Taipei, 2 Okt. (CNA) Pesawat tempur F-16C/D Block 70 tetap relevan dalam peperangan modern meski pesawat nirawak (drone) semakin berperan penting, karena pesawat tersebut masih mampu melakukan patroli udara tempur (combat air patrol/CAP) dan mengancam kapal perang permukaan konvensional, termasuk kapal induk Tiongkok yang dikerahkan di perairan lepas pantai timur Taiwan.
Taiwan pada Jumat (2/10) menerima dua unit pertama dari 66 pesawat F-16C/D Block 70—yang juga dikenal sebagai F-16V Block 70—yang dipesannya dari Amerika Serikat pada 2019. Meskipun seluruh pesanan semula ditargetkan selesai dikirim pada akhir tahun ini, target tersebut tidak akan tercapai akibat gangguan rantai pasokan dan sejumlah persoalan lainnya.
Dalam kondisi perang, pasukan Tiongkok akan berupaya merusak landasan pacu di pangkalan udara Taiwan untuk mencegah pesawat-pesawat tempurnya lepas landas, kata Shu Hsiao-huang (舒孝煌), peneliti Institute for National Defense and Security Research, lembaga penelitian yang didanai pemerintah Taiwan.
Pangkalan udara di Taiwan bagian timur kemungkinan lebih kecil menjadi sasaran rudal balistik atau roket jarak jauh Tiongkok. Namun, pangkalan tersebut tetap rentan terhadap senjata yang diluncurkan dari kapal ke darat maupun dari udara ke darat, kata Shu.
Selain itu, Tiongkok dapat mengerahkan salah satu kapal induknya dan kapal-kapal permukaan berukuran besar lainnya lebih jauh dari pantai timur Taiwan untuk menghindari rudal pertahanan pantai serta mengancam jalur pelayaran yang digunakan untuk mengangkut persenjataan, gas, dan bahan bakar, kata Shu.
Menurut Shu, kebutuhan untuk menghadapi ancaman tersebut menjadi salah satu alasan drone tidak dapat menggantikan pesawat tempur konvensional seperti F-16C/D Block 70.
Drone tidak dapat digunakan secara efektif untuk menghadapi kapal permukaan berukuran besar, seperti kapal induk, karena kapasitas muatannya yang terbatas, katanya.
Selain itu, kemampuan drone dalam mendeteksi dan melacak sasaran di udara tidak seluas pesawat tempur, yang memberikan kemampuan penangkalan lebih efektif terhadap ancaman udara, tambah Shu.
“Secara umum, kemampuan pesawat tempur untuk melakukan CAP masih belum dapat digantikan,” ujarnya.
Bahkan dalam perang Rusia-Ukraina, yang dikenal dengan penggunaan drone secara ekstensif, Ukraina telah mengerahkan pesawat tempur MiG-29 untuk menghadapi pesawat tempur dan drone Rusia. Menurut Shu, salah satu alasannya adalah persediaan rudal permukaan-ke-udara Ukraina yang terus menipis seiring berlangsungnya perang.
Shu merujuk pada sebuah video yang diunggah secara daring pada 21 Agustus, yang memperlihatkan sebuah pesawat tempur MiG-29 Ukraina mengejar drone Shahed Rusia dari jarak dekat sebelum drone tersebut tiba-tiba menukik.
Shu mengatakan Shahed tersebut kemungkinan terdampak turbulensi udara yang ditimbulkan oleh MiG-29. Jika benar demikian, peristiwa tersebut mungkin menunjukkan sebuah taktik menghadapi UAV dengan “biaya nol”.
Sementara itu, Cathy Fang (方怡然), analis kebijakan di Research Institute for Democracy, Society and Emerging Technology (DSET), lembaga penelitian yang didanai pemerintah Taiwan, mengatakan bahwa drone dimaksudkan untuk melengkapi pesawat tempur konvensional, bukan menggantikannya.
“Nilai drone bukan terletak pada kemampuannya menggantikan sistem konvensional. Nilainya adalah menambahkan sensor dan penembak dalam jumlah lebih besar, yang tersebar, berbiaya lebih rendah, serta lebih mudah digantikan. Dengan demikian, drone meningkatkan kepadatan dan ketahanan arsitektur pertahanan Taiwan yang sudah ada,” kata Fang.
Keterbatasan dan upaya peningkatan kemampuan
Meski F-16V Block 70 memiliki kapasitas bahan bakar yang lebih besar sehingga memungkinkan pesawat bertahan di udara lebih lama, serta kemampuan membawa lebih banyak rudal, Shu menyoroti satu keterbatasan utama apabila pesawat tersebut berhadapan dengan pesawat tempur siluman generasi kelima milik Tiongkok, seperti J-20.
“Mereka tidak mudah terlihat, tetapi mereka bisa melihat kita,” kata Shu.
Ancaman tersebut menjadi semakin serius jika pesawat tempur siluman lawan dilengkapi rudal udara-ke-udara jarak di luar visual (beyond-visual-range/BVR) seperti PL-15 atau PL-17, kata Shu.
Salah satu sistem yang dapat membantu mengatasi kesenjangan kemampuan tersebut adalah Legion-ES IRST21, yang juga dikenal sebagai Legion Pod, yang dikembangkan Lockheed Martin dan dapat diintegrasikan dengan F-16, katanya.
Pod tersebut menggunakan teknologi infrared search and track (IRST) untuk mendeteksi dan melacak jejak panas pesawat tempur siluman tanpa mengaktifkan radar. Sistem tersebut juga dapat mendukung penargetan senjata seperti AIM-120 Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile (AMRAAM).
“Lawan tidak akan mudah mengetahui bahwa kita sedang memantaunya atau menembakkan senjata ke arahnya,” kata Shu. “Dengan cara ini, kita dapat menyergap lawan dan menimbulkan ancaman besar terhadap pesawat tempur musuh.”
Lockheed Martin tidak mengungkapkan secara terbuka jarak deteksi Legion Pod. Namun, sistem sensor tersebut dirancang untuk mendeteksi dan melacak sasaran udara dari jarak jauh, dengan jarak efektif yang bergantung pada sejumlah faktor, termasuk jejak panas sasaran dan kondisi lingkungan.
Taiwan telah menyepakati pembelian 55 Legion Pod untuk digunakan pada armada F-16 miliknya. Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan tersebut pada Agustus 2023, dan seluruh sistem dijadwalkan dikirim pada Juni 2031.
(Oleh Sean Lin dan Muhammad Irfan)