Taipei, 3 Jan. (CNA) Taiwan dinilai masih kekurangan sistem persenjataan yang efektif dan relatif hemat biaya untuk mencegat roket, sehingga rencana pembangunan sistem intersepsi “T-Dome” menjadi kebutuhan mendesak, kata dua pakar baru-baru ini.
Pandangan tersebut disampaikan menyusul aksi militer Tiongkok yang menembakkan dua gelombang roket dalam latihan tembak langsung di sekitar Taiwan pekan lalu, sebagai bagian dari latihan dua hari dengan sandi "Misi Keadilan 2025".
Gelombang pertama melibatkan 17 roket yang diluncurkan pada pukul 9 pagi dari Pingtan di Provinsi Fujian, Tiongkok, menurut Letnan Jenderal Hsieh Jih-sheng (謝日升) dari Kantor Wakil Kepala Staf Umum bidang Intelijen di Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan.
Roket-roket tersebut mendarat 70 mil laut timur laut Kota Keelung tanpa melintasi wilayah Taiwan, kata Hsieh dalam konferensi pers Selasa malam.
Gelombang kedua melibatkan 10 roket yang diluncurkan pada pukul 1 siang dari Shishi di Provinsi Fujian, yang mendarat 50 mil laut barat Tainan, kata Hsieh.
Chieh Chung (揭仲), peneliti asosiasi di Institute for National Defense and Security Research (INDSR), mengatakan sistem roket PCH-191 yang digunakan Tiongkok dalam latihan tersebut memiliki jangkauan maksimum 280 kilometer, mampu menyerang sebagian besar wilayah barat Taiwan.
Chieh mengatakan roket-roket tersebut memiliki "beberapa karakteristik presisi" dan dapat menjadi opsi berbiaya lebih rendah untuk keluaran daya tembak gabungan dalam jumlah besar dibandingkan dengan rudal balistik dan rudal jelajah, namun saat ini Taiwan belum memiliki sistem intersepsi yang sesuai untuk roket semacam itu.
• MND: Roket-roket PLA mendarat di dalam zona tambahan 24 mil laut Taiwan
Itulah sebabnya Presiden Taiwan Lai Ching-te (賴清德) mendorong "T-Dome" untuk membangun sistem intersepsi yang mampu mempertahankan diri dari roket sebagai bentuk penempatan maju, katanya.
Lai mengumumkan bahwa Taiwan akan membangun sistem tersebut dalam pidato publiknya pada 10 Oktober, Hari Nasional Taiwan.
Lin Ying-yu (林穎佑), profesor asosiasi di Program Pascasarjana Hubungan Internasional dan Studi Strategis Tamkang University, mengatakan mobilitas peralatan militer sangat penting.
Ia mengatakan banyak sistem persenjataan baru, termasuk sistem peluncur roket HIMARS, howitzer M109A7, serta sistem radar baru Angkatan Udara, bersifat mobile, namun tetap memerlukan fasilitas perlindungan yang diperkuat atau bawah tanah guna meningkatkan kemampuan bertahan.
Selesai/IF