Taipei, 10 Jan. (CNA) Awal tahun kerap dijadikan titik awal program penurunan berat badan, namun ahli gizi di Taiwan memperingatkan bahwa olahraga berlebihan dan pembatasan makan ekstrem tanpa asupan karbohidrat yang memadai justru dapat menghambat penurunan berat badan dan mengganggu metabolisme tubuh.
Berdasarkan Survei Perubahan Gizi Nasional yang dilakukan Direktorat Jenderal Promosi Kesehatan (HPA) Taiwan, prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas pada penduduk berusia 18 tahun ke atas mencapai 50,3 persen. Dengan jumlah penduduk dewasa sekitar 20 juta jiwa, jumlah orang dewasa yang mengalami kelebihan berat badan diperkirakan mencapai sekitar 10 juta orang.
Masalah serupa juga terlihat pada kelompok usia remaja, dengan tingkat kelebihan berat badan dan obesitas sebesar 30,6 persen pada siswa sekolah menengah pertama dan 28,9 persen pada siswa sekolah menengah atas.
Ahli gizi Yao Yun-jia (姚蘊珈) dalam keterangan tertulis baru-baru ini menyampaikan bahwa di klinik penurunan berat badan, selain kasus kegagalan pengendalian pola makan, justru banyak ditemukan pasien yang terlalu menekan diri.
Mereka menjalani latihan beban tiga hingga lima kali per minggu dan menghitung asupan kalori secara sangat ketat, namun mengabaikan daya tahan fisik tubuh. Menurut Yao, pola pengendalian ekstrem tersebut memiliki efek serupa dengan penggunaan suntikan penekan nafsu makan, tetapi tidak realistis untuk dijalani dalam jangka panjang.
Yao menegaskan bahwa penurunan berat badan yang sehat tidak dapat dicapai dengan menghilangkan karbohidrat sepenuhnya, serta harus disertai pengaturan asupan protein yang tepat.
Ia menjelaskan bahwa karbohidrat dan lemak kerap dianggap sebagai musuh utama diet, padahal keduanya merupakan sumber energi penting untuk menjaga fungsi tubuh. Jika asupan karbohidrat terlalu rendah, tubuh akan menggunakan protein sebagai sumber energi, yang dapat menyebabkan penurunan massa otot dan melambatnya metabolisme basal, sehingga upaya penurunan lemak menjadi kurang efektif.
Menurut Yao, asupan karbohidrat harian yang dianjurkan berkisar antara satu hingga dua gram per kilogram berat badan. Sebagai contoh, orang dewasa dengan berat badan 50 kilogram setidaknya memerlukan lebih dari 50 gram karbohidrat per hari.
Selain itu, asupan lemak disarankan tidak kurang dari 15 hingga 20 persen dari total kalori harian, karena kekurangan lemak dalam jangka panjang dapat mengganggu pembentukan hormon steroid dan memicu ketidakseimbangan hormon, yang pada akhirnya mempersulit penurunan lemak tubuh.
Yao juga menekankan pentingnya pengelolaan stres selama proses penurunan berat badan. Ia memperingatkan bahwa jika tekanan hidup tinggi dan olahraga dipersepsikan sebagai sumber stres tambahan, tubuh dapat memicu respons peradangan.
Ketika diet ekstrem dihentikan, berat badan berisiko naik kembali dengan cepat, dan fluktuasi berat badan yang berulang dalam waktu singkat dapat meningkatkan beban sistem metabolisme tubuh.
(Oleh Chen Chieh-ling, Agoeng Sunarto dan Jennifer Aurelia)
Selesai/ML