Taipei, 29 Juli (CNA) Taiwan telah mencatat kematian pertama akibat ensefalitis Jepang tahun ini, kata Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) pada hari Selasa (28/7).
Korban jiwa adalah seorang wanita berusia 70-an tahun dari Taoyuan yang memiliki riwayat hipertensi. Ia mengalami kelemahan, mengantuk, dan demam pada pertengahan Juli dan mencari perawatan medis darurat dua hari setelah gejalanya muncul, menurut ahli epidemiologi CDC Lin Yung-ching (林詠青).
Ia dirawat di ruang perawatan intensif setelah dinyatakan positif ensefalitis Jepang. Ia meninggal pada akhir Juli akibat gagal napas setelah lebih dari seminggu dirawat di rumah sakit, menjadikannya kasus kematian pertama akibat penyakit ini di Taiwan pada tahun 2026, kata Lin.
Pejabat kesehatan mengatakan tidak ada seorang pun yang tinggal bersamanya yang mengalami gejala.
CDC juga melaporkan kasus baru kedua yang melibatkan seorang pria berusia 50-an tahun dari Taoyuan. Ia mengalami demam dan sakit kepala pada pertengahan Juli sebelum pingsan dua hari setelah jatuh sakit.
Awalnya ia didiagnosis menderita meningitis, namun tes lanjutan memastikan ensefalitis Jepang. Ia masih dirawat di rumah sakit dan menunjukkan sedikit perbaikan pada tingkat kesadarannya, kata Lin.
Peneliti kesehatan menemukan bahwa wanita tersebut tinggal di dekat sawah, sungai kecil, peternakan babi, dan kandang burung merpati, lingkungan yang dianggap mendukung bagi nyamuk penyebar virus.
Pihak berwenang telah melakukan investigasi lingkungan di sekitar tempat tinggal pasien kedua, memasang perangkap nyamuk, serta meningkatkan edukasi masyarakat dan upaya vaksinasi anak-anak di wilayah tersebut.
Taiwan telah mengonfirmasi 10 kasus ensefalitis Jepang tahun ini, termasuk satu kematian. Enam kasus dilaporkan di Taoyuan, sementara Kabupaten Changhua, Yunlin, Chiayi, dan Hualien masing-masing mencatat satu kasus, menurut CDC.
Meskipun Taoyuan melaporkan jumlah infeksi terbanyak, Direktur Jenderal CDC Lo Yi-chun (羅一均) mengatakan investigasi epidemiologi menunjukkan kasus-kasus tersebut tidak saling terkait dan tidak membentuk klaster.
Setelah pertemuan dengan para ahli penyakit menular, pihak berwenang akan mengidentifikasi lokasi berisiko tinggi di seluruh kota, termasuk peternakan babi dan fasilitas burung merpati, serta bekerja sama dengan instansi pertanian dan asosiasi peternak merpati untuk memperkuat pengendalian nyamuk. Pejabat juga telah mulai memasang perangkap untuk mengurangi kepadatan nyamuk.
CDC mengatakan ensefalitis Jepang di Taiwan terutama ditularkan oleh nyamuk Culex, termasuk Culex tritaeniorhynchus, yang berkembang biak di sawah, saluran irigasi, kolam, dan genangan air lainnya.
CDC mengatakan sebagian besar infeksi tidak menimbulkan gejala. Mereka yang jatuh sakit biasanya mengalami demam dan sakit kepala, sementara kasus berat dapat menyebabkan ensefalitis, kebingungan, kelemahan otot, kejang, koma, atau kematian.
Musim ensefalitis Jepang di Taiwan biasanya berlangsung dari Mei hingga Oktober, dengan puncak penularan pada bulan Juni dan Juli, kata CDC.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk menghindari paparan nyamuk saat fajar dan senja, terutama di dekat fasilitas peternakan, serta mengenakan pakaian lengan panjang dan menggunakan obat anti-nyamuk yang mengandung DEET, picaridin, atau IR3535 jika paparan tidak dapat dihindari.
Selesai/ML