Kelompok pengobatan tradisional Tiongkok Taiwan kunjungi Indonesia untuk cari bahan

23/08/2026 14:48(Diperbaharui 23/08/2026 14:48)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Delegasi penelitian dan survei lapangan budidaya tanaman obat dari Taiwan melakukan pertukaran dengan Kementerian Pertanian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (Sumber Foto : Delegasi Taiwan)
Delegasi penelitian dan survei lapangan budidaya tanaman obat dari Taiwan melakukan pertukaran dengan Kementerian Pertanian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (Sumber Foto : Delegasi Taiwan)

Jakarta, 23 Agu. (CNA) Sebuah kelompok dari Taiwan yang melakukan survei di Indonesia baru-baru ini menemukan bahwa sejumlah bahan obat tradisional Tiongkok di Pulau Jawa memiliki keunggulan, kata pembawa delegasi pada Jumat (21/8).

Delegasi penelitian dan survei lapangan budidaya tanaman obat dari Taiwan melakukan kunjungan ke Indonesia dari 9 hingga 17 Agustus, dengan 35 anggota dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah, sektor pertanian, kalangan akademik, pelaku usaha obat tradisional Tiongkok, serta industri bioteknologi.

Direktur Institut Penelitian Nasional Pengobatan Tradisional Tiongkok Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan Su Yi-chang (蘇奕彰) mengatakan kepada CNA pihaknya menemukan sejumlah bahan obat tradisional Tiongkok di Jawa memiliki keunggulan dari segi kualitas dan kuantitas.

Taiwan, kata Su, akan memanfaatkan hubungan jangka panjang dengan importir bahan obat tradisional Tiongkok dari Indonesia untuk memperluas kerja sama dengan industri terkait dan kelompok petani di Nusantara.

Dengan tetap memenuhi standar kualitas bahan obat tradisional Tiongkok yang berlaku di Taiwan, kata Su, Taiwan akan meningkatkan pembelian dari Indonesia.

Taiwan, tambahnya, berharap dapat bekerja sama dengan universitas, lembaga penelitian, dan industri Indonesia yang bergerak di bidang pengobatan tradisional untuk memastikan kualitas bahan, sekaligus mendorong pengembangan bersama produk medis dan produk layanan kesehatan.

Profesor Chang Yuan-shiun (kanan), Direktur Su Yi-chang (tengah), Wakil Dekan Nanang Fakhrudin (kedua dari kanan), dan yang lainnya di Universitas Gadjah Mada. (Sumber Foto : Delegasi Taiwan)
Profesor Chang Yuan-shiun (kanan), Direktur Su Yi-chang (tengah), Wakil Dekan Nanang Fakhrudin (kedua dari kanan), dan yang lainnya di Universitas Gadjah Mada. (Sumber Foto : Delegasi Taiwan)

Profesor di China Medical University, Taiwan Chang Yuan-shiun (張永勳), yang juga ketua delegasi, mengatakan kepada CNA bahwa saat ini, sekitar 85 persen bahan obat tradisional Tiongkok yang dibutuhkan Taiwan diimpor dari Tiongkok.

Seiring dengan meningkatnya permintaan di pasar obat tradisional Tiongkok internasional dan menurunnya volume pasokan ekspor dari Tiongkok, kata Chang, selain mendorong petani lokal menggenjot budidaya, Taiwan juga mengevaluasi negara-negara Kebijakan Baru ke Arah Selatan seperti Indonesia sebagai sumber alternatif.

Kegiatan survei terutama dilakukan di Pulau Jawa, dengan anggota delegasi berfokus pada jenis-jenis bahan obat yang paling banyak dibutuhkan Taiwan.

Mereka berdiskusi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia mengenai sumber daya tanaman obat, budidaya, pemanenan, dan pengolahan, serta secara khusus mempelajari kondisi pasokan di Indonesia untuk 100 jenis bahan obat yang volume impornya ke Taiwan tergolong besar.

Selama pertemuan dengan Kementan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, pejabat Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei (TETO) di Indonesia juga mendampingi delegasi.

Selain jumlah pasokan, kualitas bahan obat dan regulasi terkait juga menjadi fokus evaluasi. Delegasi bertukar informasi dengan BPOM dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia untuk memahami standar kualitas, penerbitan sertifikat, serta farmakope yang berkaitan dengan jamu dan produk terkait di Indonesia.

Delegasi Taiwan juga mengunjungi Kebun Raya Bogor dan fasilitas penelitian terkait yang berada di bawah BRIN untuk mempelajari sumber daya tanaman obat dan arah penelitian setempat.

Kunjungan delegasi Taiwan ke Sido Muncul. (Sumber Foto : Delegasi Taiwan)
Kunjungan delegasi Taiwan ke Sido Muncul. (Sumber Foto : Delegasi Taiwan)

Di sektor industri, delegasi mengunjungi Sido Muncul, dan diterima Direktur Utama Irwan Hidayat. Para anggota delegasi mengunjungi departemen penelitian dan pengembangan, lini produksi produk jamu, gudang, serta fasilitas kultur jaringan.

Delegasi juga mengunjungi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, dan diterima salah satu wakil dekan Fakultas Farmasi, Nanang Fakhrudin. Su dan Chang membagikan pengalaman Taiwan, dan kedua pihak turut bertukar pandangan mengenai kerja sama penelitian di bidang pengobatan tradisional.

Chang menjelaskan bahwa setelah mendapat bantuan dari pihak Indonesia dalam melakukan kompilasi, telah terdapat sekitar 16 jenis tanaman serta hampir 20 jenis bahan obat yang telah dimasukkan ke daftar untuk dievaluasi lebih lanjut.

Delegasi akan memberikan data hasil survei terkait kepada kalangan pengobatan tradisional Tiongkok di Taiwan sebagai referensi, sekaligus menjadikannya dasar untuk memperdalam pertukaran dan kerja sama dengan lembaga-lembaga terkait di Indonesia, tambahnya.

(Oleh Gwyneth Sharon dan Jason Cahyadi)

Selesai/ja

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.