Taipei, 25 Jun. (CNA) Wakil Presiden Hsiao Bi-khim (蕭美琴) menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk mempertahankan status quo di Selat Taiwan demi menjaga kemakmuran regional, dengan menyebut Taiwan sebagai "penstabil" dan "pembangun perdamaian" dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan merupakan komponen yang tak terpisahkan dari kemakmuran global, sebagaimana telah disoroti oleh Amerika Serikat dan banyak pihak lainnya, kata Hsiao dalam wawancara dengan "American Thought Leaders," sebuah program dari The Epoch Times.
Hsiao mengatakan kemitraan keamanan antara Taiwan dan AS "telah memungkinkan kita semua untuk mempertahankan status quo," yang ia gambarkan sebagai titik temu terbesar di antara semua pemangku kepentingan kawasan, meskipun itu bukan skenario yang ideal.
Tiongkok secara terbuka menunjukkan ambisinya untuk mencaplok Taiwan, kata Hsiao, seraya menambahkan bahwa mempertahankan status quo merupakan kenyataan pahit bagi Taipei saat menghadapi lanskap internasional yang sangat menantang.
Namun, ia mencatat bahwa status quo telah mendorong puluhan tahun perdamaian, stabilitas, dan pertumbuhan ekonomi di seluruh kawasan Indo-Pasifik.
Ketika ditanya oleh pembawa acara Jan Jekielek tentang bagaimana ia membayangkan masa depan Taiwan, Hsiao mengatakan tujuan kolektifnya adalah Taiwan yang damai, stabil, demokratis, dan kuat, di mana masyarakat memiliki kepercayaan diri yang lebih besar terhadap negara mereka dan peran yang dapat dimainkan Taiwan di dunia.
Masyarakat Taiwan berupaya menjadi negara besar dalam hal kontribusi terhadap kemajuan teknologi, kemanusiaan, serta kawasan yang lebih damai dan stabil, tambahnya.
"Pada dasarnya, kami adalah penstabil. Kami adalah pembangun perdamaian."
Ketika ditanya dalam wawancara tentang Partai Komunis Tiongkok yang menyebutnya sebagai "separatis," Hsiao mengatakan ia "menanggapinya dengan santai," menepis label tersebut, tuduhan bekerja sama dengan Amerika, dan sanksi yang diumumkan oleh Beijing.
"Kami tidak akan membiarkan Partai Komunis Tiongkok mendefinisikan siapa kami," kata Hsiao, seraya menambahkan bahwa taktik intimidasi semacam itu tidak akan menghentikannya untuk melindungi Taiwan dan bekerja sama dengan mitra internasional demi menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.