Sejumlah perusahaan garmen Taiwan bidik Indonesia untuk ekspansi

17/11/2025 18:29(Diperbaharui 17/11/2025 18:29)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Taipei, 17 Nov. (CNA) Sejumlah perusahaan garmen Taiwan yang tercatat di bursa menyatakan mereka telah membidik sejumlah negara, termasuk Indonesia, untuk ekspansi pabrik mereka tahun depan, seiring kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) membuat klien merek internasional menyesuaikan wilayah produksi secara global.

Manager Umum Eclat Textile Co., Hung Jui-ting (洪瑞廷), dalam rapat investor perusahaan baru-baru ini menyatakan fokus belanja modal tahun depan mereka adalah meningkatkan proporsi kapasitas di Indonesia secara signifikan dan merencanakan pembangunan proses produksi terintegrasi secara vertikal di sana.

Pada 6 November, dewan direksi Eclat menyetujui investasi sebesar US$80 juta (Rp1,34 triliun) untuk memulai fase ketiga rencana ekspansi pabrik di Indonesia, kata Hung.

Sementara itu, Ketua Eclat Wang Shu-wen (王樹文) sebelumnya menyatakan bahwa untuk menanggapi tren deglobalisasi, perusahaannya akan terus mendiversifikasi lokasi produksi, dengan rencana ekspansi fase ketiga di Indonesia telah direncanakan sejak lama.

Wang mengatakan perusahaan telah memutuskan akan membangun pabrik pakaian jadi, setelah juga mempertimbangkan pilihan pabrik kain, namun prosesnya sempat tertunda saat keputusan hampir final akibat pengumuman tarif impor AS.

Eclat, perusahaan Taiwan yang berfokus pada produksi dan penyelesaian serat sintetis dan tekstil lainnya, menyatakan permintaan kapasitas dari klien sangat tinggi, dan dengan kebijakan tarif yang sudah jelas, mereka resmi memulai proyek pabrik ketiga di Indonesia.

Eclat mengatakan mereka menilai keunggulan mendirikan pabrik di Indonesia termasuk pasokan tenaga kerja yang melimpah dan biaya pekerja yang relatif kompetitif.

Saat ini, rencana pabrik ketiga Eclat di Indonesia dijadwalkan mulai konstruksi pertengahan tahun depan dan mulai produksi pada paruh kedua 2027, dengan kapasitas sekitar 1,8 juta potong per bulan, kata perusahaan.

Sementara itu, Great Giant Fibre Garment Co. mengatakan mereka fokus pada ekspansi kapasitas di Indonesia tahun depan, seiring negara tersebut memiliki keunggulan kompetitif biaya, dan bisa dikombinasikan dengan wilayah produksi mereka di Madagaskar, Afrika.

Dengan semakin berkembangnya penempatan wilayah produksi yang beragam, kata Great Giant, mereka memperkirakan kapasitas total tahun depan dapat meningkat 20–30 persen, memberikan dorongan baru bagi pertumbuhan operasional selanjutnya.

Pabrikan pakaian besar Taiwan lainnya, Makalot Industrial Co., mengatakan mereka merencanakan bahwa peningkatan kapasitas total tahun depan hanya akan tumbuh satu digit, dengan fokus pada penyesuaian distribusi wilayah produksi.

Saat ini Makalot memiliki dua basis produksi utama di Indonesia dan Vietnam, dan ekspansi tahun depan akan difokuskan pada Bangladesh.

Juru bicara Makalot, Lin Heng-yu (林恆宇) seraya bercanda mengatakan "Bangladesh yang terindah," karena tarif impor yang dikenakan AS ke sana sebesar 20 persen, hampir sama dengan Vietnam dan Indonesia, dan tingkat upahnya kompetitif.

Ketua Quang Viet Enterprise Co., Wu Chao-pi (吳朝筆), menyatakan bahwa dengan tarif AS yang mulai stabil, klien merek pakaian mereka mulai menyesuaikan distribusi wilayah produksi.

Tarif pabrik Quang Viet di Yordania sebesar 15 persen, lebih rendah dibandingkan basis produksi tekstil utama lainnya seperti Vietnam (20 persen) dan Indonesia (19 persen), sehingga memiliki keuntungan tarif dan mendapat prioritas pesanan dari klien, ujarnya.

Tahun ini, pendapatan pabrik Quang Viet di Yordania meningkat tajam 40–50 persen dibandingkan tahun lalu, tambah Wu.

Untuk memenuhi permintaan klien yang kuat, kata Quang Viet, mereka terus memperluas kapasitas pabrik Yordania, dengan penambahan 20 jalur produksi sekaligus pada 2025 hingga diperkirakan bertotalkan mencapai 65 jalur pada akhir tahun ini.

Menurut perencanaan awal, kata Quang Viet, pabrik Yordania tahun depan akan menambah kapasitas hingga 80 jalur, menjadi motor utama operasional perusahaan.

(Oleh Tseng Jen-kai dan Jason Cahyadi)

Selesai/ML

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.