Taoyuan, 4 Okt. (CNA) Asian Ecotourism Network (AEN) dan Indonesian Ecotourism Network (INDECON) baru-baru ini mengunjungi kawasan Longgang di Taoyuan untuk melakukan kunjungan lapangan, wisata edukatif, dan pengalaman langsung, kata yayasan pariwisata di kota tersebut selaku pengundang.
Dalam kunjungan yang melibatkan asosiasi ekowisata dan Pemerintah Kota Taoyuan ini, pertukaran dilakukan dengan membahas pemberdayaan perempuan, budaya imigran baru, dan pariwisata berbasis komunitas, kata Yayasan Pengembangan Pariwisata Kota Taoyuan dalam rilis pers hari Minggu (4/10).
Kepala Departemen Pengembangan Perempuan dan Anak Kota Taoyuan, Tu Tzu-jung (杜慈容), mengatakan bahwa jumlah imigran baru di Taoyuan telah melampaui 71.000 orang, dengan sekitar 5.300 di antaranya berasal dari Indonesia.
Pemerintah kota terus menjalankan program yang mendukung pemandu wisata perempuan, juga bekerja sama dengan yayasan pengembangan pariwisata untuk membuka program khusus bagi imigran baru mengenai kawasan kota tua Taoyuan, kata Tu.
Sebanyak 35 imigran baru dilatih menjadi pemandu wisata, sehingga dapat berperan sebagai "pemandu lokal" dan menjadikan budaya serta pengalaman hidup mereka sendiri sebagai pintu masuk baru bagi wisatawan untuk mengenal Taoyuan, tambahnya.
Kepala Departemen Pariwisata Kota Taoyuan, Chen Ching-fang (陳靜芳) mengatakan Longgang memiliki keberagaman kelompok etnis, kuliner khas, serta budaya Muslim.
Dalam kegiatan kali ini, rombongan juga mengunjungi dapur ramah Muslim di kawasan Zhong-Zhen Park untuk merasakan layanan kuliner yang ramah bagi umat Muslim, tambahnya.
Pemerintah kota terus membimbing pelaku usaha untuk memperoleh sertifikasi dan menyempurnakan fasilitas terkait, tambah Chen.
Wakil Direktur Eksekutif Yayasan Pengembangan Pariwisata Kota Taoyuan, Chen Hsin-shou (陳信守), mengatakan bahwa perpaduan budaya imigran baru, kisah lokal perempuan, masjid, serta kuliner ramah Muslim di Longgang berpotensi dikembangkan menjadi paket wisata yang khas.
Pihak yayasan akan menghubungkan program rute perempuan, pemandu wisata dari kalangan imigran baru, dan sumber daya budaya lokal, serta membangun jejaring dengan jaringan ekowisata Asia untuk mengubah kisah-kisah lokal menjadi pengalaman wisata yang memiliki daya tarik internasional, ujarnya.
(Oleh Ricky Wu dan Jason Cahyadi)
Selesai/ja