PMI Taipei idap kanker payudara stadium tiga, ingin tetap bertahan kerja di Taiwan

24/06/2026 18:18(Diperbaharui 24/06/2026 18:18)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Ayu sedang duduk menunggu kemoterapi pertamanya di rumah sakit. (Sumber Foto : Ayu).
Ayu sedang duduk menunggu kemoterapi pertamanya di rumah sakit. (Sumber Foto : Ayu).

Taipei, 24 Juni (CNA) Ayu (35) seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang telah bekerja tiga tahun di Taipei, harus menanggung beban setelah divonis dokter mengidap sakit kanker payudara stadium tiga, namun pulang bukan pilihan karena ia masih tetap ingin bekerja di Taiwan untuk mencukupi kebutuhan hidup anaknya yang masih kecil. 

Ayu datang ke Taiwan pada 2023 silam sebagai perawat lansia. Setahun yang lalu ia menemukan ada benjolan kecil di payudaranya. Ayu pun tak mempedulikan keanehan tersebut, karena merasa tidak sakit, ia tidak memeriksakan diri ke dokter, ungkap Ayu saat dihubungi CNA melalui sambungan telepon. 

Hingga satu tahun berlangsung, benjolan tersebut semakin membesar. Ayu merasa tak nyaman, hingga akhirnya pada 28 Mei lalu, ia memeriksakan diri ke sebuah klinik dan divonis mengalami kanker payudara. Ia pun dirujuk harus ke rumah sakit besar untuk memeriksakan kondisinya. Dokter menyatakan, Ayu terkena kanker payudara stadium tiga.

Pada hari itu juga, dokter memerintahkan bahwa Ayu tidak bisa lagi bekerja. Ia pun menghubungi majikannya, dan pada hari itu juga majikan memutus kontraknya. Ayu pun dikembalikan ke pihak agensi. Dikarenakan di agensi tidak ada mess tempat tinggal, Ayu sempat tinggal di hotel dari tanggal 28 Mei hingga 8 Juni, hanya dengan memegang uang NT$ 5.000 (Rp 2,8 juta) saja di tangannya.

Saat dihubungi CNA pada Selasa (23/6) Ayu menuturkan hingga saat ini belum menjalani kemoterapi. 

“Peralatan selang kemoterapi baru saja dipasang selang pada hari Senin, dan akan dilakukan kemoterapi pertama pada hari Rabu. Kata dokter kemungkinan saya harus menjalani kemoterapi selama 12 kali,” ujar Ayu yang berasal dari Cilacap ini.

Bersyukur agensi dan majikan masih bersikap kooperatif dan bersedia membantu sebagian biaya hidupnya selama ia menjalani pengobatan. Akhirnya agensi menambahkan uang NT$ 7.000 lagi untuknya. Total uang yang ia terima sebesar NT$12.000 untuk perawatannya dan kebutuhan sehari-hari. 

Majikannya juga memberikan uang bonus yang bisa diambil Ayu nanti saat pulang ke Indonesia. Namun Ayu tidak mau pulang, karena uang bonus tersebut tidak cukup untuk kebutuhan hidup dan anaknya. 

Kini Ayu tinggal di salah satu shelter tempat penampungan milik LSM Taiwan. Menurut penuturan Fajar, ketua Serikat Buruh Industri Perawatan Taiwan (SBIPT), awal ceritanya Ayu bisa tinggal di shelter karena ia bertemu salah satu anggota SBIPT di aula Taipei Main Station (TMS). 

Dari perbincangan tersebut barulah diketahui bahwa Ayu sedang sakit. Ia juga telah diputus kontrak oleh majikannya sehingga terpaksa harus tinggal di hotel. Setelah berkonsultasi dengan tim advokasi, SBIPT memutuskan agar Ayu dipindahkan ke shelter.  

Kepada CNA Ayu mengatakan harapannya untuk sembuh agar tetap bisa lanjut bekerja di Taiwan.

(Oleh Miralux)
Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.