Taipei, 4 Sep. (CNA) Pengadilan Ringkasan Nara di Jepang pada Rabu (3/9) menjatuhkan denda sebesar 500.000 yen (Rp56,39 juta) kepada seorang artis asal Taiwan karena melakukan vandalisme pada Batu Jejak Kaki Buddha saat berkunjung ke Kuil Yakushiji di Prefektur Nara bulan April, menurut penyiar nasional Jepang NHK pada Kamis.
NHK melaporkan bahwa seorang pembawa acara asal Taiwan berusia 39 tahun yang ditangkap atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Properti Budaya Jepang telah dibebaskan dari tahanan polisi setelah membayar denda sebesar 500.000 yen menyusul sebuah tuntutan ringkas.
Tuntutan ringkas dalam sistem hukum Jepang adalah prosedur pidana yang disederhanakan untuk menangani pelanggaran ringan melalui dokumen tertulis, bukan melalui persidangan di pengadilan.
Pembawa acara wanita tersebut ditangkap oleh polisi Jepang pada 22 Agustus atas dugaan bahwa ia telah meneteskan minyak ke sebuah harta nasional yang terletak di Kuil Yakushiji yang terdaftar sebagai Warisan Dunia pada bulan April.
Menurut laporan NHK, wanita asal Taiwan tersebut mengatakan kepada penyidik bahwa ia sangat menyesali perbuatannya, menjelaskan bahwa ia memiliki kebiasaan menaburkan minyak pada benda-benda yang menggerakkan emosinya.
Kyodo News Jepang juga melaporkan pada Kamis bahwa Kantor Kejaksaan Distrik Nara mengonfirmasi bahwa seorang wanita Taiwan berusia 39 tahun menerima sebuah tuntutan ringkas dan didenda 500.000 yen pada Rabu karena menodai Batu Jejak Kaki Buddha yang sakral di kuil tersebut dengan minyak.
Media Jepang mengidentifikasi artis Taiwan tersebut sebagai Tsai Yi-chen (蔡宜臻). Ia lebih dikenal dengan nama panggung lamanya, Wu-hsiung (五熊).
Tsai menanggapi keterlibatannya dalam kasus tersebut pada Kamis, dengan memposting komentar publik pertamanya tentang insiden itu di Facebook dalam bahasa Mandarin dan Jepang. Ia juga mengonfirmasi bahwa penyelidikan telah selesai dan ia telah dibebaskan.
Tsai mengatakan perilakunya tersebut terjadi karena ketidaktahuan dan menyampaikan permintaan maaf kepada Jepang serta Kuil Yakushiji. Ia mengakui bahwa tidak ada alasan atas kurangnya kesadaran dirinya terhadap adat istiadat dan hukum yang berlaku di negara lain.
Ia kemudian meminta maaf kepada masyarakat Taiwan karena telah memberikan contoh buruk dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya.
Selesai/ML