Washington, 4 Jun. (CNA) Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio hari Rabu (4/6) mengatakan bahwa usulan penjualan senjata senilai US$14 miliar (Rp252 triliun) ke Taiwan tidak dihentikan, melainkan masih dalam peninjauan, karena kebijakan Amerika Serikat terhadap Taiwan belum berubah.
Berbicara dalam sebuah sidang di Senat AS, Rubio mengatakan paket senjata tersebut masih diproses di dalam pemerintahan.
"Ditunda" bukanlah istilah yang tepat, katanya menanggapi pertanyaan terkait isu tersebut. Paket tersebut "masih terus ditinjau seiring dengan prosesnya," tambahnya.
Pertanyaan mengenai penjualan senjata ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan menyebutnya sebagai "alat tawar-menawar yang baik" menjelang pertemuan dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping (習近平) di Beijing pada pertengahan Mei, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang komitmen Washington terhadap Taiwan.
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 21 Mei, The Hill melaporkan bahwa Penjabat Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao mengatakan dalam sidang Subkomite Pertahanan Alokasi Anggaran Senat bahwa Washington menahan paket tersebut untuk memastikan mereka memiliki cukup amunisi untuk perang yang sedang berlangsung dengan Iran.
"Saat ini kami melakukan jeda untuk memastikan kami memiliki amunisi yang kami butuhkan untuk Epic Fury -- yang mana kami punya banyak," kata Cao seperti dikutip.
Rubio mengatakan pada hari Rabu bahwa paket senjata senilai US$14 miliar yang diusulkan itu sangat besar dan memiliki implikasi bagi basis industri pertahanan dan kapasitas produksi AS, sehingga memerlukan peninjauan yang cermat.
Ia juga mencatat bahwa pemerintahan Trump menyetujui paket senjata senilai sekitar US$11 miliar untuk Taiwan pada bulan Desember, yang ia sebut sebagai penjualan terbesar ke Taiwan dalam sejarah AS.
Menurut Rubio, Beijing merespons "dengan sangat agresif" pada saat itu, dengan mengirimkan pesawat militer melintasi garis median Selat Taiwan beberapa kali.
Tiongkok "terus-menerus" mengangkat isu penjualan senjata AS ke Taiwan, tetapi Washington tidak berkonsultasi dengan Beijing terkait keputusan tersebut, katanya.
"Itu sejalan dengan kebijakan lama kami, yang belum berubah," tambah Rubio.
Rubio juga mengatakan ia percaya penting bagi AS untuk melindungi status quo di Selat Taiwan.
Selesai/IF