Warga Taiwan ceritakan situasi tegang di Venezuela setelah serangan AS

05/01/2026 18:48(Diperbaharui 05/01/2026 18:48)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Foto hanya untuk tujuan ilustrasi. (Sumber Foto : Pixabay)
Foto hanya untuk tujuan ilustrasi. (Sumber Foto : Pixabay)

Washington, 5 Jan. (CNA) Seorang warga Taiwan yang menetap di Venezuela berbagi kepada CNA tentang kemunduran jangka panjang negara tersebut, suasana pasca aksi militer Amerika Serikat, serta alasan ia tetap memilih tinggal setelah lebih dari 25 tahun.

Pria bermarga You (游) itu menolak mempublikasikan nama lengkap dan lokasi persis tempat tinggalnya—sebuah kota sekitar lima jam perjalanan darat dari Caracas—karena kekhawatiran akan keselamatannya, dalam wawancara telepon yang dilakukan pada Minggu (4/1).

Namun, ia berbicara secara terbuka tentang pengalaman masa lalunya dan harapannya untuk masa depan Venezuela, hanya satu hari setelah AS melancarkan serangan udara dan menangkap Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya pada Sabtu pagi untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba di New York.

Pakar: Serangan AS di Venezuela tidak mungkin ubah strategi Tiongkok terhadap Taiwan

You (39) datang ke Venezuela pada tahun 1998, ketika ayahnya dikirim oleh sebuah perusahaan yang berbasis di Taiwan untuk bekerja di sana. Saat itu, katanya, negara tersebut memiliki ekonomi yang makmur, dengan sistem metro di ibu kota yang lebih maju daripada yang ada di Taipei.

Bahkan ketika masih menjadi mahasiswa pada masa pemerintahan Presiden Hugo Chávez—yang memanfaatkan lonjakan pendapatan sektor minyak untuk membiayai berbagai program sosial dan kesejahteraan—ia menerima tunjangan pemerintah untuk menempuh studi farmakologi dan kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana, ujarnya.

You mengatakan bahwa pada 2016 ia bekerja di posisi bergaji tinggi pada sebuah perusahaan asing, ketika anjloknya harga minyak yang dipadukan dengan salah kelola ekonomi di bawah pemerintahan Maduro, yang menjabat setelah kematian Chavez pada 2013, memicu hiperinflasi, kelangkaan produk, dan protes besar-besaran.

Sanksi Amerika Serikat kemudian semakin menekan perekonomian seiring penerapannya dalam dua tahun berikutnya.

Di tengah gejolak tersebut, banyak pebisnis Taiwan yang tidak memiliki usaha mapan atau alasan keluarga untuk bertahan memilih meninggalkan Venezuela pada 2017 dan 2018, menurut You.

Dalam kasusnya sendiri, You mengatakan bahwa meskipun ayahnya telah meninggal, ia kini memiliki keluarga di Venezuela dan bisnis ekspor bantalan industri.

Di antara sedikit warga Taiwan lain yang masih bertahan di daerahnya adalah seorang pria yang mengekspor suku cadang mobil, seorang wanita yang menjalankan pabrik kosmetik, dan seorang pria lain yang memiliki restoran, kata You.

Situasi saat ini

Karena berada lima jam perjalanan dari Caracas, You mengatakan ia baru mengetahui serangan Amerika Serikat dan penangkapan Maduro setelah fajar pada Sabtu (3/1), ketika ia terbangun dan mendapati orang-orang merayakan di jalanan.

Setelah keluar untuk mengisi bahan bakar pada Minggu (4/1), ia berkeliling kota dan sempat dihentikan di sebuah pos pemeriksaan oleh polisi yang mencari orang mencurigakan, sebelum akhirnya dilepaskan dengan cepat.

Mengenai respons warga Venezuela terhadap serangan AS, You mengatakan orang-orang terbagi dalam tiga kategori besar, termasuk mereka yang mendukung pemerintah, seringkali karena mereka bekerja untuk atau mendapat manfaat darinya, serta oposisi yang menyambut intervensi tersebut.

Di tengah-tengah ada banyak orang yang merasa "bingung" dengan peristiwa ini, yang berharap ada pergantian pemerintahan namun juga melihat penangkapan kepala negara Venezuela sebagai pelanggaran kedaulatan atau sebuah "invasi," katanya.

Untuk menggambarkan situasi "tidak berdaya" yang dialami banyak warga Venezuela, You mencontohkan seorang temannya, seorang tentara karier yang, meskipun menentang pemerintah, tidak bisa mengungkapkannya tanpa menghadapi konsekuensi langsung dan berat.

Di kalangan warga Venezuela yang lebih miskin, menurutnya, juga banyak yang takut kehilangan bantuan jika bersuara menentang pemerintah.

Tetap di Venezuela

Setelah pengerahan militer Amerika Serikat baru-baru ini di kawasan Karibia selatan, banyak maskapai mulai membatalkan penerbangan masuk dan keluar Venezuela sejak awal Desember, kata You.

Saat ini, seluruh penerbangan dibatalkan hingga pertengahan atau akhir Januari, sehingga membuat upaya untuk meninggalkan negara tersebut menjadi sangat sulit, ujarnya.

Untuk dirinya sendiri, You mengatakan ia telah menanamkan akar di Venezuela, dan meninggalkan negara itu "bukanlah pilihan."

Namun ia berharap suatu hari negara itu bisa kembali ke "era keemasan" yang ia temukan saat pertama kali tiba di sana pada akhir 1990-an.

"Venezuela memiliki sumber daya yang melimpah, dengan cadangan minyak lebih besar dari Arab Saudi atau [UEA]," kata You. "Jika bisa dikelola dengan baik, pemulihan ekonomi tidak akan lama lagi."

(Oleh Chung Yu-chen, Matthew Mazzetta, dan Jennifer Aurelia) 

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.