Taipei, 19 Agu. (CNA) Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung (林佳龍) pada Rabu (19/8) mengatakan pemerintah "menghormati" berbagai pandangan di Jepang terkait kunjungan pejabat tinggi Jepang ke sebuah kuil kontroversial yang turut mengenang penjahat perang Perang Dunia II, tetapi juga berharap Tokyo akan merenungkan agresi masa perangnya.
"Kami mengakui dan menghormati keberagaman pandangan dalam masyarakat Jepang terkait isu-isu ini. Kami menantikan [Jepang] untuk terus melakukan refleksi - memastikan bahwa kejahatan memulai perang tidak pernah terulang - sambil juga mengharapkan upaya bersama [antara Taipei dan Tokyo] untuk menjaga perdamaian dan stabilitas regional."
"Kami berharap hubungan Taiwan-Jepang saat ini akan berkontribusi pada perdamaian di kawasan," tambahnya.
Lin menanggapi pertanyaan dari legislator oposisi Kuomintang (KMT) Lai Shyh-bao (賴士葆) tentang apa yang ia gambarkan sebagai pernyataan Kementerian Luar Negeri (MOFA) yang relatif lunak terkait kunjungan beberapa anggota senior Kabinet Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi ke Kuil Yasukuni di Tokyo pekan lalu.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengunjungi kuil tersebut, begitu juga beberapa anggota Kabinet lainnya, pada Sabtu silam, menandai peringatan ke-81 penyerahan Jepang dalam Perang Dunia II.
Kunjungan tersebut langsung memicu protes diplomatik dan kecaman keras dari Tiongkok dan Korea Selatan.
Namun, MOFA hanya menyatakan pihaknya menghormati berbagai pandangan di Jepang terkait kunjungan anggota Kabinet Takaichi, yang kemudian menuai kritik dari KMT dan oposisi lainnya Partai Rakyat Taiwan (TPP), yang menyebut tanggapan kementerian tersebut terlalu lunak.
Ketika diminta mengomentari tuduhan tersebut, Lin mengatakan bahwa pernyataan MOFA menyatakan kementerian menghormati "berbagai pandangan di Jepang terkait kunjungan pejabat Kabinet mereka ke kuil tersebut," bukan kunjungan itu sendiri.
Ketika ditanya apakah Jepang adalah pihak penginvasi selama Perang Dunia II, Lin menjawab, "Tentu saja Jepang adalah penginvasi."
Kuil Yasukuni di Tokyo memberi hormat untuk sekitar 2,5 juta orang yang tewas berjuang untuk Jepang, di antaranya sekitar 28.000 tentara dan pekerja sipil Taiwan yang tewas saat bertugas di militer Jepang selama Perang Dunia II, ketika Taiwan merupakan koloni Jepang.
Situs ini menjadi kontroversial karena 14 orang yang didakwa dengan kejahatan perang Kelas-A oleh pengadilan Sekutu diabadikan di sana pada 1978, sehingga kunjungan politisi Jepang sering menjadi titik panas diplomatik dengan negara-negara Asia tetangga.
Selesai/JC