Taipei, 25 Jan. (CNA) Seiring meningkatnya kemampuan masyarakat dalam melakukan dialisis mandiri, pemerintah Taiwan berkomitmen mewujudkan visi "Buku Putih Dialisis Rumahan Taiwan" dengan target tingkat pemanfaatan sebesar 18 persen pada tahun 2035, kata Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan, Shih Chung-liang (石崇良).
Shih mengatakan, kendala utama rendahnya pemanfaatan dialisis rumahan di masa lalu adalah tekanan psikologis yang dirasakan pasien ketika harus menjalankan prosedur medis secara mandiri. Namun, seiring meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat serta penguatan edukasi kesehatan, ia optimistis angka pemanfaatan dialisis rumahan dapat meningkat secara bertahap.
Menurut Shih, dialisis rumahan tidak hanya memperkuat ketahanan sistem pelayanan kesehatan, tetapi juga memberikan kemudahan dan fleksibilitas bagi pasien karena tidak terikat oleh waktu dan lokasi layanan medis.
Ia menambahkan, setelah pandemi COVID-19, banyak negara mulai mengalihkan layanan dialisis dari model terpusat di fasilitas kesehatan ke model berbasis rumah, termasuk dialisis peritoneal dan hemodialisis rumahan. Negara-negara seperti Singapura dan Australia, katanya, telah mencapai tingkat pemanfaatan sekitar 20 persen, sehingga Taiwan menetapkan target peningkatan dari sekitar 8 persen saat ini menjadi 18 persen sebagai sasaran awal.
Ketua Taiwan Society of Nephrology, Chen Chin-shun (陳金順), menekankan bahwa Taiwan tidak hanya perlu mengejar ketertinggalan, tetapi juga membangun pendekatan khas yang disebut sebagai “Model Taiwan”. Upaya tersebut, ujarnya, sejalan dengan visi nasional “Taiwan Sehat” yang dicanangkan Presiden Lai Ching-te (賴清德), guna memastikan kebijakan kesehatan terintegrasi dengan pembangunan nasional.
Sementara itu, Wakil Direktur Jenderal Asuransi Kesehatan Nasional (NHIA), Chang Yu-pin (張禹斌), mengatakan bahwa pada 2025 pihaknya mengalokasikan dana khusus sebesar NT$433,5 juta (Rp231,8 miliar) untuk mendorong fasilitas kesehatan meningkatkan layanan dialisis peritoneal dan hemodialisis rumahan.
Program tersebut juga akan memanfaatkan layanan kesehatan jarak jauh berbasis teknologi pintar guna meningkatkan mutu pelayanan yang berpusat pada pasien serta mendukung keberlanjutan sistem kesehatan, ujarnya.
(Oleh Shen Pei-yao dan Agoeng Sunarto)
Selesai/ja