Oleh Lin Meng-ju dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA
Di sebuah pusat perawatan di Kabupaten Changhua, seorang lansia penderita demensia sedang berkongko (mengobrol) dengan agen virtual kecerdasan buatan (AI), dengan gembira menceritakan cucunya yang bekerja di Taipei akan pulang menjenguknya.
Ini bukan adegan dari film fiksi ilmiah, melainkan penerapan nyata teknologi AI generatif dan interaksi multimodal oleh perusahaan rintisan Taiwan, BarkingDog Technology Inc., di sebuah pusat perawatan harian di daerah Taiwan tengah itu.
Pandemi jadi titik balik
Didirikan pada 2018, BarkingDog dibangun Hsu Guan-wen (許冠文), doktor teknik telekomunikasi National Taiwan University. Ia merantau ke Kaohsiung untuk memulai bisnis, dan mengajukan subsidi penelitian dan pengembangan usaha kecil dan menengah dari pemerintah kota serta Institute for Information Industry.
Pada awalnya, perusahaan fokus pada perangkat lunak permainan realitas virtual (VR) dan realitas berimbuh (AR), dengan meluncurkan karya seperti gim "Magic Night Party" (魔法夜派對) dan"Qian-Shan Village" (殭屍山莊), yang memperoleh pengakuan internasional.
Namun, ketika pandemi COVID-19 merebak, Hsu menghadapi kesulitan besar. "Pasar VR memang kecil, bergantung pada toko pengalaman luring. Saat karantina wilayah, tidak ada pengunjung, jadi terpaksa tutup," katanya.
Akhirnya, tim beralih mengerjakan proyek merek dan layanan interaktif, seperti layanan panduan AI di rumah kue, maupun proyek AR di lini produksi pabrik manufaktur. Namun, karena proyek-proyek ini sangat khusus dan sulit direplikasi atau diperluas, transformasi menjadi keharusan.
Pada akhir 2022, Hsu mengajak Zoy Chiang (江宥蓁) untuk menjadi direktur operasional perusahaan. Chiang bukan hanya penasihat awal BarkingDog, tetapi juga pernah berhasil membawa teknologinya menembus pasar luar negeri. Keduanya memiliki visi yang sejalan dan memutuskan untuk mengembangkan platform AI bersama.
Era baru "Agentic AI"
"Waktu itu kami mengurung diri di Kaohsiung, mengerahkan seluruh tenaga membuat produk sendiri," kenang Chiang. Meski pada semester pertama pendapatan hanya ratusan ribu dolar Taiwan dan bisnis berjalan suram, tim tidak menyerah.
Pada paruh kedua 2023, BarkingDog resmi meluncurkan "AI Amaze", sebuah platform agen cerdas yang menggabungkan teknologi pengenalan suara, pengenalan gambar, penjawaban berbasis titik loncat video, serta percakapan multibahasa.
Dengan itu, mereka berhasil menjadi pelopor memasuki era baru Agentic AI -- AI yang bertindak atas nama manusia. Pendapatan pun melonjak hingga puluhan juta dolar Taiwan, dan paten telah diajukan.
"Dulu, kalau di Taiwan bicara tentang Agentic AI, hampir tak ada yang paham, semua tidak tahu apa yang sedang kami kerjakan," kata Chiang sambil tersenyum.
Hingga akhirnya pada pameran Consumer Electronics Show 2025, CEO NVIDIA Jensen Huang (黃仁勳) menyebut teknologi ini sebagai inti dari revolusi robotik berikutnya, dengan potensi pasar bernilai triliunan dolar Amerika Serikat (AS). "Barulah dunia tiba-tiba mengerti," ujar Chiang.
Chiang menambahkan, "Ketika 'AI Amaze' baru diluncurkan, waktu respon tanya-jawab AI sekitar dua detik. Kini setelah digabungkan dengan ChatGPT, bisa dipersingkat menjadi 1,5 detik, responsnya alami dan lancar."
"Ditambah lagi sudah terintegrasi dengan multibahasa, pelacakan mata, pengenalan gerakan tangan, sehingga menjadi solusi virtual agen cerdas yang dapat diterapkan secara nyata," ujarnya.
Saat ini, sistem tersebut telah digunakan di berbagai bidang, termasuk pemandu wisata, pemesanan makanan di restoran, layanan pelanggan cerdas, hingga perawatan jangka panjang.
Salah satunya, versi ritel cerdas yang bekerja sama dengan Mercuris F&B Co., berhasil meraih penghargaan Inovasi Terbaik dalam Best AI Awards 2025 dari Kementerian Urusan Ekonomi (MOEA) Taiwan.
AI pangkas hambatan komunikasi
Chiang menegaskan, "Nilai AI terletak pada kemampuannya mengambil alih pekerjaan yang sifatnya repetitif, yang enggan dilakukan manusia, atau meningkatkan kemampuan respons dan kapasitas dalam menangani masalah kompleks."
Ia mencontohkan, setelah diterapkan di industri restoran, AI tidak hanya dapat membantu melatih pegawai baru, tetapi juga memungkinkan staf cukup memberikan perintah suara, lalu video pelatihan dapat otomatis melompat ke bagian relevan, sehingga meningkatkan efisiensi di lapangan.
Bidang aplikasi penting lainnya adalah industri manufaktur tradisional seperti tekstil , di mana agen virtual AI dapat membantu menerjemahkan bahasa Vietnam, Indonesia, serta bahasa Mandarin dan Taiwan, sehingga mengatasi hambatan komunikasi antara pekerja migran dan teknisi senior.
Sementara itu, di bidang perawatan jangka panjang, layanan AI yang diterapkan bersama Rumah Sakit Show Chwan menunjukkan hasil yang signifikan.
"Ada lansia yang enggan berbicara dengan perawat, tapi mau mengobrol dengan AI, mendengarkannya bernyanyi dan menari, bahkan mengingatkan bahwa jam 4.30 sore harus pulang naik mobil," kata Chiang.
Sistem percakapan semacam ini tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga mampu mengingat hewan peliharaan, keluarga, serta kesukaan lansia, sehingga secara bertahap membangun ikatan emosional, benar-benar memberikan pendampingan dan efek terapeutik, ujarnya.
Namun, sikap perusahaan terhadap teknologi baru umumnya masih konservatif. Agen virtual AI biasanya membutuhkan masa uji coba dan evaluasi berbulan-bulan sebelum benar-benar diadopsi, membuat siklus penjualannya lebih panjang dibanding produk biasa.
Untuk memperluas pasar internasional, pada Mei tahun ini, BarkingDog mengikuti SelectUSA Investment Summit 2025 di AS bersama MOEA, menjadi salah satu perwakilan perusahaan rintisan.
Menatap masa depan
Chiang menyampaikan bahwa BarkingDog telah berhasil masuk pasar Jepang, dan menandatangani kontrak distribusi dengan mitra industri. Sementara itu, ujarnya, AS memiliki kebutuhan serupa dengan Taiwan dalam bidang ritel serta pelatihan pendidikan.
Keikutsertaan mereka ke AS kali ini terutama untuk merencanakan ekspansi pasar masa depan dan mencari mitra lokal, kata Chiang. Ia mengakui karena perbedaan waktu dengan Taiwan serta keterbatasan kapasitas layanan tim saat ini, mereka harus bergantung pada tenaga lokal untuk mendukung implementasi.
Melihat ke depan, Chiang menekankan bahwa para investor memiliki ekspektasi terhadap laju pertumbuhan. Perusahaan berencana memulai proses bimbingan sebelum penawaran umum perdana (IPO) tahun depan, dengan target resmi melantai di bursa antara tahun 2026 hingga 2027.
Ia menegaskan, BarkingDog tidak hanya membuat agen virtual, tetapi mengintegrasikan seluruh pengalaman proses bisnis, sehingga AI benar-benar dapat menciptakan nilai bisnis yang terukur bagi klien. "Nilai yang digerakkan data, itulah yang sebenarnya ingin kami wujudkan."
Selesai/ML