Oleh Chiu Tsu-yin dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA
"Saya ingin pergi ke Indonesia untuk mencari ikan yang beratnya sama dengan saya."
Tekad itu mendorong koreografer Taiwan Wang Yeu-Kwn (王宇光) melakukan perjalanan seorang diri ke Indonesia selama 60 hari. Dalam petualangannya melintasi berbagai pulau, ia mengalami kejutan budaya hingga merenungkan jati dirinya, yang kemudian ia tuangkan dalam karya terbarunya, "Islands".
Wang menceritakan perjalanannya dalam sebuah siniar bersama CNA. Sebelum menjadi koreografer, ia merupakan penari di sebuah grup. Setelah menunjukkan apa yang ingin disampaikan para koreografer lain dengan menarikan karya-karya mereka, Wang akhirnya bertanya, "Cerita apa yang ingin saya sampaikan?"
Merasa ingin menciptakan karya sendiri, Wang pun memutuskan mengundurkan diri dari grupnya. Bukan keputusan yang mudah, mengingat ia mesti kehilangan gaji tetap sementara harus mengurus sendiri kebutuhan hidup dan pengembangan kariernya.
Namun, langkah itu yang akhirnya membuat ia berkesempatan menulis proposal perjalanan untuk proyek "Wanderer" dari Cloud Gate Foundation. Saat itu, ia terinspirasi dari cerita yang ia dengar dari seorang nelayan di Orchid Island.
Legenda ikan
"Mereka percaya bahwa setiap ikan besar di laut memiliki nama seorang nelayan yang terukir di punggungnya. Jika kamu adalah nelayan yang cukup beruntung, suatu hari kamu akan bertemu dengan ikan hebat itu di lautan," ujarnya.
Legenda itu membuat ia ingin pergi ke Indonesia untuk menangkap ikan yang berbobot sama dengannya, rencana yang ia tuangkan dalam proposalnya. Setelah disetujui, Wang, yang sudah gemar memancing sejak kecil dan telah memiliki sertifikat nelayan, menyadari bahwa ia terlalu meremehkan proyek itu.
"Karena yang saya cari adalah sesuatu yang tidak memiliki alamat, dan kita tidak tahu ke mana ia akan berenang, atau bahkan jika kita berada di perairan yang sama dengannya, ia belum tentu akan menggigit umpannya," ujarnya.
Belum lagi, ia pergi bertepatan dengan musim hujan, yang menurutnya membuat ikan enggan muncul. Waktu-waktu di sana pun ia habiskan dengan mencari nelayan setempat hingga terus berpindah tempat.
Seiring waktu berjalan, Wang tak kunjung menemukan ikan yang dicarinya, sesuatu yang membuatnya frustrasi mengingat perjalanannya dibatasi hanya sampai 60 hari. "Habislah sudah, saya akan pulang dengan tangan kosong."
Siluet di Indonesia
Setelah lebih dari sebulan berkeliling di Indonesia, Wang pun tiba di Kupang. Di sana, dengan keterbatasan bahasa, ia akhirnya diberi petunjuk oleh seorang warga.
"Besok pagi jam 6 adalah satu-satunya kapal dalam seminggu yang pergi ke pulau yang sangat jauh, Pulau Alor. Jika kamu tidak naik kapal itu besok, kamu harus menunggu dua minggu lagi," ujar warga tersebut, Wang memperagakan.
Setelah 17 jam di kapal, ia akhirnya tiba sekitar pukul 2 atau 3 pagi di sebuah pelabuhan yang hampir tidak memiliki lampu.
"Di pulau itu tidak ada lampu. Saya hanya duduk di pelabuhan, tidak tahu di mana harus menginap, tidak tahu seperti apa pulau ini, atau orang-orang macam apa yang akan saya temui," ujarnya.
Namun, keadaan berubah setelah mentari mulai terbit, di kala siluet pulau muncul seiring perubahan warna langit.
"Di lautan yang terbentang di depan mata saya, puluhan lumba-lumba melompat dan berputar di udara. Saya pun menangis tersedu-sedu. Saya tidak pernah mengira bahwa tubuh ini, di saat seperti ini, mendapat kesempatan untuk datang ke dunia seperti ini."
Tepat di hari terakhir batas waktu perjalanannya, ia pun menemukan ikan yang ia cari. Meski tidak sampai seberat tubuhnya, "Setidaknya saya bisa mengambil foto untuk menyelesaikan kasus ini."
Perjalanan panjang Wang dari pulau ke pulau pada akhirnya menginspirasinya melahirkan karya "Islands", yang akan ia tampilkan bersama penari asal Indonesia, Danang Pamungkas di National Kaohsiung Center for the Arts pada 22-23 Maret.
Selesai/IF