FEATURE /Chen Chih-hsiung: Martir pertama kemerdekaan Taiwan yang punya pertalian dengan Indonesia

28/02/2025 14:15(Diperbaharui 28/02/2025 14:15)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Peringatan 50 tahun gugurnya Lima Martir Insiden Taiyuan serta Chen Chih-hsiung (kiri, dalam foto) diadakan pada 30 Mei 2020 di National 228 Memorial Museum, Taipei. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Peringatan 50 tahun gugurnya Lima Martir Insiden Taiyuan serta Chen Chih-hsiung (kiri, dalam foto) diadakan pada 30 Mei 2020 di National 228 Memorial Museum, Taipei. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Oleh Muhammad Irfan, reporter staf CNA

“Hidup Kemerdekaan Taiwan!” teriakan itu dipercaya menjadi kalimat terakhir yang disampaikan Chen Chih-hsiung (陳智雄), seorang aktivis Kemerdekaan Taiwan sebelum dirinya dieksekusi rezim Kuomintang (KMT) di tahun 1963. Chen menjalani sejumlah pelarian untuk memperjuangkan kemerdekaan Taiwan bahkan sampai ke Indonesia.

Dalam beberapa sumber yang ditelusuri CNA, Chen dikenal sebagai martir pertama yang dihukum mati atas pendiriannya pada gagasan kemerdekaan Taiwan.

Chen menjabat sebagai duta dari Pemerintah Sementara Republik Taiwan (1956-1977) untuk Asia Tenggara, sekaligus anggota dari Partai Kemerdekaan Formosa Demokratik yang dirintis Thomas Liao (廖文毅) pada 1950-an.

Chen lahir pada 18 Februari 1916, di Kabupaten Pingtung selama era kolonial Jepang dan dieksekusi di masa Teror Putih rezim KMT di Taiwan (1947-1987), yang merupakan respons pemerintah saat itu pada pemberontakan rakyat pada insiden Februari 28, atau dikenal sebagai Insiden 228.

Pertalian dengan Indonesia

Menurut penelusuran CNA, hubungan aktivis kemerdekaan Taiwan dengan Indonesia dirintis salah satunya oleh Chen. Secara umum, hubungan Indonesia-Taiwan lebih dikenal lewat sejumlah prakarsa Tionghoa Indonesia yang aktif di KMT yang sejak 1920-an memang memiliki cabang di Indonesia.

Hubungan Chen dengan Indonesia tak lepas dari kepiawaiannya dalam berbagai bahasa, termasuk di antaranya Indonesia dan Melayu, selain Hokkien Taiwan yang merupakan bahasa ibunya, serta Mandarin, Jepang, hingga Inggris. Berkat kecakapannya ini pula, ia ditunjuk pemerintah Jepang untuk bekerja sebagai petugas penerjemahan di Indonesia selama Perang Dunia II, momen yang menjadi pertalian pertamanya dengan Indonesia.

Peneliti dari Departemen Humaniora dan Ilmu Sosial National Chiao Tung University Tsai Yen-ling (蔡晏霖) dalam laporan yang dipublikasi Taipei Times menyebut Chen tetap tinggal di Indonesia setelah Perang Dunia II usai. Ia bahkan melanjutkan hidup sebagai pengusaha perhiasan dan menikah dengan seorang perempuan Indonesia Tan Ien-niu (陳英娘) pada 1946.

Laporan CNA pada 2017 menyebut kalau Chen disebut sebagai "tamu negara" oleh presiden pertama Indonesia, Sukarno. Ia berpihak pada Sukarno dengan membantu mempersenjatai pejuang Indonesia dan aktivitasnya ini membuat ia dipenjara administrasi kolonial Belanda selama sekitar setahun. Setelah kemerdekaan Indonesia, Sukarno memberinya kewarganegaraan kehormatan.

Peringatan 50 tahun gugurnya Lima Martir Insiden Taiyuan serta Chen Chih-hsiung diadakan pada 30 Mei 2020 di National 228 Memorial Museum, Taipei. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Peringatan 50 tahun gugurnya Lima Martir Insiden Taiyuan serta Chen Chih-hsiung diadakan pada 30 Mei 2020 di National 228 Memorial Museum, Taipei. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Membawa gagasan Taiwan di Konferensi Asia Afrika

Dalam tulisannya yang bertajuk “Discrepant Cosmopolitanisms: Bandung, Formosa, and the Asian 1950s”, Tsai menulis Chen juga mengambil peran pada Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955 di mana ia menjadi penghubung antara Liao sebagai pimpinan Pemerintah Sementara Republik Taiwan dengan konferensi tersebut.

Tahun 1955 di Bandung, Indonesia, menjadi saksi berlangsungnya Konferensi Bandung (alias konferensi Asia-Afrika), konvensi internasional berskala besar pertama yang diselenggarakan negara-negara Asia dan Afrika untuk membahas urusan mereka sendiri dalam sejarah dunia.

Konferensi Bandung, serta "semangat Bandung" yang terkenal, di satu sisi menekankan sikap nasionalis antirasisme, dekolonisasi, dan deimperialisme; di sisi lain, dijiwai etos internasionalis yang melampaui kepentingan satu negara. Oleh karena itu, "Bandung" telah menjadi sumber daya intelektual yang tidak terpisahkan dari berbagai macam paham Dunia Ketiga. 

“Beberapa arsip terkait bahkan menunjukkan bahwa Liao bergabung dalam Konferensi Bandung, baik secara langsung maupun tertulis, begitu pula dia pada upacara Hari Kemerdekaan Federasi Malaya pada tahun 1957,” tulis Tsai.

Menurut Tsai, meskipun Taiwan bukan peserta konvensi tersebut, serangkaian negosiasi politik tentang kedaulatan dan status Taiwan ditetapkan di balik layar Konferensi Bandung.

Antara tahun 1954 dan 1955, Inggris, India, Sri Lanka, Indonesia, Pakistan, Myanmar, dan Partai Demokrat Amerika Serikat, semuanya mengumumkan pendapat mereka tentang Taiwan, yang menganjurkan penghormatan terhadap keinginan rakyat Taiwan dan kenetralan Taiwan. 

Di mata keluarga

Keluarga Chen tinggal di Indonesia. Di balik sepak terjangnya, keluarga Chen justru tak pernah tahu tentang aktivitas politik Chen dalam memperjuangkan kemerdekaan Taiwan.

Dalam laporan Tsai, istri Chen, tidak tahu tentang keterlibatan suaminya dalam politik. Yang ia tahu, suaminya hanya sering pulang larut setelah bermain mahjong.

Perasaan yang sama juga disampaikan Vonny Chen (陳雅芳), putri Chen yang pada 2017 lalu datang ke Taiwan untuk peresmian monumen ayahnya yang terletak di Holy Mountain Ecological Educational Park Kabupaten Nantou.

Vonny, seperti dilaporkan Taipei Times, menyebut ia sempat membenci ayahnya karena menelantarkan keluarga, dan sering berpikir bahwa ayahnya lebih mencintai Taiwan daripada anak-anaknya. 

"Ketika ayah saya meninggalkan ibu saya, kami tidak punya apa-apa," katanya seraya menambahkan ayahnya sering menggunakan semua uang yang ia miliki untuk membantu orang Taiwan di Indonesia. 

“Ibu saya berkata bahwa ia sering memasak karena mereka datang untuk makan di rumah kami.”

Namun, Vonny tak membiarkan dirinya larut dalam kebencian. Di tengah ketidaktahuan itu, ia mencari tahu tentang ayahnya dan baru tahu kalau ayahnya sudah meninggal di tahun 1979 melalui kantor perwakilan Taiwan di Indonesia.

Konferensi pers peringatan 50 tahun penderitaan Chen Chih-hsiung di Taipei pada 27 Juli 2013, dihadiri putrinya dari Indonesia, Vonny Chen (kedua dari kanan). (Sumber Foto : Dokumentasi CNA) 
Konferensi pers peringatan 50 tahun penderitaan Chen Chih-hsiung di Taipei pada 27 Juli 2013, dihadiri putrinya dari Indonesia, Vonny Chen (kedua dari kanan). (Sumber Foto : Dokumentasi CNA) 

Pada 1980, Vonny berangkat ke Taiwan untuk pertama kalinya untuk tahu lebih banyak tentang ayahnya. Namun, info yang ia dapat nihil, mengingat Taiwan masih ada dalam cengkeraman darurat militer. Baru pada perjalanannya yang ketujuh, pada 2013, dia mengetahui kalau ayahnya dieksekusi.

Vonny, seperti dilaporkan Taipei Times, menerima dokumen tentang ayahnya dari Arsip Nasional, termasuk surat wasiat dan surat terakhirnya kepada ketiga anaknya, yang menyatakan, "Saya mati untuk rakyat Taiwan," yang ditulis dalam bahasa Jepang.

“Ini adalah perjalanan [pencarian] panjang yang penuh dengan air mata,” kata Vonny saat itu.

Teguh sampai akhir

Gerakan kemerdekaan Taiwan memang cukup kompleks. Dirintis sejak 1920-an saat Taiwan masih di bawah penjajahan Jepang, gagasannya tetap bergerak seiring perkembangan zaman. 

Dalam berbagai sumber, gerakan kemerdekaan Taiwan semakin ditekan penguasa, setelah Jepang menyerahkan Taiwan ke Republik Tiongkok (ROC) di bawah rezim Kuomintang, disusul pindahnya kepemimpinan ROC ke Taipei setelah kalah dalam perang melawan pasukan komunis. Sepak terjang Chen pun dipengaruhi oleh momen-momen krusial ini.

Chen dikabarkan lari ke Jepang untuk bergabung dengan pemerintah sementara Taiwan yang dipimpin Liao di sana. Tetapi KMT memaksanya kembali ke Taiwan dengan bantuan dari otoritas Jepang, yang berjanji untuk mengampuninya jika dia menghentikan kegiatan kemerdekaannya. Namun, hal tersebut tidak dipatuhi oleh Chen.

Aktivis politik AS Linda Gail Arrigo menyebut Chen diculik dari Jepang oleh agen KMT pada 1950-an.

Tokoh Chen Chih-hsiung (tengah) dalam serial "Freewill Of Formosa" yang diproduksi Public Television Service Taiwan pada 2019. (Sumber Foto : PTS Taigi Channel)
Tokoh Chen Chih-hsiung (tengah) dalam serial "Freewill Of Formosa" yang diproduksi Public Television Service Taiwan pada 2019. (Sumber Foto : PTS Taigi Channel)

Aktivis kemerdekaan Taiwan, yang juga rekan satu sel Chen, Shih Ming-hsiung (施明雄) dalam bukunya “The White Terror in the Dark Ages: A History of Taiwanese Sufferings” (白色恐怖黑暗時代:台灣人受難史) menulis pada pagi hari tanggal 28 Mei 1963, Chen dibangunkan oleh beberapa algojo, yang mengangkatnya dan menyeretnya keluar dari selnya di penjara militer di Jalan Qingdao E.

Ia teguh sampai akhir. Shih menulis bahwa selama banyak persidangan, Chen menolak untuk berbicara bahasa Mandarin, dan hanya menjawab dalam Hokkien Taiwan -- sesuatu yang sempat dilarang pemerintah ROC, yang semakin membuat marah petugas penjara.

Di akhir hayatnya, ia pun meneriakkan kalimat yang ia percaya: “Hidup kemerdekaan Taiwan!”

Selesai/ML/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.