Taipei, 17 Apr. (CNA) Pekerja migran diajak turun ke jalan di pawai Hari Buruh di Taipei pada 1 Mei mendatang, dengan tuntutan utama agar dicakup dalam skema pensiun baru dan dilindungi asuransi tenaga kerja tanpa memandang sektor, kata kelompok buruh pada Jumat (17/4).
"Saatnya tiba! Masukkan pekerja migran ke dalam sistem pensiun Taiwan!" kata Marni dari Serikat Buruh Industri Perawatan Taiwan (SBIPT) dalam konferensi pers di Bulevar Ketagalan di depan Kantor Kepresidenan, tempat aksi Hari Buruh direncanakan dimulai pada 1 Mei siang.
Pekerja migran yang telah menjadi penopang penting di sektor konstruksi, manufaktur, dan perawatan jangka panjang Taiwan "masih menghadapi pengecualian yang jelas dan bersifat struktural", dengan dikecualikan dari sistem pensiun baru, kata Marni.
Tanpa jaminan pensiun, para pekerja migran manufaktur dan konstruksi -- yang dicakup skema pensiun lama -- "sering terpaksa bekerja lebih lama dan lembur di usia muda, yang berdampak pada kesehatan" dan tidak hanya merugikan individu, tetapi juga "memperdalam perpecahan di pasar tenaga kerja", ujarnya.
Dalam skema pensiun lama, pemberi kerja harus menyumbang 2-15 persen dari gaji bulanan setiap pekerja ke dana cadangan pensiun tenaga kerja bersama, bukannya ke rekening individu, dan pekerja migran harus tetap bekerja pada majikan yang sama selama sepuluh tahun untuk memenuhi salah satu syarat kelayakannya.
Sementara itu, Marni juga mempertanyakan siapa yang akan merawat pekerja migran perawatan -- yang tidak dicakup dalam skema pensiun -- ketika menjadi tua atau sakit tetapi tidak memiliki "perlindungan sosial dan pensiun yang memadai", sementara mereka telah merawat orang tua dan keluarga di Taiwan.
Oleh karena itu, kata Marni, melalui tuntutan bersama aliansi aksi Hari Buruh, SBIPT menyuarakan revisi sistem pensiun baru agar tidak lagi membedakan berdasarkan kewarganegaraan, status, atau bentuk hubungan kerja, melainkan dilandaskan pada prinsip bahwa setiap orang yang bekerja dan menerima upah harus dicakup.
Selain itu, ucapnya, SBIPT meminta perawat domestik dimasukkan ke dalam sistem asuransi tenaga kerja -- yang saat ini telah melindungi pekerja migran sektor formal -- "Sehingga kami mendapatkan perlindungan sosial yang setara dengan pekerja lainnya."
SBIPT juga mendorong pemerintah untuk meningkatkan subsidi premi asuransi tenaga kerja bagi pekerja perawatan hingga 50 persen, "Guna mengurangi beban keluarga pemberi kerja dan membangun sistem yang lebih adil serta berkelanjutan," tambahnya.
Reformasi ini, kata Marni, bukan hanya untuk pekerja migran, tetapi juga menyangkut stabilitas tenaga kerja perawatan jangka panjang dan kesehatan sistem ketenagakerjaan secara keseluruhan, seiring keberlanjutan sistem juga akan terancam ketika para penopang masyarakat tidak mendapatkan perlindungan.
"Kami juga pekerja, maka kami harus dilindungi. Kami juga berkontribusi, maka kami harus dilihat. Mari bersama-sama mendorong sistem pensiun yang benar-benar adil bagi semua pekerja," kata Marni seraya mengajak seluruh pekerja migran dan organisasi buruh untuk bersama-sama turun pada Hari Buruh.
Sementara itu, Ketua Confederation of Taipei Trade Unions Chiu Yi-kan (邱奕淦), yang juga komando lapangan aksi, menegaskan pekerja migran memiliki kontribusi besar terhadap industri, dan kondisi kerjanya seharusnya setara dengan pekerja lokal terlebih di tengah tren internasional yang menolak kerja paksa.
Dalam konferensi pers Jumat, juga terdapat aksi teatrikal di mana sistem perlindungan yang disediakan pemerintah digambarkan sebagai "payung berlubang" karena dianggap tidak lengkap, dan tidak dapat melindungi pekerja lokal dan migran dari "hujan".
Untuk mendapatkan dana pensiun sesuai skema lama, kata perwakilan SBIPT dalam aksi teatrikal, pekerja migran manufaktur harus bekerja di pabrik yang sama selama sepuluh tahun, yang hampir "mustahil" seiring kontrak mereka "bisa diputus kapan saja".
Sementara itu, "Pekerja migran perawat malah lebih berat. Bekerja 24 jam di rumah majikan, tanpa asuransi tenaga kerja, tanpa dana pensiun," ucapnya. "Mengapa sama-sama bekerja di Taiwan, tetapi kami tidak punya perlindungan?"
Pawai 1 Mei akan dimulai dengan berkumpul di Bulevar Ketagalan pada pukul 12.00, dilanjutkan dengan aksi pada pukul 13.00, dan keberangkatan pada pukul 13.30 hingga tiba di Yuan Legislatif, dengan disertai undangan kepada perwakilan tiga fraksi untuk memberikan tanggapan, menurut rencana aliansi.
Menurut SBIPT, organisasi beranggotakan pekerja migran yang telah mengonfirmasi akan berpartisipasi termasuk Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas (GANAS) COMMUNITY, Serikat Buruh Industri Manufaktur Taiwan (SEBIMA), Serikat Pekerja Migran Industri Taiwan (SPMT), dan Domestic Caretaker Union (DCU).
Secara keseluruhan, tuntutan bersama aliansi aksi Hari Buruh tahun ini mencakup peningkatan kontribusi pemberi kerja dalam skema pensiun baru, perbaikan perhitungan manfaat dalam skema lama, dan kenaikan batas tingkat gaji yang digunakan untuk asuransi tenaga kerja dan pensiun.
Tuntutan juga termasuk memastikan seluruh pekerja dilindungi jaminan sosial, memasukkan pekerja migran ke skema pensiun baru, menjamin kontribusi penuh untuk dana pensiun pegawai negeri dan guru, serta pengembalian kompensasi masa kerja, serta menyamakan tingkat kontribusi dana pensiun sektor publik dan swasta menjadi 15 persen.
Selesai/ja