Survei: Hampir 20% anak tunjukkan tanda-tanda kecemasan sosial

26/03/2026 12:06(Diperbaharui 26/03/2026 12:06)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Foto untuk tujuan ilustrasi semata. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Foto untuk tujuan ilustrasi semata. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Taipei, 24 Mar. (CNA) Hampir satu dari lima anak sekolah di Taiwan menunjukkan tanda-tanda kecemasan sosial, menurut survei yang dirilis Child Welfare League Foundation (CWLF), Selasa (24/3).

Survei tersebut menemukan bahwa 18,6 persen anak menunjukkan ciri-ciri yang terkait dengan kecemasan sosial. Bahkan di antara mereka yang mengidentifikasi diri sebagai ekstrovert, 11,2 persen memenuhi kriteria tersebut.

Yayasan tersebut mencatat bahwa beberapa anak yang tampak aktif di luar mungkin sedang menyembunyikan kecemasan.

Anak-anak dengan kecemasan sosial secara signifikan lebih jarang mengekspresikan diri. Sekitar 16,2 persen mengatakan mereka jarang berinteraksi dengan orang lain di kehidupan nyata, dibandingkan dengan 8,2 persen anak lainnya.

Sementara itu, 18,3 persen mengatakan mereka terlalu gugup untuk mengekspresikan diri secara daring, dibandingkan dengan 4,3 persen teman sebayanya.

Mereka juga lebih jarang membela diri. Hanya 9,6 persen yang mengatakan mereka akan melawan serangan daring, dibandingkan dengan 24,4 persen dari mereka yang tidak mengalami kecemasan. Dalam situasi nyata, 23,4 persen mengatakan mereka akan menghentikan ejekan, dibandingkan dengan 35,5 persen anak lainnya.

Survei menemukan bahwa 28,9 persen anak dengan kecemasan sosial tidak akan memberi tahu siapa pun saat menghadapi kesulitan. Banyak dari mereka justru beralih ke interaksi daring, dengan 36,9 persen mengatakan mereka merasa lebih santai saat mengobrol dengan teman daring.

Kecemasan sosial juga memengaruhi keterlibatan di sekolah dan kesehatan. Sekitar 17,3 persen anak yang terdampak melaporkan tidak ingin pergi ke sekolah, dibandingkan dengan 4,5 persen anak lainnya.

Sementara itu, 63,9 persen melaporkan masalah tidur, dengan 11,9 persen mengalaminya setiap malam -- kira-kira dua kali lipat dari anak lainnya.

Dinamika keluarga dan teman sebaya mungkin terkait dengan kondisi ini. Anak-anak dengan kecemasan sosial lebih mungkin melaporkan dimarahi atau dipertanyakan tentang pekerjaan rumah di rumah (18,4 persen dibandingkan 11,5 persen).

CWLF mengatakan melemahnya sistem dukungan teman sebaya juga dapat berperan, dengan 46,9 persen dari semua anak yang disurvei jarang menerima penghiburan dan 36,1 persen jarang menerima bantuan.

Survei tersebut juga menunjukkan penurunan keterampilan sosial. Sekitar 38,3 persen anak mengatakan mereka tidak tahu cara berteman, naik dari 23,3 persen pada 2019, sementara 51,6 persen mengatakan mereka tidak berani mengungkapkan pendapat sebenarnya. Mereka yang tidak tahu cara berdamai setelah konflik naik menjadi 56,9 persen dari 42,4 persen.

Perilaku daring menunjukkan kontras dengan interaksi di kehidupan nyata. Sementara 32,7 persen mengatakan mereka menghindari konflik di sekolah, 21,7 persen mengatakan mereka akan langsung menghadapi orang lain secara daring. Selain itu, 29 persen mengatakan lebih mudah berbicara dengan teman secara daring daripada secara langsung, dan 42,5 persen mengatakan mereka lebih sering berinteraksi dengan teman sekelas secara daring.

CWLF mendesak orang tua untuk memberikan dukungan emosional dan membangun kepercayaan dengan anak-anak mereka, serta meminta sekolah untuk memperkuat pendidikan sosial dan emosional. CWLF juga mendorong masyarakat untuk tidak memberi label negatif pada anak yang pendiam dan membantu membangun lingkungan yang mendukung.

Survei ini mengumpulkan 1.255 respons valid dari siswa kelas lima dan enam di Taiwan pada September dan Oktober 2025. Survei ini memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error plus atau minus 2,76 poin persentase.

Kecemasan sosial diukur menggunakan respons yang dilaporkan sendiri berdasarkan Social Anxiety Scale for Children-Revised (SASC-R).

(Oleh Chang Hsiung-feng, Wu Kuan-hsien, dan Muhammad Irfan)

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.