Sebanyak 34 orang dituntut atas pembuangan limbah konstruksi ilegal di Kaohsiung

04/09/2026 16:12(Diperbaharui 04/09/2026 16:12)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Kantor Kejaksaan Distrik Kaohsiung. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Kantor Kejaksaan Distrik Kaohsiung. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Kaohsiung, 4 Sep. (CNA) Kejaksaan di Kaohsiung menuntut 34 orang atas dugaan pembuangan limbah konstruksi secara ilegal di beberapa lahan pertanian di Kaohsiung, yang menghasilkan keuntungan ilegal lebih dari NT$62 juta (Rp34,49 miliar).

Kantor Kejaksaan Distrik Kaohsiung merilis tuntutan tersebut pada Kamis, menyatakan bahwa tersangka utama, seorang pria bermarga Huang (黃), menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan konstruksi pada tahun 2024 untuk menangani pengangkutan dan pembuangan limbah konstruksi yang dihasilkan selama pembangunan fasilitas parkir bertingkat di Bandara Internasional Kaohsiung.

Pada tahun 2025, Huang mewakili sebuah perusahaan yang mengambil kontrak serupa untuk menangani limbah konstruksi dari proyek perumahan sosial di Distrik Zuoying, menurut tuntutan tersebut.

Kejaksaan mengatakan Huang dan lainnya memperoleh dokumen persetujuan yang memberi wewenang kepada mereka untuk mengangkut limbah ke dua fasilitas tanah dan kerikil yang legal.

Namun, selama tahun 2025, Huang diduga menginstruksikan stafnya untuk memberitahu sopir truk agar masuk ke fasilitas yang diizinkan, memiringkan bak truk mereka dan meninggalkan lokasi tanpa menurunkan limbah, sehingga menciptakan kesan melalui foto bahwa limbah telah dibuang dengan benar, menurut tuntutan.

Sebaliknya, limbah konstruksi tersebut dibuang di beberapa lahan pertanian di Distrik Daliao, Kaohsiung, kata kejaksaan.

Huang diduga membayar NT$200 hingga NT$400 per muatan truk kepada pemilik lahan pertanian dan memberitahu mereka bahwa limbah tersebut dapat digunakan untuk meninggikan permukaan tanah mereka, menurut tuntutan.

Untuk menciptakan lebih banyak ruang untuk pembuangan ilegal, para tersangka diduga menggali lahan pertanian hingga kedalaman sekitar 4 meter dan membuang 1.938 muatan truk limbah, dengan total sekitar 18.600 meter kubik, kata kejaksaan.

Kejaksaan juga menuduh bahwa operator dari dua fasilitas tanah dan kerikil yang diizinkan tersebut membubuhkan cap pada dokumen pembuangan dan memasukkan catatan palsu ke dalam sistem informasi sisa tanah dan batu konstruksi milik pemerintah.

Berdasarkan dokumen yang disita selama penyelidikan, kejaksaan memperkirakan bahwa 4.045 perjalanan truk yang melibatkan pembuangan ilegal terjadi selama periode tiga bulan, menghasilkan keuntungan ilegal lebih dari NT$62 juta.

Setelah menerima biaya pembuangan dari perusahaan konstruksi, Huang diduga membayar biaya kepada dua fasilitas yang diizinkan tersebut untuk mengizinkan truk melakukan apa yang disebut "site loops", kata kejaksaan.

Kejaksaan menuntut Huang, perusahaannya, operator fasilitas tanah dan kerikil yang diizinkan, dan pihak lain yang terlibat dalam skema tersebut, total 34 orang dan enam perusahaan, atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Pembuangan Limbah dan undang-undang lainnya.

Mereka merekomendasikan hukuman penjara lebih dari empat tahun dan 10 bulan untuk Huang dan terdakwa utama lainnya.

(Oleh Chang I-lien, Lee Chieh-yu, dan Jennifer Aurelia)  

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.