Taipei, 7 Jan. (CNA) Kementerian Luar Negeri Taiwan (MOFA) mengatakan pada Selasa (6/1) bahwa sekitar 200 warga negara Taiwan di Venezuela dalam keadaan aman setelah aksi militer terbaru Amerika Serikat di negara Amerika Selatan tersebut untuk menangkap dan menahan mantan pemimpinnya, Nicolás Maduro.
Selama akhir pekan, Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan udara di Venezuela dan menahan Maduro, yang kemudian diterbangkan ke New York bersama istrinya.
Pasangan tersebut menghadapi dakwaan federal terkait perdagangan narkoba dan dugaan kerja sama dengan geng yang ditetapkan sebagai organisasi teroris. Maduro telah membantah tuduhan tersebut.
Ketika ditanya apakah ada warga Taiwan yang terluka selama operasi militer AS, MOFA mengatakan kepada CNA bahwa kantor perwakilan Taiwan di Kolombia, yang menangani urusan terkait Venezuela, telah menghubungi semua warga negara Taiwan di Venezuela dan memastikan mereka dalam keadaan aman dan tidak terluka.
MOFA pada hari Senin (5/1) mengeluarkan peringatan perjalanan tingkat tertinggi, yaitu peringatan merah, untuk Venezuela karena situasi politik yang tidak stabil di sana.
MOFA mengimbau warga Taiwan untuk tidak bepergian ke Venezuela kecuali benar-benar diperlukan dan menyarankan mereka yang sudah berada di negara tersebut untuk segera meninggalkan Venezuela, demikian menurut pernyataan pers kementerian.
Juga pada hari Selasa (6/1), Dewan Urusan Komunitas Luar Negeri (OCAC) mengonfirmasi bahwa semua warga negara Taiwan di Venezuela tetap aman, mengutip Anderson Yu (游鈞聿), seorang pemimpin Kamar Dagang Taiwan di negara tersebut.
OCAC mengatakan bahwa mereka telah membentuk asosiasi bantuan darurat untuk warga Taiwan di luar negeri di Venezuela pada tahun 2018, yang telah diaktifkan sebagai respons terhadap krisis terbaru ini.
Menurut data OCAC, saat ini terdapat 17 bisnis Taiwan yang beroperasi di Venezuela, dengan kegiatan meliputi suku cadang otomotif, pengolahan makanan, kosmetik, kamera pengawas, budidaya anggrek, serta layanan akupunktur dan pijat.
Selesai/ja