Taipei, 22 Jan. (CNA) Jumlah wisatawan Taiwan yang bepergian ke luar negeri selama Januari hingga November tahun lalu mencapai 17,38 juta orang, sementara Indonesia masih tertinggal sebagai destinasi wisata meski dinilai memiliki potensi besar, ujar Kepala Bidang Pariwisata dan Perhubungan KDEI Taipei, Ruth Evelin Pasaribu.
Berdasarkan statistik Direktorat Jenderal Pariwisata dan Kementerian Perhubungan dan Komunikasi (MOTC), sepanjang Januari hingga November 2025 lebih dari 17 juta lebih warga Taiwan pebergian ke luar negeri, dan Jepang (35,4 persen) tetap menjadi destinasi favorit, disusul Tiongkok (17 persen), dan Korea Selatan (9,6 persen) di peringkat ketiga.
Data Trip.com menunjukkan bahwa rata-rata warga Taiwan melakukan perjalanan ke luar negeri sebanyak 2,45 kali per tahun, dengan kecenderungan memilih rute jarak pendek di bawah 2.000 kilometer serta pola perjalanan singkat
Menanggapi tren tersebut, dalam sebuah wawancara bersama CNA, Ruth Evelin Pasaribu menilai tingginya mobilitas wisatawan Taiwan ke luar negeri merupakan hal yang wajar. Namun, ia menyoroti bahwa Indonesia masih berada di posisi bawah sebagai tujuan wisata warga Taiwan, meskipun memiliki potensi yang besar.
“Pada 2024, jumlah wisatawan Taiwan yang berkunjung ke Indonesia tercatat 148.350 orang, tertinggal dibandingkan Singapura yang mencapai 380.127 orang dan Malaysia sebanyak 320.127 orang,” ujar Ruth kepada CNA.
Ruth mengidentifikasi tiga faktor utama yang memengaruhi preferensi wisatawan Taiwan yang lebih memilih destinasi Asia Timur dibandingkan Indonesia, khususnya Bali. Faktor pertama adalah kedekatan budaya dan rasa kenyamanan. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Taiwan memiliki kedekatan budaya dengan Jepang dan Korea Selatan, termasuk kesamaan nilai kedisiplinan, kebersihan, serta keteraturan infrastruktur, sehingga memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan.
Faktor kedua adalah jarak dan konektivitas penerbangan. Waktu tempuh penerbangan dari Taiwan ke Tokyo atau Seoul hanya sekitar 2,5 hingga 3 jam, ujarnya, sedangkan penerbangan ke Bali memerlukan waktu lebih dari lima jam. Selain itu, menurut Ruth, pilihan maskapai menuju destinasi Asia Timur dinilai lebih fleksibel untuk perjalanan singkat, sementara rute langsung ke Denpasar saat ini hanya dilayani oleh dua maskapai, yakni China Airlines dan EVA Air.
Faktor ketiga berkaitan dengan latar belakang sejarah, di mana masih terdapat trauma di sebagian masyarakat Taiwan terkait peristiwa kerusuhan tahun 1998 di Indonesia yang berdampak pada warga keturunan Tionghoa.
Meski demikian, Ruth mencatat adanya tren peningkatan kunjungan wisatawan Taiwan ke Indonesia dari tahun ke tahun. Pada periode Januari hingga November 2025, jumlah wisatawan Taiwan yang berkunjung ke Indonesia meningkat sekitar 9 persen menjadi 152.138 orang.
Menurutnya, tren positif tersebut perlu terus didorong melalui promosi yang lebih intensif, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta penguatan pengenalan budaya dan citra Indonesia di mata masyarakat Taiwan.
Ruth menambahkan bahwa sejak 2025, KDEI Taipei secara aktif memperkenalkan Indonesia kepada generasi muda Taiwan, mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa, melalui program “KDEI Goes to School or Campus”.
Selain itu, penguatan konektivitas Indonesia–Taiwan juga menjadi salah satu langkah strategis yang terus diupayakan untuk membuka alternatif rute baru, sehingga wisatawan Taiwan memiliki lebih banyak pilihan dalam mengeksplorasi berbagai destinasi wisata di Indonesia.
(Oleh Yu Hsiao-han dan Agoeng Sunarto)