Taipei, 2 Feb. (CNA) Suasana restoran Day-Day Jamu di dekat Taipei Main Station pada Minggu (1/2) siang ramai dipadati sekitar 30 pekerja migran Indonesia (PMI) yang sedang mengadakan reuni sekaligus bertemu Ketua Umum (Ketum) Asosiasi Perusahaan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (ASPATAKI) Saiful Mashud.
Ditemui CNA di sela-sela acara, Saiful mengatakan bahwa tujuan kedatangannya ke Taiwan ini untuk kunjungan PMI dan berdiskusi bersama Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei.
"Pertama kita kunjungan ke KDEI untuk menyelesaikan permasalahan PMI terhadap kasus-kasus yang mungkin PMI sedang hadapi seperti PHK secara sepihak. Kita harus berdiskusi bagaimana cara mengatasi persoalannya antara majikan, KDEI, dan agensi, karena ini perlindungan di saat mereka bekerja, dan ini terjadi di negara penempatan. Hal itu sudah diatur dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2017 Pasal 21," ujarnya.
Hal yang menarik dalam kunjungannya kali ini, kata Saiful, adalah ia diberi kesempatan untuk mengunjungi panti Harmony Home Foundation, Taiwan di mana terdapat banyak anak-anak PMI yang dititipkan, bahkan ada yang ditinggalkan orang tuanya.
"Kita menemui anak-anak PMI yang nasibnya kurang baik. PMI wanita ada yang hamil tanpa diperhitungkan sebelumnya, dan laki-lakinya tidak bertanggung jawab atau kondisi mereka sebagai pekerja kaburan, sehingga anak-anak yang kita temui kemarin para balita itu saat bertemu saya, mereka itu minta digendong terus. Anak-anak ini membutuhkan kehangatan seorang ayah," ujar Saiful.
Saiful juga mengatakan kunjungannya kali ini bertujuan untuk menemui para PMI secara langsung dan berdialog bersama mereka.
"Kegiatan semacam ini sangat bagus ya karena dapat membangun komunikasi antara PMI, agensi dan petugas P3MI (Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia), jadi ketika terjadi hambatan atau hal-hal kesalahpahaman bisa diluruskan bersama," ujarnya.
"Saya juga mendapat pesan dari PMI terutama yang sudah berpengalaman lebih dari tiga tahun, harapan mereka untuk dapat naik gaji, minta disampaikan pada Pak Menteri Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI)," tambah Saiful.
Saiful menjelaskan, gaji perawat migran sejak 2020 belum ada kenaikan, masih sekitar angka NT$20.000 (Rp10,6 juta), dan berbeda dengan sektor formal yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini, menurutnya, menjadi tantangan bagi Deputi Bidang Penempatan dan Pelindungan Kawasan Asia dan Afrika KP2MI dalam pertemuan Joint Working Group di Bali pada Februari mendatang.
"Mudah-mudahan suara ini bisa sampai pada Dirjen Penempatan atau para Direktur KP2MI untuk menyuarakan kenaikan gaji bagi PMI yang bekerja ke pemberi kerja perseorangan, terutama yang sudah perpanjangan kontrak. ASPATAKI mendorong agar hal itu dapat menjadi komitmen bersama. Masa PMI yang dua tahun bekerja gajinya sama dengan PMI yang sembilan tahun bekerja, ini kan tidak adil," terang Saiful.
Tak hanya PMI, ia juga menitipkan pesannya pada anggota ASPATAKI atau P3MI agar bersama-sama memperbaiki kinerja dan tranparasi terhadap biaya lain selain biaya penempatan.
"Mengenai biaya lain itu harus dituangkan dalam kesepakatan sebagaimana diatur sesuai ketentuan pasal 1320 dan 1338 KUHPerdata, sehingga ketika PMI ada masalah ia paham," kata Saiful.
"Selama ini yang terjadi kan karena kurangnya komunikasi yang baik antara P3MI dan PMI. Harapan kami nanti ketika saya pulang ke Indonesia, seluruh anggota ASPATAKI atau P3MI semuanya saya kumpulkan berikan pelajaran khusus bagaiamana mempersiapkan PMI sektor yang bekerja ke pemberi kerja berbadan hukum maupun perseorangan, yang akan bekerja di Taiwan," ujarnya.
Sementara itu, beberapa PMI yang hadir mengatakan kepada CNA bahwa mereka senang diberi kesempatan untuk reuni bersama rekan-rekannya yang dulu bersama-sama mempersiapkan diri ke Taiwan.
"Saya senang sekali adanya kegiatan ini. Selain dapat makan gratis, kita juga bisa temu kangen dengan teman-teman yang dulu satu PT. Terima kasih agensiku yang baik," ujar Lina yang sudah enam tahun di Taiwan, bekerja di majikan yang sama.
Sunarto, anak buah kapal asal Pemalang di Pelabuhan Senao New Taipei menceritakan bahwa selama ia bekerja di Taiwan selama sembilan tahun, tidak ada kendala apapun. Ia pun berpesan bagi rekan-rekan calon PMI yang masih menunggu pekerjaan di kantor P3MI untuk tetap semangat.
"Terus berjuang, jangan patah semangat, pejuang keluarga devisa negara, tetap menunggu dengan sabar sampai nanti mendapat pekerjaan ke Taiwan. Merdeka," ungkapnya menggebu-gebu disusul tepuk tangan meriah dari rekan-rekannya.
Sementara itu, Astari yang sudah bekerja lebih dari 12 tahun dan telah berstatus Pekerja Teknis Tingkat Menengah (PTTM) selama tiga tahun mengatakan ia sangat senang dengan pertemuan ini karena dapat bertemu teman-teman lamanya. Ia pun mengungkapkan kepada CNA bahwa ia sangat bersyukur punya agensi dan majikan yang baik, sehingga mengizinkannya untuk beralih ke PPTM tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.
"Saya ingin membagi tips untuk para PMI yang lain terutama yang menjaga orang tua. Pertama, cintai dulu pekerjaanmu, sabar dan jalani pekerjaanmu dengan ikhlas, niscaya akan terasa ringan. Kakek saya tidak bisa ngomong, stroke total, tiap hari saya sedot dahak. Namun saya jalani dengan tanpa komplain, nah waktu terasa cepat berlalu," ujar Astari yang berasal dari Bali.
Ia pun berpesan kepada Saiful agar dapat menyampaikan harapan para perawat migran PMI yang bekerja ke pemberi kerja perseorangan untuk bisa naik gaji.
"Bapak Ketum saya harap teman-teman yang lain bisa naik gaji yah. Kalau saya sih gajinya sudah NT$33.000 tapi teman-teman yang lain masih di angka NT$ 20.000 tolong lah agar gajinya naik tiap tahun. Masa yang naik hanya sektor informal. Kita yang kerja 24 jam, ini juga harus naik, apalagi ASKES nanti juga naik, tapi gaji teman-teman tidak kunjung naik," pungkas Astini didukung teman-temannya yang lain.
Selesai/JC