Taipei, 7 Jun. (CNA) Edisi ketiga Pameran Seni Hak Asasi Manusia Hong Kong dibuka di Taipei pada Selasa (2/6), dengan para penyelenggara berharap karya seni dari para kreator Hong Kong, Taiwan, dan luar negeri akan menyoroti pentingnya melindungi kebebasan, hak asasi manusia, dan memori sejarah.
Bertajuk "Perlindungan, Harapan dan Perlawanan," pameran ini diadakan di Museum Memorial Nasional 228 dan menampilkan lebih dari 50 karya, masing-masing disertai dengan pengantar dalam bahasa Mandarin dan Inggris.
Dalam acara pers yang menandai pembukaan pameran, aktivis pro-demokrasi Hong Kong yang berbasis di Taiwan, Tong Wai-hung (湯偉雄), mengatakan bahwa ia menghadapi gangguan serius dalam hidupnya di Taiwan setelah otoritas Hong Kong mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya tahun lalu. Ia kemudian mengalami beberapa insiden intimidasi.
Tong merujuk pada dua insiden di mana studio tinju Thailand miliknya di Taipei disiram cat merah, yang oleh dia dan kelompok masyarakat sipil Taiwan digambarkan sebagai tindakan represi transnasional.
Ia mengatakan pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketika rezim otoriter menggunakan ketakutan sebagai alat kekuasaan, yang membantu melawan kegelapan adalah kekuatan sipil, seperti warga yang bersedia saling mendukung dan membela nilai-nilai bersama.
Tong, pendiri Hong Kong Human Rights Front, salah satu penyelenggara pameran, mengatakan ia berharap pameran ini dapat menceritakan kisah hak asasi manusia melalui seni dan membantu menyatukan orang-orang untuk menjaga demokrasi dan kebebasan Taiwan.
Cecil Kung (龔欽龍), sekretaris jenderal New School for Democracy, mengatakan kemampuan Taiwan untuk terus menjadi tuan rumah pameran dan acara terkait isu hak asasi manusia Hong Kong tidak hanya menunjukkan dukungan bagi rakyat Hong Kong, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat sipil dapat menerapkan nilai-nilai demokrasi dalam praktik.
Sejak Beijing memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional di Hong Kong pada 2020 setelah protes besar-besaran pro-demokrasi pada 2019, pameran seni serupa yang membahas isu hak asasi manusia dan kenangan atas protes tersebut menjadi semakin tidak mungkin diadakan di bekas koloni Inggris itu.
Taiwan sejak itu menjadi salah satu tempat di mana seniman dan aktivis Hong Kong dapat terus mengeksplorasi isu-isu tersebut dengan lebih bebas, dengan acara seperti pameran ini menawarkan platform untuk menjaga kenangan atas protes dan merefleksikan keprihatinan hak asasi manusia yang lebih luas.
Pameran ini akan berlangsung hingga 30 Agustus.
Selesai/