Oleh Pan Hsin-tung dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA
Di Taiwan, bisbol menjadi salah satu olahraga yang paling digemari. Permainan ini telah memberi mimpi bagi banyak anak dan membawa kebahagiaan bagi jutaan orang di negara ini. Namun, hal berbeda dirasakan salah satu daerahnya: Matsu, sebuah gugus kepulauan terpencil yang hanya dihuni belasan ribu penduduk.
Sejarah bisbol di Taiwan tidak sebentar. Diperkenalkan di Taiwan sejak masa kolonial Jepang sekitar 1900-an awal, olahraga itu telah mendarah daging di rakyatnya. Belum lagi, kini negara tersebut telah memiliki liga lokal dan mengikuti kejuaraan internasional dengan konsisten, hingga menorehkan berbagai prestasi.
Pada Agustus saja, klub sekolahan Taiwan berhasil menjuarai tiga kejuaraan internasional di Amerika Serikat, sementara tim nasional juniornya mempertahankan gelar Asian bisbol Championship U-15 2025. Pada 24 November 2024, Taiwan menjadi juara dunia dengan memenangkan Kejuaraan Premier12 WBSC.
Tim putra dan putri Taiwan masing-masing menempati peringkat kedua dan kelima dunia menurut World Baseball Softball Confederation, sementara berbagai pemain bintang telah dilahirkan negara tersebut -- membuat olahraga itu digandrungi lintas generasi. Namun, Matsu memiliki pengalaman yang unik.
Matsu, yang secara resmi bernama Kabupaten Lienchiang, berjarak sekitar 200 kilometer dari Taipei dan hanya 9 kilometer dari Provinsi Fujian, Tiongkok. Hal ini membuatnya menjadi garis depan pertahanan Taiwan terhadap Republik Rakyat Tiongkok, sehingga kepulauan itu ditempatkan di bawah pemerintahan militer pada 1949.
Selama periode 1950-an hingga 1980-an, pangkalan militer dibangun di Matsu, membuat pulau-pulaunya dipenuhi fasilitas militer. Penduduk lokal pun hidup di bawah situasi militeristik, sebelum pemerintahan militer berakhir pada 1992.
Warga pulau utama Taiwan dan sejumlah penduduk Matsu, selain berbagi panji negara yang sama, juga memiliki cinta yang serupa terhadap bisbol. Namun, dengan perbedaan sejarah, infrastruktur, dan demografi di antara keduanya, kepulauan itu menghadapi perjuangan yang berbeda.
Sebut saja Tsao Yao-wen (曹耀文). Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Matsu yang akan naik ke bangku kelas 12 ini sudah jatuh cinta kepada bisbol sejak sekolah menengah pertama. Namun, karena tidak ada SMP di Matsu yang memiliki tim olahraga itu, ia baru bisa mewujudkan impiannya ketika masuk SMA.
Sayangnya, musim bisbol pertama Tsao di kelas satu hanya berlangsung satu pertandingan saja sebelum berakhir lebih awal. Saat itu, tim yang dikapteninya kalah di pertandingan pertama Black Panther High School Baseball Competition dan harus pulang.
Lebih parah lagi, dari 12 anggota tim, sembilan orang pergi satu per satu, termasuk seorang yang direkrut tim basket, membuatnya hampir bubar. "Saya sempat berpikir, kenapa bermain bisbol itu begitu sulit?" kata Tsao dengan senyum pahit.
Saat itu pelatihnya memberitahunya, asalkan tim bisa mengumpulkan sembilan orang, latihan akan dilanjutkan. Oleh karena itu, tugas terpentingnya bukanlah berlatih dengan serius, tetapi mencari rekan.
Tsao mengenang, pada September tahun lalu tim berada pada titik terburuk dengan hanya tersisa tiga orang. Ia menghabiskan lebih dari dua bulan untuk akhirnya mengumpulkan delapan anggota tambahan. Namun, aturan pendaftaran kejuaraan mengharuskan minimal 12 pemain, sehingga musim kedua SMA-nya berakhir pahit.
Meski perjalanannya berat, Tsao tidak pernah terpikir untuk menyerah. Tahun ini, SMA Matsu secara mengejutkan berhasil merekrut delapan pemain siap tempur dari sebuah SMP di Taoyuan, sehingga tim langsung berkembang menjadi 15 anggota.
Hal ini membuatnya kaget sekaligus senang, "Tidak hanya akhirnya bisa bermain, tetapi saya juga melihat peluang untuk menang."
Yu Chia-yu (余家侑), siswa kelas 10 yang baru lulus SMP dan datang jauh-jauh dari Taoyuan untuk belajar di SMA Matsu, adalah salah satu dari sedikit pemain "lulusan sekolah formal bisbol" yang sudah menjalani pelatihan sejak SD.
Namun, dengan tinggi badan yang hanya 162 sentimeter, ia paham kondisi fisiknya mungkin tidak akan menarik perhatian sekolah bisbol unggulan dan membatasi prospek masa depannya, "Tetapi saya tetap ingin bermain bisbol."
Tahun ini, SMA Matsu memperluas pendaftaran, dan Yu bersama tujuh anggota lainnya menyeberangi laut untuk bergabung. Setiap orang menaruh mimpi besar dalam hati, yaitu ingin terus bermain bisbol. Namun, Kapten Tsao bukan lagi anak kecil. Jadi, bagi tim ini, bermain atau menang harus sama-sama diwujudkan.
Yu sangat memahami ambisi kakak kelasnya, dan dari perspektif profesional ia yakin, "Kami benar-benar bisa menang." Namun, ia menekankan, tim bisbol SMA Matsu yang baru terbentuk ini masih dalam tahap penyesuaian antara pemain lama dan baru, "Selama kami bisa lebih stabil, kami bisa menjadi lebih baik."
Sementara itu, Chen Chih-wei (陳智偉), sang pelatih kepala tim, memiliki pengalaman yang juga berliku. Meski sejatinya adalah penggemar senior sofbol lemparan lambat dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, matanya berbinar-binar dengan semangat untuk bisbol ketika melihat anak-anak SMA Matsu pada 2018.
Satu kalimat dari mereka, "Kami ingin bermain bisbol," membuat Chen memutuskan untuk berani, menemani anak-anak itu untuk bersenang-senang dan membangun mimpi bersama, sementara ia memperoleh sertifikat wasit dan pelatih.
"Saya mengakui, keinginan untuk menjadi pelatih mereka memang ada sedikit kepentingan pribadi," kata Chen. Seiring masalah kekurangan pemain di Matsu semakin parah, ia berpikir, jika bisa mengajarkan anak-anak ini bermain bisbol, kelak ketika mereka kembali ke kampung, mereka bisa menjadi calon rekan timnya.
Keempat anggota tim pelatih SMA Matsu bekerja paruh waktu, masing-masing memiliki pekerjaan utama. Chen menjelaskan, "Saya kepala Dusun Matsu, ada satu yang merupakan dewan perwakilan warga Desa Nangan, satu lagi pegawai Pemerintah Kabupaten Lienchiang, dan satu bekerja di maskapai penerbangan."
Sekilas, tim pelatih SMA Matsu tampak seperti tim dadakan, tetapi dedikasi mereka terhadap bisbol dan anak-anak sama sekali tidak amatir. Demi memberikan kesempatan bermain bagi anak-anak yang mencintai olahraga itu, Chen mencari orang, tempat, dan sumber daya.
Dengan dukungan Chen Shih-wei (陳世偉), pejabat olahraga Pemerintah Kabupaten Lienchiang, pada 2023 dibangun lapangan bisbol standar untuk tim SMA Matsu. Sementara itu, Kepala SMA Matsu, Hsieh Chung-yao (謝崇耀) tahun ini pergi ke pulau utama Taiwan untuk mencari pemain, yang akhirnya membuat tim bertahan.
Kini pemain Matsu bisa bangga. Mungkin bisbol di sana masih dalam tahap pengenalan, tetapi fasilitasnya jelas termasuk "kelas atas". Chen mengatakan, "Mungkin sangat sedikit sekolah yang memiliki lapangan sendiri seperti kami, bahkan dengan fasilitas pencahayaan malam hari."
Mengenai filosofi melatih, Chen merangkum dengan delapan kata: "Serang habis-habisan, bola datang langsung pukul." Ia menjelaskan, Matsu tidak memiliki pemain bintang, dan dalam pertandingan, tidak ada ruang untuk kesalahan.
"Pemain berlatih begitu lama dan keras setiap hari, untuk apa? Hanya untuk memainkan satu pertandingan dengan baik." Jadi, ia meminta pemain fokus hanya pada pertandingan saat ini. Jika menang, baru fokus pada pertandingan berikutnya.
Untuk tujuan jangka panjang, Chen tidak menutupi, "Tentu saya ingin melahirkan satu pemain profesional bisbol asli Matsu." Ia bercanda, dengan begitu ia punya alasan dan bahan untuk membanggakan diri di hadapan teman.
"Matsu adalah gurun bagi olahraga bola," kata Chen dengan jujur. Di Matsu, selain gulat, olahraga lain hampir tidak terlihat, tetapi ia tetap menabur benih bisbol setiap tahun, berharap suatu hari gurun ini bisa menumbuhkan pohon tinggi yang menjadi panduan bagi para pelajar setempat.
Selesai/ML