Dugong kembali muncul di dekat Taiwan setelah 88 tahun

29/03/2025 14:35(Diperbaharui 29/03/2025 14:35)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Seorang nelayan bermarga Chen di Yilan menemukan seekor dugong yang terperangkap dalam jaringnya pada Selasa pagi. (Sumber Foto : Nelayan)
Seorang nelayan bermarga Chen di Yilan menemukan seekor dugong yang terperangkap dalam jaringnya pada Selasa pagi. (Sumber Foto : Nelayan)

Taipei, 29 Mar. (CNA) Dugong, yang diyakini sebagai inspirasi dari legenda "putri duyung", kembali ditemukan di lepas pantai Kabupaten Yilan, 88 tahun sejak terakhir kali tercatat di Taiwan pada 1937.

“Legenda indah kembali muncul di Taiwan!” ujar Jeng Ming-shiou (鄭明修), Direktur Eksekutif Pusat Penelitian Biodiversitas Academia Sinica.

Ia menyampaikan kepada CNA bahwa dugong Indo-Pasifik saat ini diklasifikasikan sebagai spesies "rentan" oleh Daftar Merah International Union for Conservation of Nature, sementara di Taiwan dianggap sudah “punah".

Pada 25 Maret pagi, seorang nelayan bermarga Chen () di daerah Dong’ao, Yilan, menemukan dugong sepanjang sekitar 3 meter dan seberat sekitar 500 kilogram terperangkap dalam jaring tetap miliknya, dan telah dilepas kembali ke laut.

Lewat rekaman video, Jeng kemudian mengonfirmasi bahwa hewan itu adalah dugong Indo-Pasifik, mamalia laut langka yang sangat penting bagi Jepang.

Menurut Jeng, pada 1937 seorang nelayan di Taiwan utara pernah menangkap seekor dugong yang kemudian dikirim ke Jepang untuk dijadikan spesimen. Sejak itu, tidak ada lagi catatan penangkapan, ujarnya.

Ia mengatakan bahwa pada 1986, pernah ada dugong yang terdampar di Xiaoliuqiu -- sebuah pulau di sekitar 13 kilometer barat daya Pulau Taiwan.

Namun, ujar Jheng, di Pulau Taiwan dan pulau-pulau sekitarnya tidak ditemukan lagi jejak dugong, apalagi penemuannya dalam keadaan hidup seperti kali ini, sesuatu yang ia katakan sangat luar biasa.

Ia menjelaskan bahwa dugong adalah mamalia laut yang jinak dan berenang lambat, biasanya hidup di perairan dangkal seperti di Pulau Ishigaki (Jepang), Asia Tenggara, dan Samudra Hindia. 

Dugong dahulu banyak diburu oleh manusia, sementara habitat dan lingkungan lautnya terganggu, menyebabkan populasinya menurun drastis, katanya.

(Oleh Shen Ju-feng dan Antonius Agoeng Sunarto)

Selesai/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.