Relawan Taiwan lihat harapan pendidikan di permukiman kumuh Filipina

20/07/2026 13:04(Diperbaharui 20/07/2026 13:04)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Rombongan studi lapangan yang dibentuk Rainbow Family Life Education Association saat mengunjungi kawasan pelabuhan perikanan Navotas, Manila utara, Filipina. (Sumber Foto : CNA, 18 Juli 2026)
Rombongan studi lapangan yang dibentuk Rainbow Family Life Education Association saat mengunjungi kawasan pelabuhan perikanan Navotas, Manila utara, Filipina. (Sumber Foto : CNA, 18 Juli 2026)

Manila, 20 Juli (CNA) Sebuah rombongan dari Taiwan hari Sabtu (18/7) mengunjungi permukiman kumuh di area pemakaman dan kawasan pelabuhan perikanan Navotas, Manila utara, untuk mempelajari upaya perlindungan dan pendampingan bagi anak-anak dari kelompok rentan.

Tembok beton memisahkan kawasan pelabuhan Navotas. Di luarnya terdapat taman, jalan yang lebar, dan lalu lintas yang ramai, sementara di baliknya, rumah-rumah dari papan kayu dan seng berhimpitan, sampah berserakan di lahan kosong, air limbah menggenang di gang-gang sempit, dan udara dipenuhi bau menyengat.

Pada Sabtu pagi, sebuah rombongan studi lapangan dari Taiwan melintasi tembok tersebut dan memasuki ruang kelas sekolah Minggu yang berada di dalam tenda.

Di sana, lebih dari 200 anak duduk di lantai, mengikuti guru pendamping dengan bertepuk tangan, bernyanyi, dan menari. Wajah mereka dipenuhi senyuman, sementara mata mereka memancarkan harapan.

(Sumber Foto : CNA, 18 Juli 2026)
(Sumber Foto : CNA, 18 Juli 2026)

Relawan asal Taiwan di Metro World Child, Jessica Li (李秭豔) menjelaskan bahwa pelabuhan perikanan Navotas merupakan salah satu kawasan termiskin di Manila, dengan sebagian besar penduduk yang menggantungkan hidup dari menangkap ikan.

Namun, akibat perubahan arus laut dan semakin seringnya badai dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga kini hanya dapat bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan, dan tidak sedikit keluarga yang pendapatannya hanya sekitar 160 peso Filipina per hari (Rp46.570), kata Li.

Setelah kelas sekolah Minggu berakhir, setiap anak menerima satu porsi mi goreng dan satu kantong beras putih. Doding, bocah berusia 5 tahun, adalah salah satunya.

Ibu Doding, Christine, mengatakan kepada CNA bahwa keluarga mereka yang beranggotakan tiga orang baru saja pindah dari kampung halaman ke komunitas tersebut. Namun, ketika ditanya alasan mereka beranjak, ia enggan menjelaskan lebih lanjut.

Christine menuturkan bahwa suaminya sebelumnya bekerja sebagai petani di kampung halaman, tetapi kini hanya mengandalkan pekerjaan serabutan untuk menghidupi keluarga. Sementara itu, ia sendiri memperoleh tambahan penghasilan dengan mencuci pakaian dan memberikan pijat.

Harapan terbesar mereka sederhana, kata Christine, yakni dapat menyekolahkan Doding agar anak mereka memiliki lebih banyak pilihan dalam menjalani hidup di masa depan.

(Sumber Foto : CNA, 18 Juli 2026)
(Sumber Foto : CNA, 18 Juli 2026)

Ketua rombongan sekaligus pendiri Rainbow Family Life Education Association, Chen Chin-lung (陳進隆), mengaku tanpa sengaja menginjak selokan air limbah saat memasuki kawasan tersebut.

Ketika pertama kali melihat anak-anak tinggal di lingkungan yang dikelilingi sampah dan air kotor, kata Chen, ia sempat merasa marah dan tidak memahami mengapa sekelompok anak harus tumbuh besar di tempat seperti itu.

Namun, melihat anak-anak itu bernyanyi dengan penuh semangat, mendengarkan cerita dengan saksama, serta tetap mempertahankan senyum mereka meski hidup dalam kondisi yang sulit, perlahan perasaan Chen pun berubah, ungkapnya.

"Kami sangat senang melihat masih ada orang-orang yang bersedia membuat anak-anak ini setidaknya bisa merasakan kebahagiaan selama satu jam setiap minggunya. Dengan begitu mereka bisa merasakan bahwa dunia ini masih memiliki harapan, dan masih ada sekelompok orang yang peduli kepada mereka," ujarnya.

Chen mengatakan bahwa Taiwan telah mengumpulkan banyak pengalaman dalam edukasi kehidupan dan pendidikan karakter.

Jika ada kesempatan, ujarnya, ia berharap dapat menggandeng lembaga swadaya masyarakat dan komunitas di Filipina untuk berbagi sumber daya pendidikan dan membantu anak-anak membangun ketangguhan dalam menghadapi kesulitan, bukan hanya memberikan bantuan berupa barang atau kebutuhan pokok.

Bagi rombongan, perjalanan ini bukan hanya memperlihatkan kemiskinan, tetapi juga membuka kemungkinan untuk memperdalam kerja sama pendidikan antara Taiwan dan Filipina.

Ketua Edu-connect Southeast Asia Association, Wu Eing-ming (吳英明), yang turut mendampingi rombongan, mengatakan kepada CNA bahwa bantuan yang dapat diberikan Taiwan kepada Filipina bukan hanya berupa uang dan bantuan material, tetapi juga kapasitas di bidang pendidikan.

Wu mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir Taiwan menghadapi kelebihan sumber daya pendidikan akibat menurunnya angka kelahiran, sementara Filipina justru memiliki kebutuhan edukasi yang sangat besar.

"Selama para pengambil kebijakan kita memahami bagaimana mengintegrasikan sumber daya, kita akan menyadari bahwa bukan hanya kita yang dapat hidup lebih baik, tetapi kita juga dapat membantu pihak lain hidup lebih baik," ujarnya.

(Oleh Emerson Lim dan Jason Cahyadi)

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.