Taipei, 10 Jun. (CNA) Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan dan Mesir sepakat Nahdlatul Ulama (NU) harus mengambil peran lebih besar dalam perdamaian dunia di tengah panasnya isu geopolitik, kata organisasi Islam asal Indonesia di Taiwan itu, setelah menghadiri silaturahmi di Kairo, Mesir baru-baru ini
Dalam pertemuan pada 3-5 Juni "di tengah dinamisnya perkembangan organisasi dan menghangatnya situasi global," perwakilan PCINU Taiwan dan PCINU Mesir membedah dampak ketegangan di Selat Taiwan dan Timur Tengah bagi mahasiswa serta pekerja migran Indonesia, menurut siaran pers yang dirilis Selasa (9/6).
Dalam menghadapi "krisis global," kedua PCINU sepakat NU "tidak boleh lagi bersikap pasif" atau sekadar "menjadi penonton" dan "pemadam kebakaran" setelah konflik pecah, melainkan harus mengambil peran aktif sebagai "pemain kunci" yang ikut menawarkan solusi perdamaian melalui instrumen "fikih peradaban."
"Kami tidak ingin NU hanya menjadi komentator di pinggir lapangan. Jaringan internasional ini siap bergerak bersama agar NU hadir sebagai penentu dan pembawa solusi nyata bagi perdamaian dunia," kata Wakil Ketua PCINU Taiwan, Wahyudin yang hadir di Kairo.
"Dunia saat ini sedang penuh tantangan, begitu pula dengan dinamika lokal di tempat kami masing-masing. Silaturahim Kairo-Taipei ini menjadi bukti bahwa PCINU di berbagai belahan dunia bergerak solid dan saling mengisi." ujarnya.
Rilis pers mencatat bahwa sementara PCINU Taiwan "sangat akrab" dengan dinamika Asia Timur seperti isu Selat Taiwan dan "mengakar kuat" di komunitas pekerja migran dan profesional, PCINU Mesir menjadi "jangkar" bagi para intelektual muda dan ulama NU yang menimba ilmu di Universitas Al-Azhar.
Di silaturahmi, PCINU Taiwan juga berbagi pengalaman mengenai dinamika mengelola komunitas pekerja migran yang tersebar dengan latar belakang beragam, serta adaptasi terhadap regulasi lokal.
Sementara itu, PCINU Mesir memaparkan pengelolaan ribuan mahasiswa Al-Azhar "dengan segala kompleksitas akademis dan kebutuhan sosialnya."
Melalui forum ini, kedua PCINU saling bertukar strategi agar organisasi tetap "solid, adaptif, dan responsif" terhadap kebutuhan warganya di perantauan, kata rilis pers.
Di sisi lain, guna mengoptimalkan potensi nahdliyin, silaturahmi turut merancang draf awal integrasi sumber daya manusia regional Asia "secara lebih spesifik," menurut rilis pers.
PCINU kawasan Timur Tengah seperti Mesir, Saudi, Tunisia, Yaman diposisikan sebagai "lumbung utama" kompetensi keilmuan syariah, fatwa, dan ideologi ahlusunah waljamaah.
Sementara itu, jaringan PCINU di Asia Timur seperti Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan dipetakan sebagai titik penyerapan kader profesional, penguatan ekonomi, serta laboratorium dakwah kultural global.
Wahyudin mengatakan kolaborasi ini menjadi jembatan penting untuk menyalurkan potensi kader-kader terbaik.
"Kami di Taiwan memiliki kebutuhan besar akan figur-figur yang paham agama secara mendalam untuk membimbing teman-teman pekerja dan profesional. Melalui pemetaan kompetensi ini, lulusan dari Mesir bisa langsung mengambil peran strategis begitu masuk ke wilayah Asia Timur," imbuhnya.
Gagasan tersebut disambut baik Ketua Tanfidziah PCINU Mesir, Nur Fuad, yang mengamini bahwa modal intelektual kader NU di Mesir harus dikapitalisasi menjadi "kekuatan diplomasi global yang riil," menurut rilis pers.
Menurutnya, obrolan silaturahmi dan peta jalan distribusi kompetensi ke Asia Timur akan mempercepat kiprah kader-kader NU di berbagai sektor strategis internasional sekaligus mempererat ikatan kekeluargaan antarpengurus luar negeri.
PCINU Taiwan mengatakan silaturahmi di Kairo ini diharapkan menjadi pemantik awal untuk konsolidasi yang lebih luas dan terarah di antara PCINU sedunia.
"Lewat sinergi yang semakin erat, PCINU berkomitmen kuat untuk menampilkan diri sebagai etalase utama Islam Rahmatan lil 'Alamin yang konkret di panggung internasional, sekaligus memastikan peran strategis NU semakin diperhitungkan dalam percaturan dunia," menurut rilis pers.
Selesai/IF