Taipei, 21 Agu. (CNA) Rumah sakit militer utama Taiwan pada hari Rabu (19/8) menyoroti penggunaan tim bedah yang dinamis dan pelatihan realitas virtual (VR) untuk mempersiapkan tenaga medis dalam perawatan trauma di garis depan selama bencana dan operasi militer.
"Forward Surgical Team (FST) pada dasarnya adalah tim bedah penyelamat kecil yang sangat mobile dan dirancang untuk dikerahkan dekat dengan garis depan," kata Yang Chih-Jen (楊智仁), dokter di Departemen Kedokteran Gawat Darurat di Tri-Service General Hospital, dalam sebuah konferensi pers di Taipei.
Tujuan utama FST bukan untuk memberikan perawatan setingkat rumah sakit, kata Yang, tetapi untuk menstabilkan korban di kondisi medan perang, zona bencana, atau lokasi terpencil ketika mereka tidak dapat segera dievakuasi ke rumah sakit besar.
"Tim ini dapat memberikan penanganan darurat perdarahan, resusitasi, dan operasi penyelamatan jiwa yang diperlukan, memberikan pasien kesempatan untuk bertahan hidup hingga mereka dapat dievakuasi untuk perawatan lanjutan," ujarnya.
Yang mengatakan personel FST saat ini berlatih dengan militer sekitar sekali sebulan, dengan latihan yang berfokus pada tujuan yang berbeda, sementara dokter spesialis di bidang seperti bedah trauma, ortopedi, dan bedah kardiovaskular bergiliran mengikuti pelatihan.
Perawat, ahli anestesi, dan teknisi medis darurat (EMT) juga ikut serta, bersama dengan personel dari rumah sakit militer lain di seluruh Taiwan, tambahnya.
Ketika ditanya tentang kerja sama internasional dalam perawatan trauma di garis depan, Yang mengatakan ia tidak mengetahui detailnya di tingkatnya, tetapi berharap Taiwan dapat bekerja sama dengan negara-negara yang "lebih berpengalaman di bidang ini" dan belajar dari keahlian mereka.
Pelatihan VR
Rumah sakit tersebut juga telah mengembangkan sistem pelatihan trauma berbasis VR yang menggabungkan protokol Advanced Trauma Life Support (ATLS) bekerja sama dengan perusahaan teknologi Taiwan, HTC, untuk mempersiapkan tenaga medis menghadapi insiden korban massal, kata Yang.
Sistem ini, yang menurut Yang merupakan yang pertama di Taiwan untuk pelatihan trauma, dapat mensimulasikan situasi seperti gempa bumi yang mengakibatkan 15 atau 16 korban dengan tingkat cedera yang berbeda-beda datang ke unit gawat darurat secara bersamaan, sehingga peserta pelatihan harus dengan cepat menilai dan melakukan triase.
"VR memberikan lingkungan imersif yang sangat realistis," kata dokter gawat darurat berpengalaman itu, seraya menambahkan bahwa teknologi ini mengurangi kebutuhan tenaga kerja, ruang, dan biaya yang diperlukan untuk pelatihan konvensional.
Peserta pelatihan juga dapat mengulangi skenario dan meninjau kinerja mereka, sementara instruktur dapat menciptakan pengaturan dan pola cedera yang berbeda, bukan hanya membuat peserta berlatih skenario yang sama secara berulang, ujarnya.
Pelatihan VR saat ini digunakan oleh mahasiswa kedokteran yang sedang rotasi di unit gawat darurat dan juga dapat digunakan oleh dokter residen, perawat, dan EMT, menurut Yang.
Ia mengatakan sistem yang diperkenalkan dalam sekitar dua tahun terakhir ini saat ini berfokus pada triase korban massal, tetapi dapat dikembangkan untuk mensimulasikan kondisi yang lebih terbatas, seperti pencahayaan minim atau kekurangan peralatan medis, sehingga peserta pelatihan harus bekerja dengan sumber daya terbatas.
Skenario yang melibatkan kondisi ekstrem seperti kehilangan total listrik atau pasokan air belum dimasukkan ke dalam sistem, kata Yang, seraya menambahkan bahwa ia berharap situasi seperti itu dapat dimasukkan dalam pelatihan di masa depan.
Selesai/ja