Taipei, 4 Apr. (CNA) Yuan Eksekutif (Kabinet) hari Jumat (4/4) mengumumkan proposal senilai NT$88 miliar (Rp44,6 kuadriliun) yang ditujukan untuk membantu pelaku usaha Taiwan yang diperkirakan akan terdampak keras oleh tarif resiprokal yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam sebuah konferensi pers di Taipei, Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰) mengatakan bahwa industri dan pelaku usaha Taiwan harus "Siap menghadapi sejumlah guncangan" setelah Trump hari Rabu (waktu Washington) mengumumkan tarif impor sebesar 32 persen terhadap sebagian besar barang Taiwan.
Baik Cho maupun pejabat kabinet lainnya tidak merinci seberapa besar dampak tarif tersebut, jika diterapkan, terhadap perekonomian Taiwan, khususnya terhadap produk domestik bruto (PDB).
Namun, Cho mengatakan beberapa industri akan menghadapi dampak signifikan, termasuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK), baja dan logam, mesin, suku cadang otomotif, bahan bangunan, serta peralatan rumah tangga.
Dalam hal produk pertanian, anggrek bulan, edamame, serta beberapa jenis ikan seperti nila, kerapu, dan bass akan menjadi yang paling terdampak, kata Cho.
Cho menyatakan bahwa proposal Kabinet ini akan didanai melalui anggaran khusus yang memerlukan persetujuan legislatif, dan bahwa ia akan bertemu dengan legislator lintas partai pekan depan untuk meminta dukungan mereka.
Menurut Wakil Perdana Menteri Cheng Li-chiun (鄭麗君), pemerintah berencana mengalokasikan NT$70 miliar untuk langkah-langkah seperti menurunkan suku bunga pinjaman, mengurangi biaya administrasi, dan memperluas pembebasan pajak bagi industri Taiwan yang terdampak tarif tersebut.
Selain itu, dana sebesar NT$70 miliar tersebut juga akan digunakan untuk membantu perusahaan mendiversifikasi pasar mereka dan berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan, tambahnya.
Ia juga mengatakan bahwa NT$18 miliar sisanya akan dialokasikan untuk mendukung sektor pertanian melalui pinjaman, subsidi bunga, subsidi peralatan, dan langkah-langkah lainnya.
Cheng mengatakan bahwa pemerintah terus menjalin komunikasi erat dengan industri dan pelaku usaha, lembaga-lembaga terkait akan membuka saluran layanan khusus mulai 8 April untuk membantu mereka mengakses dukungan pemerintah.
Terkait rencana tarif Trump, Cho juga mengimbau masyarakat Taiwan untuk siap menghadapi gejolak di pasar saham saat dibuka kembali hari Senin, setelah libur panjang Cengbeng dan Hari Anak yang bersambungan dengan akhir pekan.
Ia mengatakan bahwa Bank Sentral dan Komisi Pengawas Keuangan Taiwan sedang memeriksa nilai tukar mata uang asing, karena Trump mempertimbangkan manipulasi mata uang dalam tarif resiprokal yang diumumkannya.
Cho juga mengatakan pemerintah akan melanjutkan diskusi dengan bisnis dan menyusun respons yang mencakup semua aspek dalam upaya untuk mengendalikan situasi pada Senin.
Sebelum Trump mengumumkan kenaikan tarif impor, saham di Taiwan ditutup dengan sedikit perubahan pada Rabu, dengan indeks berbobot acuan, Taiex, ditutup pada 21.298,22 sebelum liburan empat hari dimulai pada Kamis.
Sementara itu, saham AS jatuh pada Kamis, dengan S&P 500 mencatat "Hari terburuk sejak pandemi merusak ekonomi pada tahun 2020" dengan kerugian 4,8 persen, menurut Associated Press.
Pemerintah akan berusaha memberikan jaminan kepada orang-orang di Taiwan, tetapi semua orang perlu siap untuk keterkejutan, kata Cho.
Taiwan termasuk di antara puluhan negara yang akan dikenai tarif resiprokal, dalam apa yang digambarkan Trump sebagai upaya untuk mengatasi hubungan dagang yang tidak seimbang, mengurangi defisit perdagangan, dan meningkatkan manufaktur dalam negeri AS.
Hanya sejumlah barang seperti tembaga, farmasi, dan semikonduktor yang dikecualikan dari tarif impor baru Trump yang akan mulai berlaku pada 9 April.
Sementara itu, produsen suku cadang otomotif Taiwan akan dikenai bea sebesar 25 persen, yang diperkirakan mulai berlaku paling lambat 3 Mei.
Menurut data yang disampaikan Kementerian Urusan Ekonomi (MOEA) pada Jumat, ekspor Taiwan ke AS mencapai US$111,4 miliar (Rp1,865 kuadriliun) pada 2024, mencakup 23 persen dari total ekspor negara tersebut.
Produk TIK menduduki peringkat tertinggi sebagai barang ekspor Taiwan ke AS, mencakup 52 persen dari total ekspor, diikuti komponen elektronik (13,4 persen), suku cadang otomotif (1,8 persen), pengencang (1,8 persen), dan suku cadang mekanis (1 persen).
Sementara itu, Taiwan mengimpor barang dari AS senilai US$46,5 miliar, sekitar 12 persen dari total impor. Hal ini menghasilkan surplus perdagangan sebesar US$64,9 miliar dengan AS, menurut data MOEA.
(Oleh Teng Pei-ju, Joy Tseng, Kay Liu, dan Jason Cahyadi)
Selesai/IF