Taipei, 27 Mei (CNA) Masyarakat di New Taipei dan Taoyuan menyatakan skeptisisme hari Rabu (27/5), ketika ditanya oleh reporter CNA mengenai langkah-langkah yang diusulkan oleh Presiden Lai Ching-te (賴清德) untuk mengatasi menurunnya angka kelahiran di Taiwan, dengan banyak yang meragukan kebijakan tersebut akan cukup untuk mendorong orang memiliki anak.
Usulan tersebut termasuk memperpanjang cuti melahirkan dan cuti ayah, memberikan subsidi tambahan bulanan sebesar NT$5.000 (Rp2,83 juta) untuk anak-anak berusia 17 tahun ke bawah, serta mendorong tempat kerja untuk menerapkan praktik yang lebih ramah keluarga.
• Presiden Lai menguraikan usulan untuk mengatasi penurunan angka kelahiran di Taiwan
Di New Taipei, beberapa ibu mengatakan kepada CNA bahwa langkah-langkah tersebut tidak akan membujuk mereka untuk memiliki anak lagi, dengan alasan bahwa biaya membesarkan anak jauh melebihi subsidi yang diusulkan. Mereka menyebut tekanan tambahan seperti cicilan rumah, biaya pengasuhan anak, dan pengaturan penjemputan sekolah.
Beberapa juga menyoroti kekurangan ketersediaan penitipan anak dan jam penjemputan yang tidak fleksibel sebagai tantangan utama bagi keluarga dengan dua penghasilan.
Yang lain mengatakan bahwa meskipun subsidi disambut baik, kenaikan upah dan perlindungan di tempat kerja yang lebih kuat akan lebih efektif. Beberapa perempuan menyatakan kekhawatiran bahwa memiliki anak dapat berdampak negatif pada karier mereka, terutama di tempat kerja yang kurang mendukung perempuan.
Seorang perempuan bermarga Huang (黃) mengatakan perempuan sering menanggung beban fisik dan emosional yang signifikan terkait kehamilan, persalinan, dan pengasuhan anak.
Sementara itu, seorang perempuan menikah bermarga Lee (李) berpendapat bahwa rendahnya angka kelahiran di Taiwan berakar pada masalah sosial yang lebih luas, termasuk harga rumah yang tinggi, tekanan pendidikan, dan kekhawatiran tentang keamanan publik.
Wawancara di Taoyuan juga mengungkapkan kekhawatiran serupa, dengan banyak yang mengatakan bahwa masalah ini bersifat struktural dan tidak dapat diselesaikan hanya dengan membagikan uang.
Beberapa responden yang sudah menikah mengatakan bahwa membesarkan anak membutuhkan komitmen jangka panjang dan sangat memengaruhi kehidupan keluarga.
Seorang perempuan menikah bermarga Chang (張) mengatakan subsidi NT$5.000 dapat membantu rumah tangga berpenghasilan rendah, tetapi tidak akan cukup untuk memengaruhi keputusannya sendiri tentang memiliki anak lagi.
Beberapa responden lajang juga mempertanyakan efektivitas usulan tersebut.
Seorang perempuan bermarga Wang (王) mengkritik rencana subsidi bulanan sebagai penggunaan uang pajak yang tidak efisien, dengan alasan bahwa pemerintah seharusnya fokus pada peningkatan upah dan meringankan beban biaya perumahan bagi kaum muda.
Seorang pria bermarga Chen (陳) menggemakan pandangan tersebut, mengatakan bahwa rendahnya angka kelahiran di Taiwan berasal dari masalah struktural yang lebih dalam dalam masyarakat.
Di antara mereka yang diwawancarai, hanya satu pria menikah bermarga Yang (楊) yang menyatakan optimisme terhadap usulan tersebut, dengan mengatakan bahwa subsidi itu akan cukup membantu dan dapat mendorong dia dan istrinya untuk memiliki anak karena mereka memang sudah menyukai gagasan membangun keluarga.