Taipei, 25 Jan. (CNA) Berdasarkan statistik Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW) Taiwan terbaru, jumlah perawat layanan rumah wanita di Taiwan mencapai lima kali lipat jumlah pria.
Jenny Chen (陳景寧), Sekretaris Jenderal Taiwan Family Care Association (TFCA), menyatakan bahwa pekerjaan perawatan di dalam budaya masyarakat masih sangat lekat dengan peran wanita. Ia menilai bahwa dukungan kebijakan secara sistematis untuk mendorong laki-laki masuk ke sektor layanan perawatan dapat membantu mematahkan stereotip gender sekaligus memperbaiki kondisi perawat laki-laki.
Menurut analisis gender sepanjang tahun 2024, terdapat total 63.918 petugas yang memberikan layanan perawatan rumah tangga. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10.745 adalah pria dan 53.173 adalah wanita.
Dari sisi distribusi usia, kelompok usia di bawah 25 tahun merupakan proporsi paling kecil. Perawat layanan rumah laki-laki umumnya berasal dari kelompok usia produktif muda dan menengah, sedangkan perawat perempuan didominasi oleh kelompok usia menengah ke atas, menunjukkan adanya perbedaan distribusi usia berdasarkan gender.
Menanggapi data tersebut, Chen menjelaskan bahwa kondisi profesi perawat layanan rumah dan tenaga perawatan jangka panjang memiliki kemiripan dengan profesi keperawatan. Karena pekerjaan ini dianggap memerlukan kemampuan merawat orang lain, profesi tersebut dalam stereotip budaya sering dikaitkan dengan perempuan, dan hasil survei ini sejalan dengan pandangan budaya tersebut.
Namun, stereotip bahwa “perempuan lebih pandai merawat” mulai menimbulkan berbagai persoalan. Chen mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, di lapangan perawatan semakin terlihat bahwa “anak laki-laki sebagai pengasuh” merupakan kelompok yang menghadapi tantangan besar di Taiwan.
Menurut Chen, konsep budaya seperti “laki-laki harus kuat” dan “laki-laki bekerja di luar, perempuan mengurus rumah” masih tertanam kuat dalam pola pikir mereka. Selain itu, masih ada ekspektasi tersirat bahwa menantu perempuan seharusnya merawat orang tua pasangan, sementara pandangan istri telah berubah, yang pada akhirnya dapat memicu konflik dalam rumah tangga.
Terkait kesulitan yang dihadapi pengasuh laki-laki, Chen mengatakan bahwa hal ini juga tercermin dalam kasus-kasus tragedi perawatan. Meskipun pengasuh laki-laki hanya mencakup sekitar 30 persen dari total pengasuh di Taiwan, proporsi laki-laki dalam kasus kekerasan dan tragedi perawatan mencapai 70 persen, sementara perempuan hanya sekitar 30 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan adaptasi dan ketahanan laki-laki dalam peran sebagai pengasuh relatif lebih rendah.
Chen menambahkan bahwa sektor keperawatan sebelumnya telah banyak berupaya mendorong partisipasi laki-laki. Ia berharap ke depan industri layanan perawatan rumah juga dapat bergerak menuju kesetaraan gender, antara lain melalui insentif pemerintah untuk mendorong laki-laki yang memiliki pengalaman merawat agar bergabung sebagai perawat layanan rumah.
Menurutnya, ketika stereotip gender terkait “perawatan” dapat dipatahkan, rasa aman akan tercipta, sehingga laki-laki tidak lagi terbatasi oleh stigma lama dan tidak merasa bahwa menjadi pengasuh adalah sesuatu yang memalukan atau merugikan diri sendiri.
(Oleh Tseng Yi-ning dan Agoeng Sunarto)
Selesai/ja