Taipei, 26 Mar. (CNA) Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) Taiwan hanya menyetujui 7.000 dari 20.000 kuota pekerja migran pertanian tambahan yang diajukan Kementerian Pertanian (MOA), mengingat tingginya angka hilang kontak di sektor tersebut, kata pejabat Direktorat Jenderal Pengembangan Tenaga Kerja (WDA) pada Rabu (25/3).
Menurut MOL, Taiwan memulai uji coba program pekerja migran pertanian pada 2019 dengan 800 orang. Hingga pertengahan Juni 2023, jumlahnya meningkat menjadi 12.000 orang, dan pada September 2024 ditambah lagi sebanyak 8.000 orang, sehingga total kuota saat ini telah mencapai 20.000 orang.
Setelah rapat MOL, Su Yu-kuo (蘇裕國), kepala seksi di WDA, mengatakan bahwa untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor pertanian, MOA hari Rabu kembali mengajukan proposal untuk menambah kuota sebanyak 20.000 orang lagi.
Su menyatakan bahwa ada fakta kekurangan tenaga kerja yang mendesak bagi para pemberi kerja di sektor pertanian, tetapi penambahan kuota harus dilakukan secara bertahap sebagai instrumen kendali, agar majikan dan kementerian terkait lebih serius dalam membimbing pekerja dan menaati peraturan hukum.
Menurut statistik, rata-rata angka pekerja migran hilang kontak secara keseluruhan di Taiwan adalah 3 persen, sementara di sektor pertanian mencapai 9 persen.
Oleh karena itu, kata Su, MOA diminta memberikan laporan mengenai bimbingan sengketa perburuhan, peninjauan kasus pekerja hilang kontak, serta penguatan kepatuhan hukum bagi pemberi kerja.
Su melanjutkan bahwa penambahan kuota akan dilakukan secara bertahap, di mana saat ini telah diberikan 7.000 kuota baru. Setelah evaluasi satu tahun, jika kondisi angka hilang kontak turun menjadi 8 persen, akan kembali ada 7.000 tambahan, ujarnya.
Setelah itu, jika angka tersebut turun menjadi 6,5 persen, di tahap ketiga MOL akan menyetujui tambahan 6.000 kuota lagi, menurut Su.
Selain itu, kata Su, MOA juga mengusulkan penambahan kategori baru yang diizinkan menggunakan jasa pekerja migran, meliputi peternakan lebah, pertanian organik, manajemen tanaman pangan, serta penyesuaian kualifikasi untuk industri kacang tanah, yang diperkirakan akan menyerap 2.300 orang dari kuota tahap pertama.
Di sisi lain, Direktorat Jenderal Perikanan (FA) MOA juga mendapatkan persetujuan untuk mempekerjakan pekerja migran pada kapal penangkap ikan kecil, tutur Su.
Sementara itu, industri kembang api kini dimasukkan ke dalam kategori manufaktur produk kimia, sehingga berhak atas kuota pekerja migran sebesar 15 persen serta diizinkan mempekerjakan tenaga teknis asing, tambahnya.
(Oleh Wu Hsin-yun dan Agoeng Sunarto)
Selesai/JC