Kasus demam scarlet di Taiwan capai angka tertinggi dalam 5 tahun terakhir

10/07/2025 12:15(Diperbaharui 10/07/2025 12:15)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Taiwan. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Taiwan. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Taipei, 10 Juli (CNA) Taiwan melaporkan 245 kunjungan medis akibat demam scarlet pada pekan lalu, menandai angka tertinggi untuk periode yang sama dalam lima tahun terakhir, sebagian besar terjadi pada anak-anak usia 3 hingga 12 tahun, kata Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) pada Selasa (8/7).

"Kami mengamati bahwa kunjungan terkait demam scarlet di Taiwan mulai meningkat secara bertahap sekitar akhir November tahun lalu, mencapai titik yang relatif tinggi sekitar pertengahan Mei tahun ini," kata Direktur Pusat Intelijen Epidemi CDC, Kuo Hung-wei (郭宏偉), dalam jumpa pers rutin di Taipei.

Sejak pertengahan Mei, wabah ini tetap berada di tingkat yang stabil, dengan sebagian besar kasus terjadi pada anak-anak usia 3 hingga 12 tahun, tambahnya.

Sebanyak 245 kunjungan medis terkait penyakit menular ini tidak hanya menandai angka mingguan tertinggi tahun ini, tetapi juga tertinggi untuk periode yang sama dalam lima tahun terakhir, menurut juru bicara CDC, Lo Yi-chun (羅一鈞).

"Demam scarlet biasanya lebih sering terjadi pada akhir musim semi dan awal musim panas, jadi jumlah kasus yang meningkat pada periode ini tidak terlalu mengejutkan," katanya.

Lo mencatat bahwa juga terdapat 239 kasus pada awal Mei, yang menunjukkan bahwa Streptococcus Grup A -- bakteri penyebab penyakit ini, yang menyebabkan gejala seperti demam, ruam, dan sakit tenggorokan -- terus menyebar di seluruh Taiwan sejak saat itu.

Mengenai alasan mengapa jumlah kasus lebih rendah sebelum 2025, Lo mengatakan kunjungan mingguan sering kali hanya terbatas pada dua digit antara 2020 dan 2024, kemungkinan karena adanya langkah-langkah pencegahan COVID-19.

Lo menambahkan bahwa meskipun dokter anak di seluruh negeri baru-baru ini juga melaporkan peningkatan yang nyata dalam kasus demam scarlet, pasien umumnya merespons dengan baik terhadap antibiotik, "Tanpa tanda-tanda penyakit menjadi sangat parah."

Dokter di Taiwan terlatih dengan baik dalam mengobati demam scarlet dengan antibiotik, kata Lo, namun menekankan bahwa pasien harus mengikuti petunjuk medis dengan cermat, karena pengobatan yang tidak tuntas dapat menyebabkan resistensi antibiotik.

Ia juga mengatakan bahwa demam scarlet bisa sulit dibedakan dari infeksi enterovirus, karena keduanya memiliki gejala seperti demam, sakit tenggorokan, dan ruam yang meluas.

Sementara Taiwan masih berada di musim enterovirus, ia menyarankan dokter dan masyarakat untuk lebih berhati-hati dan mempertimbangkan apakah gejala yang muncul mungkin terkait dengan infeksi Streptococcus Grup A, bukan langsung mengaitkannya dengan enterovirus.

Sebagai tindakan pencegahan, individu sebaiknya menghindari tempat umum yang ramai dan mencuci tangan segera setelah kontak dengan sekresi pernapasan pasien. Mereka yang terinfeksi harus membuang sekresi hidung dan mulutnya dengan benar dan tidak memasuki tempat umum sampai mereka bebas demam selama lebih dari 24 jam, menurut CDC.

(Oleh Tzeng Yi-ning, Sunny Lai, dan Muhammad Irfan) 

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.