Para aktivis satwa liar serukan pembuatan kebijakan yang proaktif daripada reaktif

15/09/2026 15:57(Diperbaharui 15/09/2026 15:57)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Ketua TWW Lee Tsung-chen (ketiga dari kiri) dan penyelenggara lainnya memegang papan bertuliskan seruan untuk konservasi satwa liar di Taipei pada hari Selasa. (Sumber Foto : CNA, 15 September 2026)
Ketua TWW Lee Tsung-chen (ketiga dari kiri) dan penyelenggara lainnya memegang papan bertuliskan seruan untuk konservasi satwa liar di Taipei pada hari Selasa. (Sumber Foto : CNA, 15 September 2026)

Taipei, 15 Sep. (CNA) Kelompok konservasi satwa liar pada hari Selasa (15/9) mendesak pemerintah untuk memasukkan pertimbangan ekologi ke dalam pembuatan kebijakan publik, bukan hanya merespons setelah kerusakan lingkungan terjadi, menjelang Walk for Wildlife 2026 yang akan diadakan di Taipei pada hari Sabtu.

Pawai ini, yang diselenggarakan oleh Taiwan Walk for Wildlife (TWW), akan diadakan di luar Yuan Legislatif dan dijadwalkan dimulai pada pukul 14.00 hari Sabtu dengan tema "Satwa liar tidak bisa menunggu, masukkan ekologi ke dalam kebijakan publik."

Dalam konferensi pers di Taipei hari Selasa, Ketua TWW Lee Tsung-chen (李宗宸) mengatakan kampanye tahun ini melanjutkan seruan dari dua edisi sebelumnya pada tahun 2023 dan 2024 untuk pengelolaan anjing dan kucing liar yang lebih baik serta alat hukum yang lebih kuat untuk menangani konflik ekologi.

"Kami akhirnya menyadari bahwa masalahnya bukan sekadar satu langkah yang hilang, tetapi kebijakan yang berbeda berjalan secara independen, dengan perhatian ekologi baru ditangani setelah kerusakan sudah terjadi," kata Lee.

Masalah ini melampaui perlindungan hewan, dengan pertimbangan ekologi sering kali diabaikan dalam pengambilan keputusan oleh pemerintah pusat dan daerah terkait isu seperti penggunaan lahan, energi, dan pekerjaan umum, tambahnya.

Kuo Chia-wen (郭佳雯), seorang peneliti di Wild at Heart Legal Defense Association, mencontohkan lumba-lumba putih Taiwan yang terancam punah sebagai contoh bagaimana pertimbangan ekologi dikesampingkan dalam kebijakan pembangunan.

Taiwan telah menginvestasikan sumber daya yang besar untuk meneliti spesies ini, kata Kuo, tetapi pembangunan industri pesisir, ladang angin lepas pantai, dan proyek reklamasi lahan terus berlanjut di sepanjang pantai barat -- satu-satunya habitat lumba-lumba tersebut -- tanpa cukup mempertimbangkan dampak ekologisnya.

"Kami tidak mengatakan Taiwan harus berhenti berkembang, juga tidak mengatakan orang harus berhenti menggunakan listrik," ujarnya. "Pertanyaannya adalah bagaimana kita benar-benar bisa mencapai koeksistensi."

Salah satu tuntutan TWW untuk pawai ini adalah pembentukan komite keanekaragaman hayati bersama oleh pemerintah pusat dan daerah, dengan kewenangan untuk berkoordinasi lintas lembaga dan memantau pelaksanaan.

"Setiap kebijakan yang dapat memengaruhi lingkungan harus melalui peninjauan, dengan data ilmiah dan pendapat ahli dipertimbangkan sebelum keputusan dibuat," kata Lee, menjelaskan peran komite tersebut.

Acara hari Sabtu akan berlangsung dari pukul 11.00 hingga 17.30, dengan kelompok konservasi mengoperasikan stan sejak pagi. Setelah pawai sekitar satu jam melalui jalan-jalan di dekat Yuan Legislatif, peserta akan kembali ke lokasi acara untuk serangkaian diskusi singkat tentang isu satwa liar dan konservasi.

(Oleh Sunny Lai dan Muhammad Irfan)

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/ja

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.