Taipei, 18 Mar. (CNA) Sebanyak 30 kilogram minyak kenari yang diimpor dari Prancis baru-baru ini ditahan di perbatasan setelah hasil uji menemukan adanya zat pewarna tembaga klorofilin A, yang dilarang digunakan dalam minyak yang dapat dimakan.
Direktorat Jenderal Pengawas Obat dan Makanan Taiwan (TFDA) mengatakan pada hari Selasa (17/3) bahwa minyak kenari tersebut diimpor oleh sebuah perusahaan Taiwan yang mengiklankan produknya sebagai alami, tidak beracun, dan ramah lingkungan.
Namun, hasil pengujian menunjukkan bahwa minyak tersebut mengandung 0,1 bagian per juta (ppm) tembaga klorofilin A, yang tidak diizinkan dalam produk minyak yang dapat dimakan berdasarkan Standar Spesifikasi, Lingkup, Aplikasi, dan Batasan Bahan Tambahan Pangan Taiwan, kata lembaga tersebut.
Pengiriman tersebut harus dikembalikan ke eksportir atau dimusnahkan, kata TFDA.
Liu Fang-ming (劉芳銘), direktur Pusat Manajemen Taiwan Utara TFDA, mengatakan tembaga klorofilin A adalah pewarna makanan yang disetujui, tetapi penggunaannya dibatasi hanya untuk produk tertentu seperti permen karet.
Zat ini tidak diizinkan dalam minyak yang dapat dimakan atau makanan pokok seperti mi, yang biasanya dikonsumsi dalam jumlah besar, karena alasan keamanan pangan.
Liu mengatakan peraturan tersebut dimaksudkan untuk memastikan bahwa makanan pokok seperti minyak yang dapat dimakan tetap mempertahankan warna alaminya.
Karena temuan ini, importir akan menghadapi pemeriksaan yang lebih ketat untuk pengiriman berikutnya, sementara produk minyak kenari dari Prancis juga akan dikenakan pengawasan lebih ketat di perbatasan.
Secara terpisah, TFDA juga mengatakan telah menahan 1.400 kg biji ketumbar dan biji jintan yang diimpor dari India setelah mendeteksi beberapa residu pestisida, termasuk asetamiprid dan klorpirifos.
Produk-produk tersebut juga harus dikembalikan atau dimusnahkan, kata lembaga itu.
Selesai/IF