NIA gelar seminar AI untuk tingkatkan literasi digital imigran baru

28/05/2026 16:32(Diperbaharui 28/05/2026 16:32)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

(Sumber Foto : NIA)
(Sumber Foto : NIA)

Taipei, 28 Mei (CNA) Direktorat Jenderal Imigrasi (NIA) Taiwan baru-baru ini menggelar seminar kecerdasan buatan (AI) bagi imigran baru di Kota Keelung guna membantu meningkatkan kemampuan dan literasi digital mereka.

Dalam rilis pers pada Rabu (28/5), NIA mengatakan kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Kantor Layanan Kota Keelung di bawah Korps Urusan Wilayah Utara dan diikuti oleh lebih dari 20 imigran baru asal Indonesia, Tiongkok, Vietnam, Filipina, dan negara lainnya.

NIA mengundang Ketua Asosiasi Promosi Pembangunan Berkelanjutan Imigran Baru, Hsiao Chien-pei (蕭千霈), yang telah lama terlibat dalam layanan publik dan edukasi AI bagi imigran baru, untuk menjadi pembicara dalam seminar tersebut.

Hsiao, yang memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang pemasaran kebijakan, hubungan masyarakat, dan integrasi digital, mengatakan hal terpenting di era AI bukanlah seberapa canggih teknologinya, melainkan bagaimana masyarakat umum dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas hidup.

Menurutnya, banyak keluarga imigran baru masih menghadapi kesenjangan informasi sehingga ia berharap AI dapat diperkenalkan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan anak, kesehatan, pengetahuan hukum, pembelajaran, hingga usaha kecil.

Dalam seminar tersebut, Hsiao menjelaskan perbedaan antara ChatGPT dan Gemini dengan cara yang mudah dipahami peserta.

Ia menggambarkan ChatGPT sebagai “asisten tutor yang perhatian” yang cocok untuk percakapan, pendampingan emosional, pengembangan ide kreatif, dan pembelajaran, sementara Gemini disebut lebih menyerupai “asisten pengelola efisien” yang unggul dalam pencarian informasi, integrasi sistem Google, dan pengaturan jadwal.

Melalui berbagai contoh praktis, peserta juga diperkenalkan pada pemanfaatan AI dalam memasak, perencanaan perjalanan, perawatan kesehatan, penerjemahan bahasa, pengelolaan keuangan rumah tangga, hingga pemasaran media sosial.

Salah satu topik yang paling menarik perhatian peserta adalah penggunaan AI untuk membuat resep dari bahan makanan sisa di kulkas, asisten pencatatan keuangan keluarga, pembuatan proposal dan presentasi secara cepat, serta desain poster iklan menggunakan AI, menurut NIA.

Dalam sesi demonstrasi, peserta diperlihatkan cara memotret bahan makanan di kulkas menggunakan ponsel lalu mengunggahnya ke alat AI untuk menghasilkan rekomendasi menu berdasarkan jumlah anggota keluarga, kebutuhan gizi, atau pola makan rendah gula, rendah garam, dan rendah lemak.

Hsiao juga mengingatkan peserta agar tetap memperhatikan privasi dan keamanan informasi saat menggunakan AI, termasuk tidak sembarangan memasukkan nomor identitas, rekening bank, maupun data pribadi penting lainnya.

Ia menekankan bahwa AI hanyalah alat bantu untuk kehidupan sehari-hari dan tidak dapat sepenuhnya menggantikan penilaian manusia, sehingga kemampuan menggunakan teknologi secara benar dan aman menjadi bagian penting dari literasi digital.

Kepala Kantor Layanan Kota Keelung NIA, Lo Pai-li (羅白莉), mengatakan pihaknya akan terus mendorong program pembelajaran digital dan pendidikan kehidupan berbasis teknologi guna membantu imigran baru beradaptasi lebih baik di Taiwan serta membangun masyarakat yang lebih inklusif dan ramah.

(Oleh Huang Li-yun dan Jennifer Aurelia)

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.