Taipei, 18 Mar. (CNA) Seorang pria berusia 70-an tahun dari Taiwan utara telah dipulangkan setelah didiagnosis dengan sindrom demam berat dengan trombositopenia (SFTS), menandai kasus domestik ketiga di Taiwan, kata Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan (CDC) pada hari Selasa (17/3).
Pasien tersebut mencari perawatan darurat pada akhir Februari setelah mengalami gejala lemas dan demam, dan kemudian dirawat di rumah sakit, kata lembaga tersebut dalam konferensi pers rutin.
Epidemiolog CDC Lin Yung-ching (林詠青) mengatakan pasien tersebut telah keluar dari isolasi dan dipulangkan setelah lebih dari dua minggu.
Sumber infeksi masih dalam penyelidikan.
Lin mengatakan penyakit ini terutama ditularkan melalui gigitan kutu, tetapi juga dapat menyebar antar manusia.
Sembilan kontak, termasuk anggota keluarga dan tenaga medis, telah diidentifikasi dan sejauh ini tidak ada yang menunjukkan gejala, dengan pemantauan akan terus dilakukan hingga 26 Maret, kata Lin.
CDC dan otoritas kesehatan setempat melakukan investigasi lingkungan di kediaman pasien pada 12 Maret dan telah menyelesaikan pengambilan sampel, kata Lin.
Tidak ditemukan kutu di dalam rumah atau pada hewan peliharaan, kata Lin. Sebanyak 16 kutu dikumpulkan di luar rumah, tetapi tidak ada yang dinyatakan positif mengandung virus.
Direktur Pusat Intelijen Epidemi Taiwan CDC, Kuo Hung-wei (郭宏偉), mengatakan Taiwan sebelumnya mencatat kasus SFTS domestik pada tahun 2019 dan 2022.
Kuo mengatakan SFTS pertama kali dilaporkan di Tiongkok pada tahun 2009 dan sejak itu telah dilaporkan di Jepang, Korea Selatan, Vietnam, Myanmar, dan Thailand, dengan penyebaran dan ekspansi geografis yang terus berlanjut di Asia Timur dalam beberapa tahun terakhir.
CDC mengatakan gejala termasuk mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan, bersama dengan demam yang disertai penurunan trombosit dan sel darah putih.
Kasus berat dapat menyebabkan kematian akibat kegagalan multi-organ, dengan tingkat fatalitas sekitar 5 persen hingga 15 persen, menurut CDC.
Selesai/IF