New Taipei, 3 Feb. (CNA) Ketua Umum (Ketum) Asosiasi Perusahaan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (ASPATAKI) Saiful Mashud hari Senin (2/2) menemui anak buah kapal (ABK) migran di Pelabuhan Perikanan Shen'ao dan seorang perawat migran di rumah majikannya.
Menurut pengamatan CNA, di tengah hujan deras, sekitar 15 ABK di Shen'ao, New Taipei menyambut kedatangan Saiful yang berdurasi satu jam dan berdialog bersamanya.
Yanto, salah satu ABK asal Pemalang telah lima bulan bekerja mengatakan bahwa ia cocok bekerja di kapalnya.
"Alhamdulilah cocok kerja di sini karena saya memang kerjanya sebelumnya sebagai nelayan. Ada banyak suka duka yang saya hadapi. Kalau sukanya sih karena gajinya besar, dibandingkan di Indonesia dan banyak teman-teman dari Indonesia. Kalau dukanya ya khawatir karena ombak besar. Tetapi selama ini lancar saja tidak ada kendala, makan juga terjamin," ungkapnya.
"Jadi buat teman-teman yang mau kerja jadi ABK ke Taiwan harus punya semangat kerja, cita-cita dan tujuan, dan tidak cengeng," tambah ABK yang bekerja di bongkar muat kapal ini.
Saiful juga menemui seorang ABK asal Cirebon yang sudah bekerja sebelas tahun, menanyakan apakah ia sempat berinvestasi dan mempunyai usaha dari hasil kerjanya. ABK tersebut mengatakan ia sudah dapat membangun rumah dan menghidupi anak istrinya hingga keempat anaknya sudah besar dan sekolah tinggi.
Ketika ditanya Saiful apakah yang menjadi kendala dalam bekerja, ABK tersebut mengatakan ia terkadang masih merasa takut jika ombak di laut besar. "Tetapi ya itu risiko jadi ABK pak, saya berserah saja sama yang Kuasa," ujarnya.
Saiful pun menanggapi dengan berpesan untuk tetap berdoa dan berserah. Ketika ditanya soal gaji dan hubungan agensi, ABK tersebut mengatakan pengupahannya lancar, dan agensinya sering datang untuk berdialog maupun hanya sekadar menanyakan kabar dengan melihat keadaannya saat kapal bersandar.
"Gaji alhamdulilah lancar. Agensi juga selalu menengok, sering datang. Kalau sakit majikan yang bantu berobat," ujar ABK yang bekerja di kapal jaring ini.
Saiful juga mengunjungi kapal penangkap cumi yang diawaki lima ABK, dan berdialog bersama mereka. Saiful sempat terheran bahwa mereka harus tidur di kapal tanpa punya mes.
Sebelum meninggalkan pelabuhan, Saiful pun mendoakan agar semua pekerjaan mereka lancar, sukses, dan berkah serta bisa membeli rumah di Indonesia dan juga membiayai keluarga.
Menurut data Ever Prosper International Employment Consultant, sebanyak 200 ABK Indonesia bekerja di Pelabuhan Perikanan Shen'ao, 100 di antaranya merupakan bagian dari agensi tersebut.
Ahan, dari agensi Ever Prosper, mengatakan kepada CNA bahwa pihaknya selalu melakukan kunjungan kepada ABK-nya untuk berdialog mengatasi kendala pekerjaannya maupun hanya sekadar kunjungan rutin saja.
Kunjungan ke rumah majikan perawat migran
Saiful juga melakukan kunjungan lainnya ke rumah majikan perawat Indonesia yang berada di Distrik Yonghe, New Taipei, diterima pemberi kerja pekerja migran Indonesia (PMI) yang menjaga anaknya. Saiful pun berdialog dengan Anita Puji Astuti dari Demak, Jawa Tengah yang telah bekerja di rumah tersebut delapan bulan.
Saat ditanya mengenai pekerjaannya, Anita mengatakan ia merawat orang dewasa yang punya keterbatasan mental berusia 40 tahun. Umurnya sudah tua, tetapi perilaku seperti anak-anak, menurutnya.
"Saya setiap hari harus membuat dia senang agar tidak tantrum. Pasien saya susah kalau disuruh makan, karena makanannya sering dibuat mainan. Kadang-kandang emosinya juga tak stabil, tiba-tiba marah, masuk kamar dan membanting pintu. Buat saya itu sudah biasa. Yang paling berat itu kita harus tahu keadaan dan situasi hati pasien dan harus membuatnya selalu merasa senang," ujar Anita.
Saat ditanya apakah ia nyaman bekerja di rumah pemberi kerja tersebut, Anita mengaku dirinya memerlukan adaptasi yang ekstra. Awalnya, ujarnya, ia susah dan hampir menyerah ingin pindah kerja karena pasien yang dihadapi seperti itu, dan majikannya berbicara dengan keras. Ia sempat mengira majikannya sering marah-marah.
"Awalnya saya kira marah, eh tahunya kalau orang Taiwan itu bicaranya keras ya seperti orang marah-marah. Agensi saya yang memberitahu saya untuk tetap sabar dan bisa beradaptasi. Akhirnya saya bisa menerima keadaan dan belajar bahasa dari majikan saya," ujarnya.
"Sekarang saya bisa dekat dengan majikan," tuturnya. "Terima kasih ibu bos," ucap Anita dalam bahasa Mandarin sambil memeluk majikannya.
Saat Saiful bertanya bagaimana gaji dan makan sehari-hari Anita, ia mengatakan bahwa upahnya lancar dan majikan menyediakan bahan-bahan makanan. Ia pun diperbolehkan memasak makanan kesukaannya di rumah.
Saat ditanya Saiful apa yang berat dari pekerjaan menjaga pengidap autisme tersebut, Anita mengatakan kini dia tahu bagaimana caranya. Bahkan, saat Anita di Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) sebelum terbang ke Taiwan, setelah tahu bahwa yang dijaganya adalah orang yang mempunyai keterbatasan mental, ia pun mencari-cari informasi sendiri di internet mengenai cara perawatannya.
Anita berpesan pada rekan-rekan PMI lainnya yang belum pernah bekerja ke luar negeri sepertinya dan baru pemula, harus mempersiapkan mental yang kuat. "Siapkan mental yang kuat, harus cepat belajar bahasa dan cekatan," pesannya.
"Saya sekarang tahu kuncinya bukan hanya sabar saja, tetapi tahu apa yang disukai pasien. Pasien saya itu suka dipeluk disayang dicium, dielus-elus punggungnya. Nah saya lakukan itu lo setiap hari. Bahkan kalau ia susah bangun pagi, saya pasti cium dia dan elus punggungnya agar dia bisa bangun. Pelan-pelan, pokoknya kerja harus dengan hati," tambah Anita.
Saat ditanya Saiful mengenai pesan apa yang ingin disampaikan ke keluarganya di Indonesia, Anita menitikkan air mata. Ia mengatakan dirinya sangat rindu dengan keluarganya.
Namun, ketika ditanya Saiful apakah ia ingin pulang ke Indonesia setelah masa kontraknya selesai, Anita mengatakan bahwa ia ingin lanjut saja bekerja dan tidak mau kembali dulu meskipun majikannya akan memberinya cuti satu bulan. "Kemungkinan nanti suami saya saja pak yang menyusul saya bekerja di Taiwan."
Saiful pun berpesan agar PMI yang memutuskan bekerja di luar negeri harus kuat. Rasa rindu keluarga itu wajar dan keluarga juga pasti merasakan hal yang sama, menurutnya. Ia mengimbau agar seluruh PMI tetap bekerja dengan baik, telaten, dan sabar karena apa pun pekerjaannya pasti ada risiko yang dihadapi.
Selesai/JC