Jakarta/Taipei, 4 Apr. (CNA) Tarif sebesar 32 persen yang direncanakan dikenakan Amerika Serikat terhadap impor produk Indonesia akan memiliki dampak berbeda di setiap industri dan pasar ekspor, di mana perusahaan yang tidak dapat beradaptasi mungkin gugur dan menyisakan yang kuat, kata seorang pengusaha Taiwan.
Dalam sebuah konferensi pers di Washington, Presiden AS Donald Trump pada Rabu (2/4) waktu setempat mengumumkan tarif resiprokal terhadap puluhan negara, dengan Indonesia menghadapi pajak impor sebesar 32 persen -- sama dengan Taiwan -- mulai 9 April.
Menurut Gedung Putih, hanya sejumlah barang, seperti tembaga, farmasi, semikonduktor, kayu, energi, dan "Beberapa mineral penting" yang akan dibebaskan dari langkah ekonomi terbaru ini.
Hal ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengusaha Taiwan di Indonesia, meskipun mereka tetap bersikap hati-hati dan menunggu perkembangan lebih lanjut.
Beberapa mengatakan mereka masih memantau situasi dan berharap pemerintah Indonesia dapat bernegosiasi dengan pihak AS agar ada kemungkinan untuk merubah kebijakan tarif impor tersebut.
Ketua Umum Kamar Dagang Taiwan di Indonesia, Wang Ming-tsung (王銘聰) mengatakan bahwa dampak tarif AS akan bervariasi tergantung pada industri dan pasar ekspor masing-masing pengusaha.
Baca juga: Ketua baru ITCC optimis potensi ekonomi terbesar di Asia Tenggara
Dalam sebuah wawancara dengan CNA, ia mengatakan bahwa industri tekstil, sepatu, dan suku cadang otomotif di Indonesia akan paling terpengaruh.
Wang juga menambahkan bahwa perusahaan besar Taiwan telah mempersiapkan langkah-langkah antisipasi sebelum pengumuman tarif dari Trump, dan dengan dukungan pemerintah, mereka seharusnya dapat melewati dampaknya.
Namun, untuk pabrik kecil yang kurang mendapatkan dukungan pemerintah, dampaknya mungkin lebih besar, menurutnya.
"[Tarif impor Trump] akan memengaruhi ekonomi dunia, tetapi dampaknya terhadap Indonesia mungkin tidak sebesar yang dibayangkan." Ia menyatakan bahwa pada akhirnya, perusahaan akan menemukan cara untuk menyesuaikan diri.
Meski Wang tetap optimis menghadapi badai ini, ia memperingatkan bahwa tarif resiprokal AS dapat memicu efek pemilahan di pasar Indonesia, di mana yang lemah akan tereliminasi sementara yang kuat akan bertahan, bak seleksi alam.
Ia juga mengingatkan bahwa inflasi mungkin akan meningkat lebih parah, dengan beberapa produk yang tarifnya naik akan menyebabkan harga produk lainnya juga ikut melonjak, yang dapat berdampak buruk bagi kalangan berpenghasilan rendah.
Senada dengan itu, Kao Ying-chang (高應昌), pengusaha Taiwan yang telah berkecimpung di bidang produksi suku cadang otomotif Indonesia selama hampir 30 tahun, juga khawatir bahwa tarif resiprokal Trump dapat memicu inflasi.
Baca juga: Pengusaha Taiwan buka pusat pelatihan kejuruan untuk bantu masyarakat Indonesia
"AS kemungkinan akan menghadapi inflasi di masa depan, yang akan mengurangi daya beli dan kemampuan pengadaan barang, yang akan memengaruhi ekonomi global," ujarnya.
Kendati demikian, menurut Kao, Indonesia tidak akan terlalu terpengaruh, karena pesaing utamanya seperti Tiongkok, Vietnam, Thailand, dan Malaysia juga dikenakan tarif resiprokal oleh AS, bahkan beberapa di antaranya lebih tinggi.
Oleh karena itu, Kao mengatakan ia percaya bahwa operasional perusahaan Indonesia tidak akan terpengaruh langsung oleh tarif impor tersebut.
Senada dengan itu, Koordinasi Divisi Plastik untuk Alas Kaki Jakarta Taiwan Entrepreneur Association, Jacky Tsai (蔡鎮雄) mencatat bahwa Vietnam, yang juga merupakan tempat manufaktur, dikenakan tarif setara 46 persen oleh AS, lebih tinggi dari Indonesia.
Baca juga: Pengusaha Taiwan: PHK massal di pabrik sepatu Indonesia diduga kasus terisolasi
Ia optimis bahwa perusahaan-perusahaan besar akan mencari cara untuk mengurangi pembayaran tarif dengan memindahkan lokasi produksi, misalnya dari Vietnam ke Indonesia, yang pada akhirnya akan menguntungkan nusantara, ujarnya.
Namun, Kao tetap khawatir tentang dampak tidak langsung tarif resiprokal ini, seperti inflasi dan depresiasi rupiah.
Ia menjelaskan bahwa jika nilai tukar rupiah menurun tajam, hal itu akan menyebabkan inflasi, yang akan meningkatkan biaya pengadaan bahan baku pabrik dan berimbas pada pendapatan.
Rupiah telah mengalami depresiasi signifikan tahun ini. Sempat jatuh ke level terendah sejak Juni 1998 dengan Rp16.641 per US$1 pada 25 Maret, rupiah kembali anjlok pada Jumat malam ke Rp16.752 per US$1.
Di sisi lain, Menteri Dewan Pengembangan Nasional Paul Liu (劉鏡清) dalam sebuah konferensi pers hari Jumat mencatat bahwa banyak basis produksi Taiwan di Asia Tenggara telah dikenakan tarif yang lebih tinggi dibandingkan di dalam negeri.
Oleh karena itu, ujarnya, beberapa pengusaha Taiwan di Asia Tenggara akan kembali memproduksi di dalam negeri, atau melakukan penyesuaian struktur rantai pasokan untuk merakit barang yang sudah setengah jadi di Taiwan.
Pemerintah, kata Liu, juga akan akan membantu pengusaha melalui rencana jangka menengah dan panjang yang mencakup optimalisasi lingkungan investasi, bantuan pembangunan daya saing baru, serta pendorongan inovasi.
(Oleh Zachary Lee, Lai Yu-chen, dan Jason Cahyadi)
Selesai/