Taipei, 3 Jan. (CNA) Jumlah pekerja yang menjalani cuti tanpa upah di Taiwan pada paruh kedua bulan Desember meningkat sedikit lebih dari 250 orang dibandingkan paruh pertama tahun 2025, dengan sektor ekonomi lama yang paling merasakan dampaknya, menurut Kementerian Ketenagakerjaan (MOL).
Data yang dirilis oleh MOL pada Jumat (2/1) menunjukkan jumlah pekerja yang menjalani cuti tanpa upah naik sebanyak 253 orang dari 15 hari sebelumnya menjadi 7.371 orang pada akhir Desember, menandai kenaikan dari titik terendah dalam tiga bulan yang terlihat pada 15 Desember, ketika jumlahnya turun 2.035 orang dari akhir November karena adanya peningkatan pesanan mendadak.
Juga pada akhir Desember, jumlah pemberi kerja yang memiliki program cuti tanpa upah naik sebanyak tujuh dari 15 Desember menjadi 385, menurut data tersebut.
Huang Chi-ya (黃琦雅), kepala Departemen Standar Ketenagakerjaan dan Kesetaraan Kerja MOL mengatakan kepada wartawan bahwa industri logam dan mesin listrik terus melaporkan jumlah pekerja cuti tanpa upah terbanyak, yaitu 5.140 orang, yang mencakup sekitar 70 persen dari total di sektor manufaktur berorientasi ekspor.
Selama periode 15 hari tersebut, total 6.409 pekerja ditempatkan pada cuti tanpa upah akibat kebijakan tarif AS yang menargetkan barang-barang Taiwan, dibandingkan dengan 6.339 orang yang tercatat pada pertengahan Desember, menurut data MOL.
Para analis mengatakan kenaikan dari titik terendah dalam tiga bulan pada jumlah pekerja cuti tanpa upah di akhir Desember menunjukkan sektor manufaktur masih dibayangi oleh kebijakan tarif AS.
Namun, sektor jasa yang berorientasi pada permintaan domestik tetap relatif tangguh, menurut data MOL, dengan jumlah pekerja cuti tidak dibayar di industri grosir/ritel turun menjadi 301 orang pada akhir Desember dari 329 orang pada 15 Desember.
Selesai/IF