada kesadaran dan lebih banyak pengakuan yang jujur pada perjuangan migran. "Dan bahkan ketika perjuangan mereka berbeda dengan perjuangan kita sehari-hari, kita harus terus belajar dan lebih banyak mengetahui mereka. Karena pada dasarnya toh kita merantau ke luar negeri punya alasan yang sama: Untuk hidup yang lebih baik. Lalu pada akhirnya sistem yang setara akan memberi banyak keuntungan bagi semua," kata Julia.
Tentang ACFW
Asia Citizen Future Week (ACFW) adalah forum tahunan yang diinisiasi oleh Asia Citizen Future Association (ACFA), organisasi sosial di Taiwan yang didirikan pada tahun 2022 dengan misi menghubungkan Taiwan dan Asia Tenggara untuk mempertahankan ruang sipil di kawasan tersebut melalui penelitian dan advokasi, pendidikan dan pelatihan, pemberdayaan pemuda, dan pembangunan platform.
ACFW berfungsi sebagai platform bagi organisasi masyarakat sipil (OMS) dan para pemangku kepentingan untuk berdiskusi, berkolaborasi, dan memulai aksi bersama yang bertujuan mempertahankan ruang sipil di Taiwan dan Asia Tenggara dan diselenggarakan sejak 2023.
Dalam ACFW tahun ini sejumlah tren-tren regional yang mendesak, termasuk pembatasan yang berkelanjutan terhadap kebebasan berserikat, penggunaan sistem peradilan untuk mempercepat pemulihan otoriter dan militerisme, serta meningkatnya risiko yang dihadapi oleh para pembela hak asasi manusia yang bekerja di kawasan ini menjadi bahasan utama.
ACFA menyatakan, sementara Asia saat ini kekurangan mekanisme regional untuk melindungi para pembela hak asasi manusia. "Forum ini akan mendorong pertukaran dan interaksi antar-LSM lintas-regional, pembela hak asasi manusia, akademisi, pengacara, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya, memperdalam pemahaman tentang tantangan terkini di antara peserta Taiwan, Asia Tenggara, dan internasional, serta mendorong kerja sama lintas-regional," kata ACFA.
ACFW kali ini turut dihadiri oleh Azlia Amira Putri dan Dimas Bagus Arya dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dari Indonesia; Ging Cristobal (ASEAN SOGIE Caucus); Yuchun Kao (Taiwan Little Bear Education); Akarachai Chaimaneekarakate (Thai Lawyers for Human Rights); Raoul Manuel (National Council Member-at-Large, KARAPATAN); Ming Ju Lee (Judicial Reform Foundation); dan lain-lain.
Dalam pernyataannya, ACFA percaya bahwa hak atas kebebasan berserikat merupakan salah satu elemen kunci dalam pertumbuhan masyarakat sipil dan pemajuan hak asasi manusia. Keberadaan dan operasional organisasi memungkinkan dan melindungi hak individu untuk secara kolektif mengekspresikan, mempromosikan, mengupayakan, dan membela keadilan.
Melalui advokasinya terhadap undang-undang Undang-Undang Organisasi Sosial, ACFA menyatakan berperan dalam mendiversifikasi lanskap masyarakat sipil Taiwan dan mempromosikan hak kebebasan berserikat bagi orang asing dan berorganisasi di Taiwan.
Selesai/ML