Oleh Muhammad Irfan, Reporter Staf CNA
“Biarkan memori tentangnya tetap hidup,” Brian Hioe dari New Bloom menyampaikan hal tersebut pada sekitar 30 orang yang ikut tur jalan kaki untuk mengenang insiden pembantaian 228 yang terjadi di Taiwan 78 tahun lalu.
Kini, insiden pembantaian 228 (28 Februari) itu menjadi hari libur nasional di Taiwan. Insiden tersebut jadi penting karena momen itu memicu ditetapkannya Taiwan dalam darurat militer dari tahun 1949 sampai tahun 1987. Menjadi salah satu masa darurat militer terpanjang di dunia, yang penerapannya juga memakan banyak korban jiwa.
Tur jalan kaki 228 yang dihelat oleh New Bloom, sebuah media alternatif di Taiwan, dimulai dari Tianma Tea House di distrik Datong, sebuah tempat minum teh di Taipei tahun 1940-an yang menjadi titik api dari insiden 228. Brian memandu tur dengan memaparkan kejadian di tempat tersebut.
Saat itu, di tengah situasi Taiwan yang sulit pasca Perang Dunia ke-II dan penyerahan pulau ini dari Jepang ke Republik Tiongkok yang dipimpin oleh Kuomintang, terjadi penyitaan rokok selundupan di depan Tianma Tea House. Aparat keamanan saat itu cukup represif pada Lin Chiang-mai, seorang perempuan pedagang rokok yang barang-barangnya ikut disita.
Terjadi momen mengharukan dalam penyitaan itu, di mana Lin berlutut memohon kepada para petugas untuk tidak menyita harta bendanya karena beban ekonomi yang berat.
Namun upaya Lin memohon tak dihiraukan oleh petugas. Aparat malah memukul kepala Lin hingga berdarah dan mengundang kemarahan warga yang melihat. Melihat situasi makin tak terkendali, salah satu petugas, Fu Hsueh-tung, melepaskan tembakan peringatan ke udara yang malah membunuh seorang warga sipil, Chen Wen-hsi.
Kini di depan bangunan bekas Tianma Tea House berdiri sebuah monumen yang menceritakan tentang kejadian tersebut dalam Bahasa Inggris dan Mandarin. Selama 228, banyak karangan bunga yang disimpan oleh sejumlah orang di monumen itu. Beberapa orang tampak melintas, menyimpan bunga, dan menunduk seraya berdoa.
Terlihat juga beberapa orang tua yang membawa anaknya ke lokasi dan menjelaskan latar belakang tragedi 228 yang kini jadi hari libur nasional.
Lepas dari Tianma, rombongan berjalan menuju gedung bekas kantor polisi yang dulu dikepung oleh warga merespons penembakan di Tianma. Karena tidak ada tanggapan, keesokan harinya, 28 Februari 1947, warga Taipei kembali melakukan pengepungan Kantor Dinas Monopoli Taipei dan mengajukan tuntutan supaya petinggi kantor tersebut, Ouyang Chengchai mengundurkan diri dari jabatannya.
Sebagian warga yang tidak puas berkumpul di depan kantor Gubernur Taiwan saat itu yang tidak jauh dari Ximending sekarang. Brian pun memandu peserta dari titik gedung bekas Kantor Polisi ke gedung tersebut.
Sayangnya, demonstrasi itu memicu kerusuhan dan penembakan dilakukan oleh tentara pengawal kantor gubernur mengakibatkan jatuhnya korban tewas di pihak masyarakat. Berita peristiwa di Taipei dengan cepat tersebar ke seluruh Taiwan dan menimbulkan keresahan di hampir seluruh pulau dan memicu dengan berbagai demonstrasi dan kecaman. Pemerintah menanggapi situasi ini dengan ancaman dan penindasan yang menyebabkan banyak korban jiwa.
Festival Musik Gongsheng
Tur jalan kaki 228 ini berakhir di Festival Musik Gongsheng yang digelar di Jalan Ketagalan berseberangan dengan istana Presiden. “Festival ini merupakan festival musik tahunan yang digelar untuk memperingati insiden 228. Konsepnya memadukan musik indie rock dengan kesadaran akan insiden tersebut,” ucap Hioe.
Pada festival tersebut sejumlah band Taiwan tampil dan diselingi dengan sejumlah ceramah. Ada juga beberapa lapak dari organisasi-organisasi pro-kemerdekaan Taiwan yang digelar di tempat tersebut.
Lai Chien-Te, seorang pengunjung mengatakan bahwa festival ini cukup menjadi ruang untuk anak muda memahami sejarah insiden 228 agar tidak terulang di masa depan. Namun menurut Lai, jika di kalangan orang tua mereka memahami insiden 228 dari perspektif korban karena mungkin ada keluarganya yang meninggal dunia akibat insiden tersebut atau mengalami sulitnya Taiwan di masa darurat militer, maka bagi anak muda, insiden 228 dikenang sebagai momentum pelanggaran hak asasi manusia berat yang pernah terjadi di Taiwan.
“Dan saya pikir anak muda cukup peduli dengan isu ini,” kata Lai.