Taichung, 14 Sep. (CNA) Kantor Kejaksaan Distrik Changhua baru-baru ini menuntut seorang wanita kelahiran Vietnam yang telah menjadi warga negara Taiwan dan tujuh orang lainnya atas dugaan eksploitasi pekerja dari Vietnam, termasuk anak di bawah umur, dengan dalih praktik keagamaan, kata Direktorat Jenderal Imigrasi Nasional (NIA) pada Senin (14/9).
Dalam sebuah pernyataan, Brigade Operasi Khusus Kota Taichung NIA mengatakan bahwa wanita tersebut, bermarga Nguyễn, mengaku sebagai "reinkarnasi Buddha yang hidup."
Ia diduga memikat para pengikut asal Vietnam untuk membawa anak-anak mereka yang masih di bawah umur ke Taiwan untuk bekerja dengan dalih praktik keagamaan, sehingga mereka menjadi korban eksploitasi tenaga kerja dalam waktu lama, kata brigade NIA.
Pada bulan Februari, beberapa ayah asal Vietnam datang ke Taiwan untuk melaporkan bahwa istri mereka, yang terpengaruh oleh keyakinan agama, telah meninggalkan rumah dan membawa anak-anak mereka yang masih di bawah umur ke Taiwan.
Berdasarkan laporan tersebut, NIA membentuk satuan tugas khusus sementara Kantor Kejaksaan Distrik Changhua diminta untuk memimpin penyelidikan.
Satuan tugas tersebut menemukan bahwa Nguyễn, yang menikah dengan warga negara Taiwan lebih dari 20 tahun lalu, mengaku sebagai reinkarnasi Buddha yang hidup. Ia mempromosikan ajarannya secara daring dan mendorong para pengikutnya untuk membawa anak-anak mereka ke Taiwan dengan visa turis untuk "latihan spiritual," demikian isi pernyataan tersebut.
Ia mengajarkan kepada para pengikutnya bahwa bekerja untuk dirinya dapat membantu mereka mengumpulkan karma baik dan memperoleh keselamatan ketika kiamat tiba.
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa para pengikut yang menjual harta benda dan meninggalkan keluarga mereka untuk datang ke Taiwan dipaksa bekerja tanpa upah di pertanian dan restoran yang diatur oleh Nguyễn. Paspor mereka disita, serta komunikasi dan kebebasan bergerak mereka dibatasi.
Anak-anak di bawah umur diwajibkan mulai bekerja sejak pagi hari dan tidak mendapatkan pendidikan, kegiatan rekreasi, maupun lingkungan normal untuk berkembang, demikian disebutkan.
Untuk menghindari penyelidikan, Nguyễn, yang mengelola sebuah restoran di Changhua, dan komplotannya memindahkan beberapa ibu dan anak asal Vietnam ke Kabupaten Miaoli dan New Taipei, di mana mereka ditempatkan di bawah pengawasan pengikut lainnya, menurut NIA.
Sementara itu, para pengikut percaya bahwa mereka sedang melakukan praktik keagamaan dan spiritual, serta uang yang diperoleh Nguyễn akan disumbangkan untuk amal.
Penyelidik juga menemukan bahwa Nguyễn telah dilarang masuk ke Vietnam secara permanen pada Juli 2023 karena dugaan penipuan agama. Ia kemudian memindahkan aktivitas keagamaannya ke Taiwan setelah memperoleh izin tinggal permanen di sana.
Setelah berbulan-bulan penyelidikan dan pengumpulan bukti, satuan tugas khusus menggerebek lokasi-lokasi tempat para korban ditahan. Empat anak di bawah umur yang telah dieksploitasi berhasil diselamatkan dan kini telah kembali dengan selamat ke keluarga mereka di Vietnam, kata NIA.
Setelah penyelidikan, Kantor Kejaksaan Distrik Changhua mendakwa Nguyễn, empat komplotan -- semuanya wanita naturalisasi Taiwan kelahiran Vietnam -- dan tiga ibu asal Vietnam atas tuduhan eksploitasi tenaga kerja berdasarkan Undang-Undang Pencegahan Perdagangan Manusia dan penculikan anak di bawah umur.
Selesai/ja